Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Agama

Sumber Kutipan Turas; Bukti Daya Jangkau Ilmu

     Sudah dua pekan membran otak saya riuh tak berkesudahan. Penyebabnya sederhana, kutipan langsung yang dibubuhkan penulis kitab belum lagi saya temukan. Antara kesal dan bingung lah otak menari. Tarian itu makin menjadi ketika tiga hari sebelumnya saya menghadapi hal yang sama. Dan kian tajam ketika malam ini saya mengalami hal serupa.      Dalam penulisan kitab, wabil khusus kitab babon Turas, kutip-mengutip pendapat adalah kebiasaan. Hanya saja, terdapat perbedaan dalam teknik mengutip penulis kontemporer. Penulis kitab Turas, setelah mengutip pendapat orang lain secara langsung atau bukan, seringkali hanya menyebut nama penulis yang dikutip. Tak jarang juga disertai judul kitabnya sekalian. Dan sering juga hanya dipadai dengan judul kitab saja ketika penulis kitab itu sudah terlalu masyhur dengan kitabnya. Jangan tanya halaman dan jilidnya. Tidak ada itu.      Dalam pada itu, belakangan ini, ketika saya sedang melakukan pelacakan kutip...

Wasiat Dini Hari

Ketika Anda membaca literatur Islam, disiplin ilmu mistik atau tasawuf khususnya, Anda akan menemukan anjuran untuk menulis wasiat pada selembar kertas, lalu menyimpannya di bawah bantal, sebelum tidur malam. Lebih aneh lagi, tindakan itu dinilai sunah (bermakna terpuji atau baik secara syariat). Artinya tindakan itu dianjurkan dalam agama. Hal tersebut adalah salah satu dari beberapa anjuran Rasulullah bagi orang yang hendak tidur. Begitu kita selesai bersuci, kasur sudah dibersihkan, di saat itulah kita disunahkan menulis wasiat pada secarik kertas, lalu disimpan di bawah bantal. Kemudian membaca ayat quran, doa-doa yang masyhur, untuk kemudian memejamkan mata. Macam mau mati besok, saja, kan? Kok, iya, agama menganjurkan melakukan hal-hal yang mengerikan semacam itu. Seolah malam itu menjadi malam terakhir kita. Persoalan ini makin irasional ketika kita mempertanyakan, jika pun esok tidak mati apa gunanya wasiat yang sudah ditulis itu? Bukankah menggunakan tinta dan kertas untuk...

Bekal Gaya Hidup: Sabar

Salah satu sifat terpuji yang paling dianjurkan agama untuk dimiliki ialah sabar. Sabar, sama seperti sifat terpuji lainnya, banyak dimiliki oleh choosen people , manusia pilihan Allah. Mulai dari para Rasul, shalihin, auliya, hingga ulama. Karena itu, sifat sabar adalah sifat yang agung. Artinya, siapa yang memiliki diyakini ia memiliki jiwa yang berkualitas top one menurut Tuhan. Sabar banyak ditafsirkan sebagai satu sifat menahan diri dari segala hal yang datang dari luar diri, termasuk godaan, cobaan, bahkan hingga pemberatan hukum syariat. Definisi itulah yang tergambar dalam klasifikasi sabar dalam tiga bagian; sabar pada cobaan; sabar pada godaan nafsu; dan sabar pada ketaatan. Hasilnya, bisa dipastikan akar makna sabar ialah menahan diri, dan itulah makna yang diberikan bahasa. Jika sabar adalah menahan diri, maka gegabah, dalam bahasa arab disebut 'ajlah , adalah antonimnya. Gegabah adalah sifat menyegerakan sesuatu dari seharusnya. Waktu salat belum salat, tapi anda ma...

Asbab Keagungan Mazhab Asy'ari

Antara curiga dan cemburu di sana ada rindu. Tidak berlebihan kiranya menamsilkan mazhab teologi Asy-'ary sebagai rindu antara dua kutub bersebrangan yang tak terjembatani; Qadariyah dan Jabariyah. Lebih awal dari ini sudah jamak diketahui akan kesterilan dan kemurnian mazhab Asy-'ary. Para ulama menamsilkannya dengan susu yang berada antara darah dan nanah. Demikian mazhab Asy-'ary tumbuh dan berkembang ke 3/4 bumi. Cikal bakalnya yang heroik serta sejarah perkembangannya yang tak lepas dari pengawalan dan penjagaan serta pembaharuan oleh setiap ulama di generasi ke generasi menjadikan mazhab teologi yang satu ini terus kukuh dikaji, diajarkan dan dijadikan sumber landasan berlogika dalam ketuhanan.   Keagungan mazhab Asy'ari sebagai pilar aqidah Ahlu al-Sunnah wa al-Jamaah tidak terlepas dari peran dan kontribusi ulama-ulama masa lalu dalam mengembangkan mazhab Asy'ari sebagai mazhab yang mempunyai integritas tinggi serta kekokohan dalam membentengi aqidah Rasullu...

Memahami Cinta Menjelmakan Makna (Bagian Empat)

·         Cinta Manusia kepada Allah Setelah cukup paham cinta Allah kepada manusia dengan dua jenisnya; rabbany dan kasby , tiba juga pada kesempatan memahami “membalas” cinta Allah. Tepatnya bagaimana manusia mencintai Allah. Dan adakah cinta ini layaknya cinta Allah kepada manusia dengan dua jenisnya? Untuk ini mari barengan kita mengeja kelanjutan hidangan Syaikh Said Ramadhan al-Buthi. Sebelum melaju lebih ke depan perlu rasanya untuk memastikan bahwa makna cinta di sini tetap sebagaimana yang telah diurai pada pendahuluan. Dalam arti memang cinta manusia kepada Allah adalah terpaut hati manusia dengan pencipta. Dengan ini dapat dimafhumi—sebagaimana pada pendahuluan—perbedaan terang antara cinta Allah kepada manusia dengan cinta manusia kepada Allah. Dengan perbedaan pada maknanya ini berbeda pula penjelmaan makna cinta Allah kepada manusia; melalui pemuliaanNya kepada manusia; dan kebersamaan Allah beserta manusia yang dicintaiNya. Sedangk...

Memahami Cinta Menjelmakan Makna (Bagian Tiga)

Manusia dengan keperkasaannya sebagai pewaris dan pelaksana tugas Allah yaitu memakmurkan bumi memiliki kesempatan dan keluangan untuk menyuburkan cinta Allah kepadanya. Yaa, sebagaimana Syekh Sa'id Ramadhan al-Buthti berujar bahwa manusia mendapatkan momen untuk menyemai cinta Allah kepadanya lewat tugasnya sebagai pelaksana tugas(Khalifah) Allah dan melaksanakan berbagai taklif hukum. Dengan dua proses itu dalam satu momen yang berharga manusia dapat memiliki cinta besar Allah kepadanya, dimana telah kita namakan cinta itu sebagai cinta Kasby. Bukanlah mustahil kita mengajukan soal "Bagaimana bisa kita menyadari bahwa kita sudah atau belum mendapatkan cinta Kasby itu hingga kita dapat menyadari bahwa Allah mencintai kita? Dan apa yang menjadi tanda kita telah dicintai oleh Allah? Kabar gembiranya Syekh Sa'id Ramadhan al-Buthti menawarkan jawaban yang memuaskan. Beliau menjawab, bahwa setiap muslim yang berislam dengan baik tentu mendapatkan porsi cinta Kasby...

Memahami Cinta Menjelmakan Makna (Bagian Dua)

Sebelumnya kita cukup memahami definisi dari cinta. Serta spektrum dari definisi itu hanya pada batas cinta sesama makhluk, tidak termasuk cinta Allah kepada hambaNya. Untuk yang terakhir itu, kita akan coba memahami apa itu cinta pada Allah. Bagaimanakah maksud dari pernyataanNya dalam al-Quran "Sungguh Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan" dan semacamnya. Sejauh mana pula jangkauan Cinta yang pada Allah. Karena demikian kita masih akan memahami lewat penuturan jelas Imam as-Syahid Ramadhan al-Buthti. Cinta Allah Kepada Manusia Beliau menerangkan, bahwa cinta yang ada pada Allah tidak ubahnya seperti makna pengalamatan sifat-sifat tasyabuh (yang samar-samar maknanya) kepada Dirinya sendiri. Seperti halnya Allah menisbahkan "tangan", "wajah", " istiwa '", dan lain lain. Dimana hal itu tidak ditakwil kepada makna lain, tidak juga diartikan dengan sesuatu yang dapat menyerupakan Allah dengan selainNya. Inilah jalan pemahaman yan...

Menjadi Adil Sejak Dalam Pikiran

Segenap keutamaan manusia yang dianugerahkan oleh Allah tidak luput dari keharusan mengenal dan memahami keutamaan itu sendiri. Hal ini dapat membentuk manusia untuk tidak serampangan dan ugal-ugalan dalam memanfaatkan keutamaan itu. Satu dari lain keutamaan ialah anugerah akal. Akal dengan segala kelebihannya memiliki kedudukan yang agung bagi manusia sendiri. Bahkan, menurut pendapat yang mengatakan akal berada di mercu kepala, ia menempati posisi yang tinggi dalam struktur tubuh Manusia. Hal demikian mendukung keyakinan kita bagaimana Allah menghendaki akal itu harus dijaga dan dipelihara serta dimuliakan. Tak ayal, memelihara akal termasuk dalam salah satu dharuriyat khamsah (5 hal umum yang mutlak), yang menjadi hikmah dalam setiap penetapan hukum syariat. Sementara demikian, akal dengan sifat sterilnya sekaligus mempunyai supremasi atas tindak tanduk seorang manusia, menjadi sangat penting dirawat dengan memberi asupan yang cukup. Itulah ilmu pengetahuan. Dengan jati dir...

Memilah Dugaan: Antara Celaka Atau Bijaksana

Makin ke sini orang-orang makin mudah memanipulasi sesamanya berkat tekhnologi. Atau boleh juga dikatakan begitu mudah terpapar dengan duga-dugaan buruk nan lemah. Tidak lain sumbernya dari tong media sosial. Tempat di mana sampah-sampah bersarang. Dengan hanya memiliki sekelumit kabar dan informasi, sudah cukup menduga sekehendak hatinya. Sepantasnya berkelana di media sosial, melihat timeline Twitter, Instagram dan kawan-kawannya tidak berbeda kaedahnya dengan berinteraksi dalam dunia nyata. Bahkan, sekian dari etika-etika terpuji dalam kehidupan nyata tidak boleh tidak juga diwujudkan dalam berselancar di dunia nir-nyata. Pasalnya, meninggalkan etika-etika positif itu ujungnya akan menjatuhkan pengguna dalam kegelapan hati, prasangka murahan dan akibat buruk lainnya. Tak ayal, ada ulama secara khusus mengarang kitab yang membahas etika berinteraksi di dunia nir-nyata. Sebut saja salah satunya, buah pena Ali Muhammad Syauqi dengan tajuk " Alfisbuk. Adabuhu Wa Ahkamuhu ...

Tawakal, Antara Pelarian Atau Penyerahan

Kesempatan kali ini mari kita buka pembahasan dengan Ayat-Nya yang bersentuhan dengan topik, serta untuk mengambil keberkahan. Allah berfirman: َوَعَلَى الَّلهِ فَلْيَتَوَّكَلِ المُؤْمِنُوْن Penggalan ayat tersebut pertama kali bisa ditemukan dalam al-Quran pada surat al-Baqarah ayat 122. Secara total ayat yang menyampaikan pesan yang sama terhitung sebanyak 9 kali; dengan  objek Mukmin 8 kali dan sekali dengan objek Mutawakkilin . Melihat tidak sedikitnya dihubungkan lafaz tawakal dengan objek mukmin maka tidak mengapa disimpulkan saat ini ayat yang berbicara tentang tawakal memiliki pengaruh yang besar dalam tingkat kualitas iman hamba. Lalu bagaimana yang dimaksud dengan tawakkal ? Sebelum melanjutkan lebih dalam, rasanya ayat ini perlu diulas lebih dahulu lewat susunan kalimatnya. Dalam ilmu Ma'ani, salah satu sub pembahasan ilmu balagah, dikenal adanya istilah Hasr . Ia adalah "Mendahulukan sesuatu yang seharusnya terletak di akhir".  Ayat di ata...

Jangankan Pintar, Bodoh Saja Tidak Punya

Judul tulisan ini saya pinjam dari judul buku Alm Rusdi Mathari (Semoga Allah lapangkan kuburnya) yang bertajuk "Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya", yang sampai saat ini saya belum dikaruniaiNya untuk memiliki buku itu. Namun, hampir saban hari judul buku itu terngiang di membran otak saya.  Lalu, saya hendak mencoba mengulik lebih dalam makna dari penggalan tajuk itu. Dan itu menarik, setidaknya bagi saya. Tidak dapat disalahkan kalimat di atas saat kita memakai kacamata hakikat, ialah manusia tidak memiliki apa-apa, sama sekali. Tidak ada. Bahkan dirinya sendiri, meski bodoh sekalipun. Dalam pada ini, Tuhan yang bersifat Maha Murah lagi Sayang, menganugrahi satu jenis alat yang tidak kasatmata kepada manusia, dimana kegunaan agung lagi utama alat itu ialah mencari, menggali dan meneguk pengetahuan, serta menjadi wadah. Ya, itulah akal.  Dengannya manusia bisa meminjam pengetahuan-pengetahuan yang dititip oleh Tuha...

Biar Semangat Belajarnya Tidak Sia-sia

Setiap aktifitas dalam melaksanakan suatu proses tertentu tidak boleh sunyi dari passion atau disebut dengan semangat. Apa saja, bahkan hal remeh temeh pun perlu digandengi dengan semangat. Makin besar tujuan yang ingin diraih makin besar pula semangat dalam prosesnya diperlukan. Wa bilkhusus proses belajar agama, diperlukan semangat yang agung, tentunya. Bukan tanpa sebab, karena ilmu adalah tujuan mulia, tak kurang jebakan serta banyak rintangan. Pendahulu pun begitu mewanti-wanti untuk mewujudkan dan menjaga semangat belajar. Tanpa semangat ia proses belajar hanya akan berjalan di tempat. Di saat yang sama, pendahulu kita tidak lupa juga mewariskan cara dan metode belajar yang telah terbukti keberhasilannya. Ini menjadi dalil semangat dan cara harus bergandengan tangan.  Tanpa, cara metode dan strategi yang benar maka belajar akan kacau. Tak berarah. Kalau pun terarah ia hanya akan bertahan sekejap. Karena ia begitu dibutuhkan bukan berarti dengan memiliki...

Perihal Berdoa, Syaitan Masih Lebih Berani

Konon, doa menjelma senjata muslim. Berdoa sampai saat ini dan akan datang terus dianjurkan Allah. Berdoa dalam praktiknya merupakan sebagai bentuk pernyataan diri akan kelemahan dan ketidakberdayaan, sebagai ajang berduaan dengan Tuhan, sebagai media berbincang mesra denganNya.  Namun meski ayat dan hadis yang menganjurkan untuk berdoa telah cukup kita pahami bukan tidak mungkin dalam kenyataan kita kerap malu atau bahkan enggan bermesraan dan mengemis pati kasih pada Tuhan. Ini tidak dapat diingkari. Entah apa pun sebabnya kita seperti malu-malu kucing berdoa pada Tuhan, alih-alih menyembunyikan permintaan pada Sang Maha Mengetahui. Salah satu berita yang sudah cukup acap kita dengar tentang berdoa ialah "Allah begitu dekat dengan hamba lagi Dia Maha mengabulkan permintaan, maka mintalah apa yang engkau kehendaki Allah akan mengabulkannya".  Dalam kesempatan lain, boleh jadi kita bukan meminta dikasihani malah memerintah Tuhan untuk mencukupi apa yang diingini oleh...

Jangan Menyawah Dengan Gigi

Untuk menerangi sikap orang yang suka bertanya “Dalilnya mana?” Masalah ini sudah lama terpenjara di pikiran saya. Tetapi saya tidak ingin buru-buru membahasnya, saya ingin mengeraminya lebih dulu agar ketika menetas dalam bentuk tulisan ia tidak akan koem. Sebagai muslim dan mukmin yang budiman tentunya dalam beragama kita telah lebih dahulu tahu menahu dan menyadari bahwa sesungguhnya dalam beragama kita membutuhkan ilmu yang memadai/fardhu ain. Tanpa itu kita akan buta, praktek keagamaan kita amburadul tak karuan. Sebab itu banyaklah dari kita umat muslim belajar agama, di samping selaras dengan kewajiban dan kewajaran. Ketika belajar agama ada sebagian kecil dari kita yang terus mendalami agama, menyelami mencari mutiara-mutiara ajaran. Sedangkan sisanya yang banyak mencukupi diri dengan ilmu seadanya untuk beramal. Sedangkan di sana ada juga manusia lain yang hanya mengetahui ajaran agama dengan mengikuti pengajian di satu majelis ta’lim ke majlis ta’lim lainnya. ...

Ampunan Yang Dicandai

Tidak kurang dari sepuluh kali Allah menfirmankan tentang kemurahanNya memberi maaf kepada hamba. Bahkan yang cukup majemuk diketahui, selain menduakanNya, semua dosa dan kesalahan hamba diampuni.  Pengampunan sepenuhnya didapatkan dengan ketentuan yang sudah baku. Ialah Taubat. Secara vokabuler Taubat bermakna; kembali ke jalan yang benar; menyesali kesalahan yang telah lalu. Dari sekian dosa yang ada, dosa besarlah yang dihapus oleh pertaubatan. Adapun dosa kecil, tidak sedikit Tuhan meletakkan momentum untuk menghapusnya. Mulai dari istighfar, bertasbih, puasa dan tindakan kebaikan lain yang tak terkira jumlahnya. Untuk saat ini, membuktikan bahwa pemberian maaf Allah kepada hamba luas nian.  Barangkali kita juga pernah mendengar kabar bahwa Allah mengatakan "Usahlah berputus asa dari pengampunanKu. Sebab pengampunanKu lebih luas, lebih besar, lebih dalam dari dosa-dosa kalian. Dosa kalian tidak berbanding secuil pun dengan pengampunanKu. Maka teruslah meminta ampu...

Khawatir Yang Dahsyat

Kecemasan dan kekhawatiran ialah dua dari sekian sifat alamiah manusia. Bila tak ada maka manusia kurang dari setengah sempurna. Bila berlebihan hampir mungkin membuat manusia gila. Karenanya sesuatu itu baik pada pertengahan, meski tidak semuanya. Kecemasan ini lahir dari masa depan. Berdiri di setiap lorong lintasan kehidupan. Saya kira, ia terlebih dahulu lahir dari kita. Allah menyebutkan dalam kitab suciNya, bahwa hanya orang yang beriman (percaya sepenuhnya) kepadaNya lah yang tidak ada ketakutan, kecemasan dan kebimbangan. Maksudnya, Allah memberi karunia kepada hamba yang beriman berupa kekuatan untuk menetralkan rasa kecemasan.  Satu dari beberapa bagian kecemasan manusia ialah tentang bagaimana akhir hidupnya dan apa yang akan menantinya setelah melewati stadium kehidupan kedua ini. Kekhawatiran ini mengungguli kekhawatiran akan ada-tidaknya makanan untuk esok. Ia tampak lebih menyeramkan dari pada kecemasan akan seperti apa jodoh kita ...

Agar Tak Melampaui Batas

Apa saja yang berlebihan itu tidak baik. Cinta dan benci tak terkecuali. Kita, manusia yang paripurna telah memiliki naluri untuk mengikuti yang benar sekaligus lari dari yang salah. Sebagai makhluk yang sempurna, kita tidak bisa tidak memiliki keyakinan tertentu termasuk mengantongi sosok panutan bagi kita. Dalam perihal keduniaan tentu kita mengidola seseorang atau bisa jadi jalan pemikirannya. Mulai mengidolakan si Song Hye Kyo hingga Karl Marx. Sudah barang tentu, apa yang oleh Sang idola ucapkan dan lakukan kita akan mengakuinya--setidaknya. Lebih lanjut, dalam perkara keagamaan kita bahkan tidak luput dari pemikiran tertentu berikut dengan jalan pemikirannya. Agar ummat tidak salah memilih idolanya, Allah sudah menuturkan dalam Al-Quran supaya menjadikan Nabi Muhammad sebagai panutan yang sempurna lagi paripurna sampai hari kiamat tiba. Agama islam, sama sekali tidak melarang—bahkan menganjurkan—umatnya  untuk mengidolakan sesosok ulama, habaib dan orang utama yang l...

Selfie Syar'i

Tidak ragu lagi, bahwa cermin amat perlu di dunia ini. Kalaulah tidak adanya, sungguh kendaraan akan sering menghantam kendaraan lainnya, berkali-kali lelaki akan salah menata rambutnya, juga wanita 'kan tak kunjung selesai membereskan kosmetiknya. Kita tidak akan berbicara tentang kapan dan bagaimana cermin ditemukan. Sebab, kita tau, yang memberi pantulan itulah cermin. Melihat air, ia akan membalas melihat. Memandang kaca, ia lebih membalas memandang lekat. Karena itu, sembari ngemil dan ngopi di akhir pekan, bolehlah kita mengkaji balik nasihat menyehatkan Khalifah Umar bin Khattab. Beliau mengamanatkan: حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا ، وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا ، فَإِنَّهُ أَهْوَنُ عَلَيْكُمْ فِي الْحِسَابِ غَدًا . "Hisab lah dirimu sebelum engkau dihisab di hari kiamat. Timbanglah dirimu sebelum engkau ditimbang. Karena demikian akan membuatmu ringan di hari pembalasan." Adalah maksudnya, setiap kita diwasi...

Agar Wadah Kita Luas

Agama Islam secara terang-terangan menyuruh pemeluknya untuk menuntut ilmu. Hal ini tak terkecuali bagi siapapun. Karena hal itu titah agama maka ia tak lepas dari tujuan. Tujuan dari menuntut ilmu antara lain agar lenyap kebodohan, tahu mana yang benar dan salah. Dan yang paling esensial adalah agar "wadah" kita luas.  Tujuan yang terakhirlah yang patut dianggap penting dewasa ini. Meski dari lenyapnya kebodohan keluasan wadah akan luas dengan sendirinya juga. Namun, masalahnya, betapa dari kita yang agaknya sudah lenyap kebodohan, tapi masih saja wadahnya kurang luas.  Ah, iya, saya hampir lupa memaknai "wadah". Maksudnya adalah alam pikiran atau khazanah keilmuan. Karena, begitu seseorang sudah luas wadahnya maka apapun bisa masuk dalam pikirannya. Orang itu akan tidak mudah kaget dan terkejut dengan perbedaan yang ia dengar karena ia dapat memakluminya. Bukan tanpa alasan saya menulis masalah ini. Adalah kenyataan mengungkapkan bahwa sebagian dari...

Semangat Maulid

Telah kita sepakati bahwa Nabi Muhammad lahir pada hari Senin tanggal 12 bulan rabiul awal. Kita sebagai umat terkasihnya, tentulah berbahagia menyambut dan merayakannya. Beraneka sambutan yang didekasikan kepadanya banyak kita temukan di belahan bumi kita, juga di belahan bumi lain. Dari berbagai macam sambutan itu adalah kita sekarang agaknya masih saja duduk-berdiri meluruskan dalil-dalil atas dasar apa ketentuan merayakannya. Aduhai. Begitu sibuk meluruskannya hingga kita lupa dengan esensi perayaan itu. Dengan begitu, bukanlah maksud tulisan ini untuk menilik dalil-dalil itu. Kita kesampingkan masalah dalil wa laka dalil, agar otak kita tak semrawut dan tak mentok pada dalil-dalil saja. Adalah para ulama masa lampau, bila bulan Rabiul Awal hampir datang mereka bersiap-siap layaknya bersiap menyambut bulan Ramadhan. Antusiasme mereka hebat bukan buatan. Mulai membaguskan niat, meninggalkan aktivitas yang tidak penting, menyiapkan berbagai aneka makanan untuk dibagikan, d...