Sudah dua pekan membran otak saya riuh tak berkesudahan. Penyebabnya sederhana, kutipan langsung yang dibubuhkan penulis kitab belum lagi saya temukan. Antara kesal dan bingung lah otak menari. Tarian itu makin menjadi ketika tiga hari sebelumnya saya menghadapi hal yang sama. Dan kian tajam ketika malam ini saya mengalami hal serupa. Dalam penulisan kitab, wabil khusus kitab babon Turas, kutip-mengutip pendapat adalah kebiasaan. Hanya saja, terdapat perbedaan dalam teknik mengutip penulis kontemporer. Penulis kitab Turas, setelah mengutip pendapat orang lain secara langsung atau bukan, seringkali hanya menyebut nama penulis yang dikutip. Tak jarang juga disertai judul kitabnya sekalian. Dan sering juga hanya dipadai dengan judul kitab saja ketika penulis kitab itu sudah terlalu masyhur dengan kitabnya. Jangan tanya halaman dan jilidnya. Tidak ada itu. Dalam pada itu, belakangan ini, ketika saya sedang melakukan pelacakan kutip...
Ketika Anda membaca literatur Islam, disiplin ilmu mistik atau tasawuf khususnya, Anda akan menemukan anjuran untuk menulis wasiat pada selembar kertas, lalu menyimpannya di bawah bantal, sebelum tidur malam. Lebih aneh lagi, tindakan itu dinilai sunah (bermakna terpuji atau baik secara syariat). Artinya tindakan itu dianjurkan dalam agama. Hal tersebut adalah salah satu dari beberapa anjuran Rasulullah bagi orang yang hendak tidur. Begitu kita selesai bersuci, kasur sudah dibersihkan, di saat itulah kita disunahkan menulis wasiat pada secarik kertas, lalu disimpan di bawah bantal. Kemudian membaca ayat quran, doa-doa yang masyhur, untuk kemudian memejamkan mata. Macam mau mati besok, saja, kan? Kok, iya, agama menganjurkan melakukan hal-hal yang mengerikan semacam itu. Seolah malam itu menjadi malam terakhir kita. Persoalan ini makin irasional ketika kita mempertanyakan, jika pun esok tidak mati apa gunanya wasiat yang sudah ditulis itu? Bukankah menggunakan tinta dan kertas untuk...