Langsung ke konten utama

Merangsang Semangat Keilmuan

Semua ini gara-gara  Tgk Jazuli   yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide  Baba Shafiya   kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...

Selfie Syar'i




Tidak ragu lagi, bahwa cermin amat perlu di dunia ini. Kalaulah tidak adanya, sungguh kendaraan akan sering menghantam kendaraan lainnya, berkali-kali lelaki akan salah menata rambutnya, juga wanita 'kan tak kunjung selesai membereskan kosmetiknya.
Kita tidak akan berbicara tentang kapan dan bagaimana cermin ditemukan. Sebab, kita tau, yang memberi pantulan itulah cermin. Melihat air, ia akan membalas melihat. Memandang kaca, ia lebih membalas memandang lekat.

Karena itu, sembari ngemil dan ngopi di akhir pekan, bolehlah kita mengkaji balik nasihat menyehatkan Khalifah Umar bin Khattab.
Beliau mengamanatkan:

Ψ­َΨ§Ψ³ِΨ¨ُوا Ψ£َΩ†ْفُΨ³َΩƒُΩ…ْ Ω‚َΨ¨ْΩ„َ Ψ£َΩ†ْ ΨͺُΨ­َΨ§Ψ³َΨ¨ُوا ، وَΨ²ِΩ†ُوا Ψ£َΩ†ْفُΨ³َΩƒُΩ…ْ Ω‚َΨ¨ْΩ„َ Ψ£َΩ†ْ ΨͺُوزَΩ†ُوا ، فَΨ₯ِΩ†َّΩ‡ُ Ψ£َΩ‡ْوَΩ†ُ ΨΉَΩ„َيْΩƒُΩ…ْ فِي Ψ§Ω„ْΨ­ِΨ³َΨ§Ψ¨ِ ΨΊَΨ―ًΨ§ .
"Hisab lah dirimu sebelum engkau dihisab di hari kiamat. Timbanglah dirimu sebelum engkau ditimbang. Karena demikian akan membuatmu ringan di hari pembalasan."

Adalah maksudnya, setiap kita diwasiatkan Umar untuk menyibukkan diri dengan melihat dan wawas terhadap diri sendiri atas apa yang telah diperoleh selama ini, apa yang telah luput selama ini. Sebab, kita akan tahu kekurangan lalu menyempurnakannya, dan keburukan lalu memperbaikinya. Dengan begitu, nanti di hari pembalasan kita tidak akan begitu sibuk mengurus segala kecacatan yang ada pada diri kita sendiri karena telah membenahi di dunia kemarin.

Lalu apa hubungannya dengan cermin?
Nah, karena sifat cermin adalah memberikan pantulan balik, maka jiwa kita bak cermin untuk melihat balik diri kita sendiri. Dengan begitu, kita akan tahu dimana ada jerawat di hati lalu membasminya, dimana ada komedo di hati kemudian memusnahkannya.

Tak harus sering-sering sekali bercermin diri. Cukup sehari sekali saja. Di akhir malam dan di ujung kesadaran sebelum tidur, amatilah foto selfie tadi siang. Pandanglah dalam-lekat. Lalu tanyakan; Apa saja kewajiban yang ditinggalkan; Berapa banyak larangan yang dilaksanakan dengan senang hati; Sudahkah memenuhi hak akal dengan mengisinya dengan ilmu, dan sebagainya.
Tak susah sekali, bukan?

Tujuannya hanya untuk menyadari kapasitas diri sendiri, memperbaiki diri sendiri, menambali kebocoran jiwa, hingga di akhirat nanti kita tidak disibukkan mengurus kecacatan itu. Bila tak ingin disibukkan dengan kecacatan punya sendiri, tentu kita lebih tidak mau mengurus kecacatan jiwa orang lain. Maka sedari di dunia kita jangan bersemangat menambali kebocoran jiwa orang lain, tapi jiwa sendiri bolong plong.

Sungguh, bila saja tiap kita sadar diri, pastilah tak banyak persoalan di negeri ini

Tabik.

Komentar

  1. Terima kasih sudah menciptakan suatu karya yang penuh dengan makna yang luar biasa πŸ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kembali atas kesediaan membaca tulisan di atasπŸ™

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Kebiasaan Kita

Tulisan ini akan menjadi sangat penting bagi pembaca yang masih bergelut dengan dunia pendidikan dayah dan semacamnya yang menggunakan kitab turas (kuning) sebagai bahan ajar.      Saat masih menjadi santri--dalam arti status murid—saya sudah diwanti-wanti oleh guru privat saya untuk tidak berburu-buru dalam belajar (mengaji dan mengulang mandiri) kitab. Pun, ketika hendak berubah status menjadi “guru”, saya diwasiatkan untuk menyiapkan bahan ajar dengan benar, betapa pun bahan ajar itu sudah berulang kali diajarkan. Dan seiring waktu, dengan melihat pengalaman dan pengamalan orang lain, serta bacaan yang kian meluas sedikit demi sedikit, adalah apa yang disampaikan guru saya itu benar adanya.       Kebiasaan yang salah, siapapun pelakunya, tetaplah salah. Kita sepakat akan hal ini. Masalahnya adalah ketika kebiasaan-kebiasaan itu lambat laun akan mengakar dan dari alam bawah sadar akan tercipta keyakinan bahwa kebiasaan itulah satu-satunya jalan yang ...

Hibernasi Telah Selesai

Tak kurang 40 hari telah berlalu, menjadi tempo hibernasi bagi kalangan santri. Sebuah ruang waktu kekosongan mengaji yang akan selalu dihasrati oleh mereka. Jika masuk lebih dalam dan lebih jujur, hasrat mereka terhadap hibernasi telah melampaui dari batas normal bagi hakikat penuntut ilmu. Namun, apa boleh buat, begitu sudah tabiat dibentuk oleh lingkungan. Tentu ada banyak hal yang mereka khawatirkan dari habis masa aktif hibernasi; dirampok waktu gembira oleh belajar, ditilap kesempatan scrolling tiktok, dibabat keseruan berlaga para karakter nirnyata. Kekhawatiran itu biasanya akan muncul dalam bentuk, minimalnya, rasa mual dan pusing dalam perjalanan menuju ke Dayah; sebuah perjalanan yang begitu terasa cepat. Kekhawatiran itu dalam sejumlah babak malah diwujudkan dalam bentuk yang mereka lebih tahu. Bagi sebagian mereka, hibernasi tempo hari itu adalah tempo mematikan pikiran ilmiah, hingga tak lagi layak disebut hibernasi. Sebab, pada momen libur, mereka lebih memaknainya se...

Merangsang Semangat Keilmuan

Semua ini gara-gara  Tgk Jazuli   yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide  Baba Shafiya   kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...