Semua ini gara-gara Tgk Jazuli yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide Baba Shafiya kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...
Judul tulisan ini saya pinjam dari judul buku Alm Rusdi Mathari (Semoga Allah lapangkan kuburnya) yang bertajuk "Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya", yang sampai saat ini saya belum dikaruniaiNya untuk memiliki buku itu. Namun, hampir saban hari judul buku itu terngiang di membran otak saya. Lalu, saya hendak mencoba mengulik lebih dalam makna dari penggalan tajuk itu. Dan itu menarik, setidaknya bagi saya.
Tidak dapat disalahkan kalimat di atas saat kita memakai kacamata hakikat, ialah manusia tidak memiliki apa-apa, sama sekali. Tidak ada. Bahkan dirinya sendiri, meski bodoh sekalipun. Dalam pada ini, Tuhan yang bersifat Maha Murah lagi Sayang, menganugrahi satu jenis alat yang tidak kasatmata kepada manusia, dimana kegunaan agung lagi utama alat itu ialah mencari, menggali dan meneguk pengetahuan, serta menjadi wadah. Ya, itulah akal. Dengannya manusia bisa meminjam pengetahuan-pengetahuan yang dititip oleh Tuhan.
Lebih jauh dari itu, manusia dalam lorong-lorong sejarah telah bisa membuktikan bahwa pengetahuan semakin ke sini semakin banyak dan berkembang biak. Dengan pengetahuan yang didapat hamba ada yang digunakan untuk memakmurkan bumi yang sejak dari penciptaan pertama memang demikianlah tugas hamba dititipkan ke bumi. Atau ada yang celaka, malah pengetahuan itu dijadikan, disadari atau tidak, senjata mematikan untuk memusnahkan apa saja bahkan bisa membumerangi diri sendiri.
Diantara sebab-sebab intern lagi mendasar dari pengetahuan yang berakibat celaka ialah merasa diri 'punya' dan 'memiliki' ilmu. Dengan perasaan kacau ini manusia dalam perilakunya bakal mendapati dirinya sendiri mampu merangkul ilmu-ilmu itu hanya dengan usaha dan upaya keras yang diyakininya sepadan dengan apa yang didapatkan.
Pendeknya, ia merasakan semua ilmu yang diketahui itu hanya karena usaha kerasnya, tanpa ada campur 'tangan' pihak Sang Maha Segala Sesuatu. Bila perasaan memiliki itu makin besar dan ganas maka bukan tidak mungkin ilmu-ilmu itu akan digunakan ke arah mana yang dikehendaki nafsu bejatnya.
Dalam hal merasa diri 'memiliki' ilmu, Ibnu Katsir dalam maha karyanya ketika menafsirkan surat al-Kahfi ayat 65 menyertakan riwayat dari Ubay bin Ka'ab yang meriwayatkan dari Rasulullah SAW, bahwa Nabi Musa AS yang mendapat julukan Kalimullah pernah mendapat teguran dari Allah sendiri ketika beliau merasa memiliki ilmu, bukannya menisbahkan kepada Allah, ketika disoalkan kepadanya oleh Bani Israil "siapa manusia paling berilmu?". Beliau menjawab "saya". Allah langsung mewahyukan kepada Nabi Musa "Aku memiliki hamba yang lebih berilmu dari pada engkau". Hamba itu yang kemudian diketahui sebagai Nabi Khaidir AS. Kejadian di atas jelas masih terekam abadi dalam surat al-Kahfi ayat 65 secara sempurna.
Begitulah cara Allah mendidik kita dalam urusan menuntut ilmu; sebanyak apapun "punya" ilmu, jangan merasa kayak punya sendiri. Semuanya milik Allah semata. Bukan kosong dari makna saat kita meyakini ilmu itu dari Allah. Justru ketika kita sadar betul ilmu itu titipanNya kita akan berupaya maksimal untuk memanfaatkannya dengan baik dan benar, dan tidak akan merasa "tinggi bahu" hanya dengan titipan itu.
Demikianlah, sepantasnya kita harus sering-sering menotifikasi diri bahwa pada hakikatnya kita tidak memiliki apa-apa, bahkan bodoh sekalipun. Bahwa ukuran dihibahkan bodoh pun masih ada ruang bagi kita untuk bersyukur atasnya dengan cara menggempur kebodohan itu sendiri. Apalagi dengan dianugrahi ilmu dan kepahaman, tak terbayangkan harus disyukuri. Hal ini bisa kita kulik sebagaimana yang dipraktekkan oleh Imam Malik ketika disoalkan padanya “kok bisa engkau begitu alim?” Beliau menjawab "Tiap kali aku paham sesuatu aku mengucakan 'Alhamdulilillah'. Dengan demikianlah Allah terus menambah kepahaman bagiku.”
Barangkali, dan saya cukup yakin, bahwa kesadaran diri tidak memiliki apa-apa merupakan makna kandungan dari ungkapan "Merasa pintar, bodoh saja tidak punya". Dan menambah wawasan ialah jalan terbaik mensyukuri kebodohan. Hingga, menghamparkan ilmu serta sadar diri adalah jalan mutlak mensyukuri ilmu dan kepahaman.
Waallahu A’lam
Komentar
Posting Komentar