Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label wawasan

Merangsang Semangat Keilmuan

Semua ini gara-gara  Tgk Jazuli   yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide  Baba Shafiya   kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...

Peci Adidas dan Sandal Mukhlis

Peci memiliki nilai sejarah yang kuat dan mengakar dalam lingkungan masyarakat pesantren. Bagi santri, peci lebih dari sekedar identitas. Peci adalah simbol kehormatan yang tak jarang melewati kehormatan serban, meski keduanya sama belaka dipakai pada anggota tubuh paling atas. Singkatnya, bagi santri, tanpa peci bukanlah santri. Kehormatan dan nilai pada peci berbanding terbalik dengan sandal. Benda yang dipakai pada bagian tubuh paling bawah itu sering kali dicap sebagai kebutuhan sekunder bagi santri, tidak seperti peci. Mereka hanya butuh alas kaki, bahkan tanpa merek sekalipun. Merek hanya akan menyebabkan sandal menjadi bulan-bulanan teman "panjang tangan", disengaja atau tidak. Maka sering nian dijumpai santri berpeci tanpa sandal, tidak sebaliknya. Tanpa alas kaki bukanlah aib sama sekali. Apa sebab? Selain jarak tempuh kaki seorang santri hanya dalam lingkungan pesantren, seluas apa pun pesantren, juga nir-alas kaki tidak ada yang memperhatikan. Artinya, ada tida...

Asbab Keagungan Mazhab Asy'ari

Antara curiga dan cemburu di sana ada rindu. Tidak berlebihan kiranya menamsilkan mazhab teologi Asy-'ary sebagai rindu antara dua kutub bersebrangan yang tak terjembatani; Qadariyah dan Jabariyah. Lebih awal dari ini sudah jamak diketahui akan kesterilan dan kemurnian mazhab Asy-'ary. Para ulama menamsilkannya dengan susu yang berada antara darah dan nanah. Demikian mazhab Asy-'ary tumbuh dan berkembang ke 3/4 bumi. Cikal bakalnya yang heroik serta sejarah perkembangannya yang tak lepas dari pengawalan dan penjagaan serta pembaharuan oleh setiap ulama di generasi ke generasi menjadikan mazhab teologi yang satu ini terus kukuh dikaji, diajarkan dan dijadikan sumber landasan berlogika dalam ketuhanan.   Keagungan mazhab Asy'ari sebagai pilar aqidah Ahlu al-Sunnah wa al-Jamaah tidak terlepas dari peran dan kontribusi ulama-ulama masa lalu dalam mengembangkan mazhab Asy'ari sebagai mazhab yang mempunyai integritas tinggi serta kekokohan dalam membentengi aqidah Rasullu...