Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label wawasan

Sumber Kutipan Turas; Bukti Daya Jangkau Ilmu

     Sudah dua pekan membran otak saya riuh tak berkesudahan. Penyebabnya sederhana, kutipan langsung yang dibubuhkan penulis kitab belum lagi saya temukan. Antara kesal dan bingung lah otak menari. Tarian itu makin menjadi ketika tiga hari sebelumnya saya menghadapi hal yang sama. Dan kian tajam ketika malam ini saya mengalami hal serupa.      Dalam penulisan kitab, wabil khusus kitab babon Turas, kutip-mengutip pendapat adalah kebiasaan. Hanya saja, terdapat perbedaan dalam teknik mengutip penulis kontemporer. Penulis kitab Turas, setelah mengutip pendapat orang lain secara langsung atau bukan, seringkali hanya menyebut nama penulis yang dikutip. Tak jarang juga disertai judul kitabnya sekalian. Dan sering juga hanya dipadai dengan judul kitab saja ketika penulis kitab itu sudah terlalu masyhur dengan kitabnya. Jangan tanya halaman dan jilidnya. Tidak ada itu.      Dalam pada itu, belakangan ini, ketika saya sedang melakukan pelacakan kutip...

Peci Adidas dan Sandal Mukhlis

Peci memiliki nilai sejarah yang kuat dan mengakar dalam lingkungan masyarakat pesantren. Bagi santri, peci lebih dari sekedar identitas. Peci adalah simbol kehormatan yang tak jarang melewati kehormatan serban, meski keduanya sama belaka dipakai pada anggota tubuh paling atas. Singkatnya, bagi santri, tanpa peci bukanlah santri. Kehormatan dan nilai pada peci berbanding terbalik dengan sandal. Benda yang dipakai pada bagian tubuh paling bawah itu sering kali dicap sebagai kebutuhan sekunder bagi santri, tidak seperti peci. Mereka hanya butuh alas kaki, bahkan tanpa merek sekalipun. Merek hanya akan menyebabkan sandal menjadi bulan-bulanan teman "panjang tangan", disengaja atau tidak. Maka sering nian dijumpai santri berpeci tanpa sandal, tidak sebaliknya. Tanpa alas kaki bukanlah aib sama sekali. Apa sebab? Selain jarak tempuh kaki seorang santri hanya dalam lingkungan pesantren, seluas apa pun pesantren, juga nir-alas kaki tidak ada yang memperhatikan. Artinya, ada tida...

Asbab Keagungan Mazhab Asy'ari

Antara curiga dan cemburu di sana ada rindu. Tidak berlebihan kiranya menamsilkan mazhab teologi Asy-'ary sebagai rindu antara dua kutub bersebrangan yang tak terjembatani; Qadariyah dan Jabariyah. Lebih awal dari ini sudah jamak diketahui akan kesterilan dan kemurnian mazhab Asy-'ary. Para ulama menamsilkannya dengan susu yang berada antara darah dan nanah. Demikian mazhab Asy-'ary tumbuh dan berkembang ke 3/4 bumi. Cikal bakalnya yang heroik serta sejarah perkembangannya yang tak lepas dari pengawalan dan penjagaan serta pembaharuan oleh setiap ulama di generasi ke generasi menjadikan mazhab teologi yang satu ini terus kukuh dikaji, diajarkan dan dijadikan sumber landasan berlogika dalam ketuhanan.   Keagungan mazhab Asy'ari sebagai pilar aqidah Ahlu al-Sunnah wa al-Jamaah tidak terlepas dari peran dan kontribusi ulama-ulama masa lalu dalam mengembangkan mazhab Asy'ari sebagai mazhab yang mempunyai integritas tinggi serta kekokohan dalam membentengi aqidah Rasullu...