Semua ini gara-gara Tgk Jazuli yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide Baba Shafiya kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...
Sebelumnya kita cukup memahami definisi dari cinta. Serta spektrum dari definisi itu hanya pada batas cinta sesama makhluk, tidak termasuk cinta Allah kepada hambaNya. Untuk yang terakhir itu, kita akan coba memahami apa itu cinta pada Allah. Bagaimanakah maksud dari pernyataanNya dalam al-Quran "Sungguh Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan" dan semacamnya. Sejauh mana pula jangkauan Cinta yang pada Allah. Karena demikian kita masih akan memahami lewat penuturan jelas Imam as-Syahid Ramadhan al-Buthti.
- Cinta Allah Kepada Manusia
Beliau menerangkan, bahwa cinta yang ada pada Allah tidak ubahnya seperti makna pengalamatan sifat-sifat tasyabuh(yang samar-samar maknanya) kepada Dirinya sendiri. Seperti halnya Allah menisbahkan "tangan", "wajah", "istiwa'", dan lain lain. Dimana hal itu tidak ditakwil kepada makna lain, tidak juga diartikan dengan sesuatu yang dapat menyerupakan Allah dengan selainNya. Inilah jalan pemahaman yang ditawarkan oleh para ulama terdahulu.
Dalam arti, cinta pada Allah dipahami sebagaimana adanya, tanpa diartikan dengan makna lain. Ia tidak dipahami maknanya dengan pengampunan, ridha, atau pemberian rezeki. Hanya itu, cinta yang ada pada Allah adalah sebagaimana Ia katakan.
Sementara itu, saat penciptaan manusia pertama kali sebelum manusia terbelah, terpisah, dan terbagi menjadi kelompok ini-itu, Allah SWT memuliakan Bapaknya manusia yaitu Adam. Syaikh Sa'id Ramadhan al-Buthti mengatakan, bahwa pemuliaan dari Allah dalam bentuk memerintah kepada malaikat untuk bersujud kepada jenis manusia ini tidak lain adalah akibat dari satu sebab yang mustahil untuk tidak dikatakan sebab itu adalah cinta. Yaa, "sebab" Allah memuliakan manusia pertama ialah karena cinta.
Dengan demikian, Cinta Allah kepada manusia sudah ada sejak pertama kali Allah menciptakan manusia. Sehingga, pemuliaan Allah tersebut menjadi dalil Allah mencintai manusia. Cinta ini disebut dengan cinta Rabbani. Selanjutnya, manusia yang kodratnya dibebankan beberapa hukum, manusia dapat memilih untuk menjaga cinta rabbani itu atau malah membiarkan cinta itu.
Manusia yang memilih patuh dan melaksanakan beban-beban syariat itu ia tidak hanya menjaga cinta Rabbani, melainkan ia bisa melahirkan dan menambahkan cinta Allah kepadanya. Cinta ini disebut dengan cinta Kasby(cinta yang diperoleh lewat penyerahan dan penundukan diri kepada Sang Pencipta). Sedangkan di ujung sana, manusia yang memilih untuk tidak menanggung beban syariat maka ia telah rugi. Rugi bersebab menyia-nyiakan cinta Rabbani.
Di samping itu, manusia yang mampu menjaga cinta Rabbani dan menumbuhkan cinta kasby bukan tidak mungkin derajatnya lebih mulia daripada Malaikat sekalipun. Sedangkan yang tidak menjaga cinta Rabbani itu? Derajatnya menukik jatuh ke bawah, melebihi bawahnya kelas hewan.
Demikianlah, terang bagi kita bahwa pemuliaan Allah kepada manusia adalah bentuk nyata dari cintaNya kepada manusia. Itulah manusia secara ekstensif, sebelum manusia itu terbagi, terbelah, dan menjadi kelompok-kelompok ia telah dahulu merasakan cinta Allah kepadanya. Hingga pada gilirannya, manusia dapat memilih untuk menjaga cinta itu dan menambahkannya dengan cinta kasby lewat mematuhi segala beban yang ditetapkan kepadanya. Pun manusia dapat memilih memilih untuk menyia-nyiakan cinta itu.
Bersambung...
Bvery Naisss mas👏...
BalasHapusNah, Baiknya kita sadar tanpa pura² pikun, karna Cinta Allah telah kita telan hidup²🙈.