Langsung ke konten utama

Merangsang Semangat Keilmuan

Semua ini gara-gara  Tgk Jazuli   yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide  Baba Shafiya   kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...

Biar Semangat Belajarnya Tidak Sia-sia

Setiap aktifitas dalam melaksanakan suatu proses tertentu tidak boleh sunyi dari passion atau disebut dengan semangat. Apa saja, bahkan hal remeh temeh pun perlu digandengi dengan semangat. Makin besar tujuan yang ingin diraih makin besar pula semangat dalam prosesnya diperlukan.
Wa bilkhusus proses belajar agama, diperlukan semangat yang agung, tentunya. Bukan tanpa sebab, karena ilmu adalah tujuan mulia, tak kurang jebakan serta banyak rintangan. Pendahulu pun begitu mewanti-wanti untuk mewujudkan dan menjaga semangat belajar. Tanpa semangat ia proses belajar hanya akan berjalan di tempat.
Di saat yang sama, pendahulu kita tidak lupa juga mewariskan cara dan metode belajar yang telah terbukti keberhasilannya. Ini menjadi dalil semangat dan cara harus bergandengan tangan.  Tanpa, cara metode dan strategi yang benar maka belajar akan kacau. Tak berarah. Kalau pun terarah ia hanya akan bertahan sekejap.
Karena ia begitu dibutuhkan bukan berarti dengan memiliki semangat yang menggebu-gebu kita boleh keluar dari jalur proses belajar yang telah diwariskan oleh pendahulu, belajar seenak dan sekenanya. Ibaratnya kita mengisi bahan bakar kendaraan dengan jenis Pertamax Turbo plus Oli Castrol pula, lalu berkenderaan di jalan raya untuk pertama kalinya. Ini bukan berarti kita bisa nyalip sana sini, melanggar rambu-rambu lalu lintas, dan lampu merah agar cepat sampai ke tujuan. Sungguh pun kendaraan itu digeber maka potensi kecelakaan lebih besar terjadi. Begitu pun dalam proses belajar. Semangat tetap diperlukan dengan tanpa melupakan proses-proses bertahap yang harus dilalui. Semangat tanpa arahan yang nyata dan pasti kemungkinan gagal akan sangat besar. 
Karena demikian, bolehlah kita tengok keluar sejenak. Terlepas dari mana timbul dan berkembangnya, iklim semangat belajar agama begitu menyala-nyala. Tidak cukup di dunia nyata, semangat belajar lebih lanjut digalakkan lewat media nirnyata. Selayang pandang, semangat belajar itu lahir dari rahim semangat beragama(ingin menjadi manusia beragama) yang dalam rentang akhir dasawarsa ini kuat nian disuarakan. Hanya patut dikasihani dimana semangat-semangat membara itu kerap menampakkan wajah kekosongan isi dalam, memamerkan wajah kegamangan dalam beragama. Tanpa harus disebutkan contohnya, saya cukup yakin anda akan menyadari hal demikian.
Saya nekat mencoba bayangkan bagaimana kalau semangat itu dirangkul oleh metode belajar yang terarah, teratur dan berkesinambungan, bukan tidak mungkin keawaman demi keawaman berhasil dikebumikan. Tetapi dibalik itu saya cukup sadar bayang-bayangan itu hanyalah sebatas pengandaian, tidak akan lebih.
Terlepas dari itu, memang semangat itu sendiri patut di-tepuktangan-kan. Kita tidak menutup mata dari keberhasilan penularan semangat itu dari satu individu ke individu lainnya. Kita cukup bergembira akan hal itu, dimana banyak generasi muda yang tampil beragama. Namun, sekali lagi, alangkah terpujinya orang-orang yang memiliki semangat itu mau menempuh cara belajar yang telah diwariskan. Hanya itu.
Akhirnya, kita hanya perlu sedikit berharap pada orang yang memiliki semangat belajar yang kuat untuk manut mengikuti proses belajar yang harus ditempuh. Di pihak lain, pada orang yang sedang menempuh proses itu kita berharap banyak agar semangatnya tidak lekas padam.

"Semangat  belajar itu kayak BBM, ia penting dan baik sejauh digunakan dengan cara yang benar"

Wallahu A'lam.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Kebiasaan Kita

Tulisan ini akan menjadi sangat penting bagi pembaca yang masih bergelut dengan dunia pendidikan dayah dan semacamnya yang menggunakan kitab turas (kuning) sebagai bahan ajar.      Saat masih menjadi santri--dalam arti status murid—saya sudah diwanti-wanti oleh guru privat saya untuk tidak berburu-buru dalam belajar (mengaji dan mengulang mandiri) kitab. Pun, ketika hendak berubah status menjadi “guru”, saya diwasiatkan untuk menyiapkan bahan ajar dengan benar, betapa pun bahan ajar itu sudah berulang kali diajarkan. Dan seiring waktu, dengan melihat pengalaman dan pengamalan orang lain, serta bacaan yang kian meluas sedikit demi sedikit, adalah apa yang disampaikan guru saya itu benar adanya.       Kebiasaan yang salah, siapapun pelakunya, tetaplah salah. Kita sepakat akan hal ini. Masalahnya adalah ketika kebiasaan-kebiasaan itu lambat laun akan mengakar dan dari alam bawah sadar akan tercipta keyakinan bahwa kebiasaan itulah satu-satunya jalan yang ...

Merangsang Semangat Keilmuan

Semua ini gara-gara  Tgk Jazuli   yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide  Baba Shafiya   kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...

Dunia Pengalihan: Manuskrip

Dunia sudah cukup sibuk dan ribut. Notifikasi bertalian datang; langganan kanal Youtube , kanal Telegram , grup-grup saling bersahutan, promo toko oranye dan hijau, dan pesan-pesan diskusi berkedok rindu. Mode senyap tak bisa membendung notifikasi itu, sebab ia makin nyaring dalam senyap. Karena itulah salah satunya, orang-orang memilih bersemedi dan mengucilkan diri dalam ruang kasatmata. Sebagian memilih untuk tenggelam dalam bacaan, sebagian lagi dalam perenungan, dan saya memilih manuskrip sebagai salah satu ma’bad , tempat ibadah intelektual saya. Setahun yang lalu, lebih kurang, saya masih asing dengan ilmu Tahqiq Makhtutat , filologi sebutan canggihnya. Jauh sebelum itu lagi, saya masih curiga dengan pekerjaan semacam itu. Apa soal orang-orang mau sibuk untuk membaca teks kuno yang – bahkan membuat mata kusam – kemudian disalin ulang, dipermak, hingga layak dibaca dengan mudah. Maksudnya, nikmatnya itu di mana? Lalu saya jatuh ke dalam ruang itu tanpa sengaja diajak oleh seorang...