Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cakal

Sumber Kutipan Turas; Bukti Daya Jangkau Ilmu

     Sudah dua pekan membran otak saya riuh tak berkesudahan. Penyebabnya sederhana, kutipan langsung yang dibubuhkan penulis kitab belum lagi saya temukan. Antara kesal dan bingung lah otak menari. Tarian itu makin menjadi ketika tiga hari sebelumnya saya menghadapi hal yang sama. Dan kian tajam ketika malam ini saya mengalami hal serupa.      Dalam penulisan kitab, wabil khusus kitab babon Turas, kutip-mengutip pendapat adalah kebiasaan. Hanya saja, terdapat perbedaan dalam teknik mengutip penulis kontemporer. Penulis kitab Turas, setelah mengutip pendapat orang lain secara langsung atau bukan, seringkali hanya menyebut nama penulis yang dikutip. Tak jarang juga disertai judul kitabnya sekalian. Dan sering juga hanya dipadai dengan judul kitab saja ketika penulis kitab itu sudah terlalu masyhur dengan kitabnya. Jangan tanya halaman dan jilidnya. Tidak ada itu.      Dalam pada itu, belakangan ini, ketika saya sedang melakukan pelacakan kutip...

Ada Sesuatu Di Balik Nama Dalam Doa

Orang-orang bilang, tidak perlu menyatakan cinta, cukup sebut namanya dalam doa. Sebab Tuhan lebih mafhum perihal jodoh. Jadi, boleh jadi doa-doa itu mengubah apa yang sudah tertulis di ‘daun terjaga’, kalau memang yang tertulis di sana bukan nama yang disebut dalam doa. Atau, menahkikkan nama yang sudah tertulis. Sedangkan doa hanya usaha meyakinkan diri akan ketetapan itu. Sedangkan dia, sebalik itu pada awalnya. Dia tidak begitu setuju memuat nama seseorang dalam doa, sebagai permintaan, pernyataan, dan peneguhan harapan jodoh. Apalagi penyebutan itu disebut-sebut pada bukan waktunya. Permintaan pada bukan waktunya, menurutnya, hanya sebagai alibi menyegerakan takdir.  Kalau sudah cinta, ya sampaikanlah cinta itu, tapi dengan syarat cukup cinta saja. Tidak lebih. Tidak diaduk dengan hasrat memiliki. Artinya tidak menginginkan dan menghendaki hal-hal di luar cinta, seperti harapan bersatu dan menyegerakan memiliki.  Cinta begitu sederhana, kita saja yang membuatnya merepotka...

Dewasa Itu T’lah Meledak

Iklan salah satu provider jaringan internet Indonesia pernah bilang, “jadi orang gede menyenangkan, tapi susah dijalanin”. Ujaran itu semacam afirmasi betapa kedewasaan adalah fase yang menggiurkan dan melelahkan sekaligus.  Sementara itu, kepada Ibu, setelah saya mengabarkan kebingungan saya untuk mengambil keputusan besar, ia berujar pula; kamu sudah dewasa. Buat dan ambil keputusan olehmu sendiri. Pada Ibu hanya ada pertimbangan. … Setelah berpikir keras dan akhirnya lelah, saya berkesimpulan bahwa selain suatu kepayahan akan selalu datang-berlalu, adalah membuat keputusan besar tidak lebih nyaman dan mudah ketimbang menerima keputusan. Menerima keputusan besar, sungguh pun jika berat, hanya perlu keluangan dada untuk menerimanya. Demikian hanyalah soal penerimaan. Berbalik penuh dengan membuat keputusan. Selain luang dada untuk menerima di kemudian hari, juga perlu kebijakan penuh dan kehati-hatian stabil. Kini, kedewasaan itu tampil menampakkan diri seolah ingin meledak. Menga...

Menulis Tidak Menulis

Malam ini saya memutuskan untuk tidak menulis. Sore harinya sudah punya tekad kuat untuk nulis dua tema yang sudah cukup lama berdialog dalam membran kepala. Ada saja aral baik yang melintang, tekad itu saya urungkan dulu. Meski tidak berhasil melahirkan dua tulisan "serius" itu, tetapi minimalnya saya sudah menulis keputusan saya untuk tidak menulisnya. Pikir saya, besok insyaallah ada waktu luang untuk dua tema itu. Sebab kontennya sudah saya sekat, tinggal mengikat dan melapisinya dengan cat biar nampak lebih memikat. Namun, siapa berani memercayai hari esok akan tetap ada. Jangankan hari esok, hanya kata di depan ini saya tidak berani meyakini akan ada. Lihat, kan? Betapa rapuh manusia kalau ngomong soal masa depan. Akan tetapi, saya sebagai muslim yang beriman penuh dengan takdir meyakini bahwa niat baik, betapapun sempat dicegat beberapa kali, juga akan terealisasi pada waktunya. Hanya soal waktu saja. Rasanya, niat baik lebih berkesempatan untuk dieksekusi ketimbang n...

Filsafat BAB

Manusia sering dibikin repot oleh dirinya sendiri. Kuat macam Captain America pun manusia adalah makhluk yang rapuh. Begitu lemah, hingga bagian dirinya sendiri berhasil meruntuhkan kedigdayaan, kejumawaan, dan kehebatan dirinya sendiri. Seperti biasa, raja di raja itu sarapan dengan asupan nutrisi yang bergizi, 4 sehat 5 sempurna. Lengkap. Jam 10 ia dijadwalkan untuk memberi petuah dan pengumuman penting bagi rakyat dan parlemen. Layaknya seorang raja, setiap kali hendak mengisi acara penting ia dicek dokter pribadinya. Apakah lambungnya masih normal, hingga tidak mengharuskan sang raja membelakangi mimbar. Apakah pita suaranya masih pas, hingga setelan sound system dan tetek bengek persuaraan dan pendengaran penyimak berjalan lancar. Jelas, dokter tidak mendeteksi gejala apapun. Raja dipersilahkan, bahkan untuk koar-koar, membentak anggota parlemen yang berlaku bejat. Terserah raja. Baru saja mengakhiri mukadimah pidatonya yang memakan waktu 15 menit, tiba-tiba wajah raja memerah. Ma...

Mengimani Takdir dengan Sempurna

Dalam kurun 4 hari belakangan ini rezeki ku mutlak datang dari sedekah orang. Maklumlah bahwa sesungguhnya saya seorang pemakmur "surga ilmu". Konsekuensinya, perkara finansial berkali-kali menjadi penangkal langkah pikiran untuk terus memahami dan menyakini bahwa Tuhan menjamin rezeki hambanya. Mungkin, mayoritas kita bahkan termasuk saya, kerap hanya ingin mengimani jaminan-jaminan Tuhan yang nampak nyata dan selaras dengan keinginan. Ah, rentan betul kita ini. Bukan rahasia lagi, soal ekonomi saban hari menjadi problem tak terselesaikan pada penuntut ilmu di pesantren. 8/10 dari santri bisa diyakini nasib ekonominya menukik tajam ke bawah. Saban hari pula, setiap santri yang diberi keluasan untuk keluar komplek, memutar otak dan bahu meraba-raba tempat yang berpotensi mendatangkan rezeki halal. Di antara mereka, saya salah satunya, adalah orang-orang yang masih "berani" ditanggung biaya oleh keluarga. Namun, sebagai manusia yang hampir menginjak umur tiga...

Sebatang Rokok, Sesetengah Kopi Susu

Adapun sebagian dari anugerah Tuhan ialah rokok dan kopi. Pasalnya, Tuhan telah bersuara dalam kitab-Nya bahwa tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang diciptakan sia-sia, tanpa makna. Bahkan "hanya" semut di dalam batu pun masih memiliki makna dari keberadaannya di dunia. Tak pelak, kopi dan rokok sama belaka dengan semut itu.  Terlepas dari berbagai hukum dan sifat yang disematkan manusia pada kedua hal itu, tetap saja kedua hal itu memiliki maknanya sendiri. Namun, agaknya makna yang tersimpan di sana hanya sebatas makna i'tibary. Artinya hanya yang mau memandang itu makna maka ia bermakna, bagi yang tidak maka tak ada pula makna yang tekandung di dalamnya. Alhasil, kebermaaknaan rokok dan kopi bersifat relatif. Makna yang tersimpan dalam keduanya berupa; pertama , sungguh kadang dipandang negatif, keduanya dalam ukuran tertentu memberi faedah tertentu juga. Rokok, yang memang banyak orang menutupi mata darinya, dalam kasus tertentu dapat menyelamatkan kesendirian yang ...

Catatan Toilet

Saya punya kawan. Jauh sebelum hari ini, satu waktu ia berujar pada saya “Di, coba saja ada teknologi pencatat isi pikiran saya yakin betapa banyak ide-ide luarbiasa dan liar lahir dari toilet”. Saya ketawa, tentu. Tetapi makin ke sini saya tidak dapat menolak sepenuhnya maksud dasar omongan teman saya itu.   Mari kali ini kita menganggap toilet itu bukan tempat yang jorok. Kalau sudah terlanjur menganggap demikian, ya, tidak mengapa. Bagaimanapun, hampir sebagian orang—untuk tidak mengatakan semuanya—menganggap toilet lebih dari sekedar tempat membuang yang lebih dari tubuh. Di samping ia menjadi kandang syaitan, ternyata toilet juga bisa menjelma rumah ide. Ya, rumah ide. Boleh jadi ide sebuah tulisan, karangan, pidato dan ide-ide positif lainnya.     Mungkin ini lebih ke pengalaman saya sendiri. Bagi saya, masuk ke toilet bukan hanya untuk buang hajat, saya cukup keras menduga saya bisa menemukan ide-ide untuk tulisan saya. Apalagi kalau perut sedang bermusuhan. Untuk ...

Fardhu Kifayah vs Fardhu Kifayah: Kebimbangan Yang Hampir Usai

Sampai di sini belum lagi terang mana yang lebih didahulukan secara mutlak bagi penuntut ilmu; dakwah via media atau terus menjelajah khazanah kitab kuning yang tak lain itu adalah dunia mereka sendiri. Keduanya berstatus fardhu kifayah; pertama,  dakwah media sosial termasuk dalam  amr ma’ruf wa nahy mungkar , maka ia fardhu kifayah;  kedua,  penuntut ilmu yang sudah pada tahap pengajar(atau adatanya di pesantren aceh sudah di atas kelas 6) kiranya sudah terpenuhi ilmu-ilmu fardhu ain baginya. Maka melanjutkan petualangan dalam literatur kitab kuning adalah fardhu kifayah. Saya sendiri kadang bingung benar. Mana yang harus saya lakukan. Menyelami literatur klasik yang begitu seksi dan menggoda atau ‘dakwah’—biar dapat banyak like dan komen macam “Masyaallah Tabarakallah”. Jujur, belakangan saya bingung dan begitu gundah, macam ditinggalkan kekasih. Pasalnya, banyak ilmu lama yang harus diketahui sekarang yang akan membantu dalam menghadapi adegan dan kejadian dari ‘...