Langsung ke konten utama

Merangsang Semangat Keilmuan

Semua ini gara-gara  Tgk Jazuli   yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide  Baba Shafiya   kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...

Agar Tak Melampaui Batas


Apa saja yang berlebihan itu tidak baik. Cinta dan benci tak terkecuali. Kita, manusia yang paripurna telah memiliki naluri untuk mengikuti yang benar sekaligus lari dari yang salah. Sebagai makhluk yang sempurna, kita tidak bisa tidak memiliki keyakinan tertentu termasuk mengantongi sosok panutan bagi kita.

Dalam perihal keduniaan tentu kita mengidola seseorang atau bisa jadi jalan pemikirannya. Mulai mengidolakan si Song Hye Kyo hingga Karl Marx. Sudah barang tentu, apa yang oleh Sang idola ucapkan dan lakukan kita akan mengakuinya--setidaknya.

Lebih lanjut, dalam perkara keagamaan kita bahkan tidak luput dari pemikiran tertentu berikut dengan jalan pemikirannya. Agar ummat tidak salah memilih idolanya, Allah sudah menuturkan dalam Al-Quran supaya menjadikan Nabi Muhammad sebagai panutan yang sempurna lagi paripurna sampai hari kiamat tiba.

Agama islam, sama sekali tidak melarang—bahkan menganjurkan—umatnya  untuk mengidolakan sesosok ulama, habaib dan orang utama yang lainnya berikut gagasan mereka yang benar. Hanya saja, agama, melalui lisan para pembesarnya, mewanti-wanti agar tidak "berpakaian" fanatik terhadap suatu objek keagamaan. Apa sebab? Seperti sudah mafhum, bahwa tidak ada kebenaran—selain dasar agama—yang absolut di dunia ini, melainkan hanya ada yang paling dekat dengan kebenaran. Maka, andai dalam beragama kita memakai pakaian fanatik—apalagi fanatik buta—kita telah menutup mata dari berbagai kebenaran yang mungkin saja ada dan akan ada dari pihak lain. Pasalnya, “pakaian” itu mempunyai bau menyengat yang menusuk jantung. Apa itu? Mengkafirkan, menyesatkan, membid'ahkan orang lain itu timbul dan tumbuh dari pakain menyengat tersebut.

Memang, agaknya fanatisme hampir menjadi "kulit badan" bagi manusia mi instan. Seolah tak terhindari, berbagai sosok dan doktrin asal selaras dengan semangat beragamanya akan menjadi panutannya. Terlebih efeknya tertular terhadap mereka yang terpelajar. Jangankan harta, nyawa siap menjadi tebusan bagi panutannya. Nah ini nih yang membingungkan.

Celakanya, bila idolanya keliru dalam suatu permasalahan, mereka dengan kerasan malah membela atas kekeliruan itu. Mereka tak bernyali mengakui kekeliruan itu. Mengapa? Mereka terlanjur menganggap bahwa mengakui atas kesalahan dapat membuat karisma, wibawa idolanya runtuh.

Hemat saya—meski tidak begitu hemat, selain Rasulullah (sebagai manusia terjaga lagi sempurna) tak ada yang patut diidolakan mati-matian. Toh, betapapun tinggi derajat manusia biasa, ia tetap bisa saja tergelincir, bisa saja tersalah, mungkin saja keliru. Tentunya dengan tanpa mengurangi rasa hormat terhadap para ulama.

Nampaknya kita masih perlu belajar banyak hal. Belajar membaca, belajar melihat, belajar mendengar, belajar memaklumi, belajar mencintai, belajar membenci, belajar mengidola, belajar membaca yang tersirat, belajar cara belajar dan belajar... belajar...belajar. Untuk apa? Sebab kabar baiknya, belajar-belajar itulah salah satu cara mengurangi fanatik yang lebay. Sudahkah kita lupa bahwa yang benar sebenarnya hanya Allah dan RasulNya?

"Tinggalkan fanatisme buta! Sebab ia tak senikmat cinta buta, Ferguso"

Komentar

  1. "Tinggalkan fanatisme buta! Sebab ia tak senikmat cinta buta, Ferguso"

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Kebiasaan Kita

Tulisan ini akan menjadi sangat penting bagi pembaca yang masih bergelut dengan dunia pendidikan dayah dan semacamnya yang menggunakan kitab turas (kuning) sebagai bahan ajar.      Saat masih menjadi santri--dalam arti status murid—saya sudah diwanti-wanti oleh guru privat saya untuk tidak berburu-buru dalam belajar (mengaji dan mengulang mandiri) kitab. Pun, ketika hendak berubah status menjadi “guru”, saya diwasiatkan untuk menyiapkan bahan ajar dengan benar, betapa pun bahan ajar itu sudah berulang kali diajarkan. Dan seiring waktu, dengan melihat pengalaman dan pengamalan orang lain, serta bacaan yang kian meluas sedikit demi sedikit, adalah apa yang disampaikan guru saya itu benar adanya.       Kebiasaan yang salah, siapapun pelakunya, tetaplah salah. Kita sepakat akan hal ini. Masalahnya adalah ketika kebiasaan-kebiasaan itu lambat laun akan mengakar dan dari alam bawah sadar akan tercipta keyakinan bahwa kebiasaan itulah satu-satunya jalan yang ...

Hibernasi Telah Selesai

Tak kurang 40 hari telah berlalu, menjadi tempo hibernasi bagi kalangan santri. Sebuah ruang waktu kekosongan mengaji yang akan selalu dihasrati oleh mereka. Jika masuk lebih dalam dan lebih jujur, hasrat mereka terhadap hibernasi telah melampaui dari batas normal bagi hakikat penuntut ilmu. Namun, apa boleh buat, begitu sudah tabiat dibentuk oleh lingkungan. Tentu ada banyak hal yang mereka khawatirkan dari habis masa aktif hibernasi; dirampok waktu gembira oleh belajar, ditilap kesempatan scrolling tiktok, dibabat keseruan berlaga para karakter nirnyata. Kekhawatiran itu biasanya akan muncul dalam bentuk, minimalnya, rasa mual dan pusing dalam perjalanan menuju ke Dayah; sebuah perjalanan yang begitu terasa cepat. Kekhawatiran itu dalam sejumlah babak malah diwujudkan dalam bentuk yang mereka lebih tahu. Bagi sebagian mereka, hibernasi tempo hari itu adalah tempo mematikan pikiran ilmiah, hingga tak lagi layak disebut hibernasi. Sebab, pada momen libur, mereka lebih memaknainya se...

Merangsang Semangat Keilmuan

Semua ini gara-gara  Tgk Jazuli   yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide  Baba Shafiya   kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...