Langsung ke konten utama

Merangsang Semangat Keilmuan

Semua ini gara-gara  Tgk Jazuli   yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide  Baba Shafiya   kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...

Memilah Dugaan: Antara Celaka Atau Bijaksana

Makin ke sini orang-orang makin mudah memanipulasi sesamanya berkat tekhnologi. Atau boleh juga dikatakan begitu mudah terpapar dengan duga-dugaan buruk nan lemah. Tidak lain sumbernya dari tong media sosial. Tempat di mana sampah-sampah bersarang. Dengan hanya memiliki sekelumit kabar dan informasi, sudah cukup menduga sekehendak hatinya.

Sepantasnya berkelana di media sosial, melihat timeline Twitter, Instagram dan kawan-kawannya tidak berbeda kaedahnya dengan berinteraksi dalam dunia nyata. Bahkan, sekian dari etika-etika terpuji dalam kehidupan nyata tidak boleh tidak juga diwujudkan dalam berselancar di dunia nir-nyata. Pasalnya, meninggalkan etika-etika positif itu ujungnya akan menjatuhkan pengguna dalam kegelapan hati, prasangka murahan dan akibat buruk lainnya.
Tak ayal, ada ulama secara khusus mengarang kitab yang membahas etika berinteraksi di dunia nir-nyata. Sebut saja salah satunya, buah pena Ali Muhammad Syauqi dengan tajuk "Alfisbuk. Adabuhu Wa Ahkamuhu" Facebook, adab dan hukumnya.

Sementara ini, jauh sebelum dunia Maya lahir dari rahim yang tidak diketahui, Allah dan rasul-Nya telah menitipkan pesan kepada hamba untuk tidak bermain-main dengan dugaan. Ini boleh dirujuk antara lain dalam surat al-Hujurat, ayat 12.
Seharusnya, setiap sesuatu yang muncul lewat prasangka manusia harus lekas menahkikkan dugaan itu; sahih atau tidak. Jangan langsung comot sana sini, share ke sana kemari.
Tanpanya, manusia akan kerap dirasuki rasa was-was berlebihan terhadap saudaranya, yang pada gilirannya akan mengantarkan manusia kepada akibat-akibat yang tidak diinginkan.

Bukanlah di sini tempatnya menguraikan etika-etika positif satu persatu. Meski demikian, salah satu etika yang paling utama untuk selalu dijaga dan dikawal ialah menghindari dari main sangka-sangkaan. Setiap apa yang kita reguk dari dunia maya, lebih-lebih konten yang berisi agama, politik, ekonomi bahkan asmara sekalipun, jangan langsung ditelan mentah-mentah. Adalah satu kebestarian yang tinggi menggunakan akal dan ilmu untuk menyaring informasi dan berita itu semua, dan dengan ringan hati menahkikkan kabar itu kepada empunya kabar.

Apalagi kontennya itu berhubungan dengan sesama mukmin, kita harus membungkus dulu duga-gugaan buruk lalu dan meletakkannya di tong sampah. Sebab, saat "menguyah" informasi dan berita dengan lupa menyisihkan "tulang tajam" dugaan buruk kita sendiri yang merasakan akibat hinanya.


Mari sebelum terlanjur melumat tulang tajam itu kita berpagi-pagi melatih diri untuk meludah dan menyisihkan tulang tajam. Sungguh, ini hanya akan menyelamatkan kita, bukan orang lain. Jujur saja, orang lain tidak akan mendera sakit itu, melainkan kita sendiri yang tercela dan cacat.

"Semua di dunia nir-nyata itu pura-pura, sepanjang tidak ada dalil pembenaran. Maka kehati-hatian saat menggunakannya adalah kebestarian mulia"


Tabik,


Bagi yang tertarik membaca kitab di atas berikut saya sertakan link baca dan downloadnya:

Komentar