Salah satu sifat terpuji yang paling dianjurkan agama untuk dimiliki ialah sabar. Sabar, sama seperti sifat terpuji lainnya, banyak dimiliki oleh choosen people, manusia pilihan Allah. Mulai dari para Rasul, shalihin, auliya, hingga ulama. Karena itu, sifat sabar adalah sifat yang agung. Artinya, siapa yang memiliki diyakini ia memiliki jiwa yang berkualitas top one menurut Tuhan.
Sabar banyak ditafsirkan sebagai satu sifat menahan diri dari segala hal yang datang dari luar diri, termasuk godaan, cobaan, bahkan hingga pemberatan hukum syariat. Definisi itulah yang tergambar dalam klasifikasi sabar dalam tiga bagian; sabar pada cobaan; sabar pada godaan nafsu; dan sabar pada ketaatan. Hasilnya, bisa dipastikan akar makna sabar ialah menahan diri, dan itulah makna yang diberikan bahasa.
Jika sabar adalah menahan diri, maka gegabah, dalam bahasa arab disebut 'ajlah, adalah antonimnya. Gegabah adalah sifat menyegerakan sesuatu dari seharusnya. Waktu salat belum salat, tapi anda mau salat terus, itu namanya gegabah. Kawin belum waktunya, tapi anda pengen sekali punya kekasih yang berlagak macam istri, itu juga namanya gegabah. Bahkan belum waktunya BAB, tetapi anda memaksa ke wc. Tahulah apa yang keluar nantinya. Itu juga gegabah namanya.
Lain kata, gegabah itu memaksa kehendak atau keadaan. Dan, tidak ada sama sekali kebaikan pada paksaan, bukan?
Konon, katanya sifat gegabah adalah sifat alamiah manusia, lho. Begitu kata para mufasir ketika menafsirkan ayat 11 surat al-Isra'. Yakni, sifat menyegerakan apa saja yang terlintas di benaknya adalah sifat yang sudah wujud dalam diri setiap manusia, sejak nabi Adam. Karena gegabah adalah sifat yang tidak sehat makanya sifat ini juga dilarang di ayat lain, al-Anbiya' 37.
Nah, untuk mengakali sifat buruk ini syariat menganjurkan untuk memiliki sifat sebaliknya, yaitu sabar.
Secara praksis, sabar bisa dimaknai sebagai berproses dalam menapaki setiap fase-fase kehidupan. Kehidupan yang Allah bangun atas konsep sebab-musabab atau kausalitas. Artinya, untuk meraih musabab (hasil) kita mesti lebih dulu menapaki sebab. Proses adalah bagian dari rangkaian sebab-musabab. Berproses itulah sebagian dari hakikat agung sabar.
Anda boleh menginginkan bahagia (musabab), tapi tanpa beribadah (sebab) misalnya, maka ingin itu hanya angan. Dan, menggunakan shortcut (jalan pintas) meraih bahagia (musabab) hanya mengantar pada akibat-akibat buruk. Itulah yang kita sebut tadi sebagai gegabah.
Contoh-contoh lain mudah nian anda temukan dalam hidup ini. Anda menghasrati si doi. Ingin memilikinya. Tetapi Anda tidak mau melakukan proses memilikinya, yaitu bermula mendekati keluarganya hingga berujung pada akad. Lalu Anda mencoba memilih shortcut. Bisa tebak dong apa akibatnya? Anda dengan gegabah membuka pintu "cimiwiw", sebagai akibat ketidaksabaran Anda melalui proses.
Maka memilih gaya hidup sabar, tidak gegabah, merupakan kesesuaian dengan "irama" alam di sekitar kita. Dengan gaya hidup ini pula kita akan hidup dengan tentram, damai, dan sentosa sekaligus.
Begitu.
Lain kata, gegabah itu memaksa kehendak atau keadaan. Dan, tidak ada sama sekali kebaikan pada paksaan, bukan?
Bagus sekali tulisannya, penjelasannya runut tapi santai. Jika boleh memberi masukan, kiranya tulisan ini baik jika dibukukan, ya mungkin bisa semacam kumpulan renungan. Juga kebermanfaatannya tidak hanya bagi pembaca dunia maya saja, tapi dunia nyata juga ikut bisa menikmati setiap cerita sederhana penuh makna. Terima kasih, sudah menulis tulisan yang benar2 dekat dengan hidup.
BalasHapusTerima kasih. Untuk sarannya akan dimasukkan dalam daftar saran. Terus ikuti setiap tulisan terbaru, ya.
Hapus