Semua ini gara-gara Tgk Jazuli yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide Baba Shafiya kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...
Segenap keutamaan manusia yang dianugerahkan oleh Allah tidak luput dari keharusan mengenal dan memahami keutamaan itu sendiri. Hal ini dapat membentuk manusia untuk tidak serampangan dan ugal-ugalan dalam memanfaatkan keutamaan itu. Satu dari lain keutamaan ialah anugerah akal.
Akal dengan segala kelebihannya memiliki kedudukan yang agung bagi manusia sendiri. Bahkan, menurut pendapat yang mengatakan akal berada di mercu kepala, ia menempati posisi yang tinggi dalam struktur tubuh Manusia. Hal demikian mendukung keyakinan kita bagaimana Allah menghendaki akal itu harus dijaga dan dipelihara serta dimuliakan. Tak ayal, memelihara akal termasuk dalam salah satu dharuriyat khamsah(5 hal umum yang mutlak), yang menjadi hikmah dalam setiap penetapan hukum syariat.
Sementara demikian, akal dengan sifat sterilnya sekaligus mempunyai supremasi atas tindak tanduk seorang manusia, menjadi sangat penting dirawat dengan memberi asupan yang cukup. Itulah ilmu pengetahuan. Dengan jati diri agung serta asupan yang cukup akan menjadi akal bekerja semestinya, yaitu dapat memilah dan memilih mana yang baik dan buruk sekaligus mengejawantahkan dalam kelakuan. Singkatnya, saat akal mendapat cukup asupan ia akan adil, yang pada gilirannya akan nampak juga keadilan dalam perilaku.
"Seorang terpelajar seharusnya sudah berlaku adil sejak dalam pikiran".Kabar punya kabar, pernyataan seirama dengan itu lebih dahulu didengungkan oleh Imam Ghazali(w1111 M) dalam karyanya yang dipersembahkan untuk Raja Dinasti Saljuk, Muhammad bin MalikSyah, bertajuk Tibrul Masbuk fi Nashihatil Muluk, dengan mengusung tema etika politik.
Lebih lanjut imam Ghazali dalam karya tersebut menjelaskan bahwa akal adalah tentara Allah. Sementara nafsu bejat adalah tentara Syaitan. Lalu siapa saja menjadikan akal sebagai tawanan nafsu bagaimana bisa ia bisa adil dalam masalah lain. Maka tidak lain, seorang manusia --khususnya pemimpin dalam pembahasan beliau-- harus adil sejak dalam pikiran. Dalam arti mampu menggunakan akal sepantasnya dan menawan nafsu bejat. Akibatnya, semua tindak-tanduknya akan berada dalam spektrum adil, selalu.
Masih menurut Beliau, adil dalam perbuatan adalah tanda keparipurnaan akal. Dan paripurnanya akal adalah ia bisa melihat tiap sesuatu bagaimana adanya dan hakikatnya. Dalam arti bisa menilai, memilah-milih baik buruk tiap sesuatu, yang pada gilirannya melaksanakan yang baik dan membuang jauh yang buruk.
Nah, kiranya begitu jelas bagi kita bahwa anugerah Allah yang satu ini tidak bisa dibiarkan begitu saja tanpa memberi hak dan merawatnya. Tanpa demikian, jangan heran kenapa kita tak kunjung adil dalam berperilaku. Sebab dalam pikiran saja tidak adil, apalagi dalam kelakuan.
Komentar
Posting Komentar