·
Cinta Manusia kepada Allah
Setelah cukup paham cinta Allah kepada manusia dengan dua
jenisnya; rabbany dan kasby, tiba juga pada kesempatan memahami “membalas”
cinta Allah. Tepatnya bagaimana manusia mencintai Allah. Dan adakah cinta ini
layaknya cinta Allah kepada manusia dengan dua jenisnya?
Untuk ini mari barengan kita mengeja kelanjutan hidangan
Syaikh Said Ramadhan al-Buthi.
Sebelum melaju lebih ke depan perlu rasanya untuk memastikan
bahwa makna cinta di sini tetap sebagaimana yang telah diurai pada pendahuluan.
Dalam arti memang cinta manusia kepada Allah adalah terpaut hati manusia dengan
pencipta. Dengan ini dapat dimafhumi—sebagaimana pada pendahuluan—perbedaan
terang antara cinta Allah kepada manusia dengan cinta manusia kepada Allah.
Dengan perbedaan pada maknanya ini berbeda pula penjelmaan makna cinta Allah
kepada manusia; melalui pemuliaanNya kepada manusia; dan kebersamaan Allah
beserta manusia yang dicintaiNya. Sedangkan cinta manusia kepada Allah akan terang pada kesempatan berikut.
Syaikh sai’d Ramadhan al-Buthi menerangkan bahwa cinta manusia
pada Allah terbagi dua, yaitu Ruhany dan kasby. Untuk lebih
jelasnya mari kita masuk.
Rupa-rupanya Allah telah menciptakan rasa cinta manusia
kepadaNya sebelum manusia benar-benar turun ke bumi. Kejadian ini oleh Syaikh
Sai’id Ramadhan al-Buthi menyebutnya sebagai hari pengikraran dan perjanjian,
sebagaimana yang termaktub dalam al-Quran pada surat al-A’raf ayat 172:
وَإِذْ
أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ
وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ
شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا
غَٰفِلِينَ
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)"
Sepintas lalu tidak dapat ditemukan adanya pembicaraan tentang cinta di atas, memang begitu. Namun, kita perlu menyelam agak lebih dalam. Ayat di atas berbicara tentang pengambilan pengakuan akan ketuhanan Allah dan perjanjian atas rezeki, mati, langkah dan jodoh. Dimana pengikraran itu terjadi tanpa penghalang antara Allah dan ruh-ruh tersebut. Ikrar manusia pada hari itu akan ketuhanan Allah, oleh Syaikh Buthi menyatakan itu adalah bentuk dari cinta manusia kepada Allah. Ruh tersebut bukan hanya ruh mukmin, melainkan tiap ruh manusia, terlepas agama, warna dan bangsa, telah mengikrarkan hal demikian.
Lewat pengikraran bahwa Allah adalah Tuhan yang patut disembah, oleh manusia ketika itu telah mendeklarasikan cintanya kepada Allah. Dari sini pula menjadi terang bahwa keyakinan akan keesan Allah sudah menjadi fitrah manusia begitu ia dilahirkan ke bumi. Dan demikianlah cinta ruhany manusia kepada Allah. Cinta yang sudah beralamat dalam ruh manusia sejak belum dilahirkan.
Agak aneh memang. Bagaimana pula manusia dapat merasakan
wujudnya cinta ruhany sesaat ia telah benar-benar menjadi manusia?
Bukankah suatu kemungkinan cinta ruhany itu tidak dapat dirasakan akibat
lama berselang waktu antara hari pengikraran dengan sekarang? Bagaimana ini?
Ternyata begini duduk perkaranya: bahwa setelah manusia
melakukan ikrar itu yang pada kemudian ia lahir ke bumi sesungguhnya cinta itu
masih bertahan dalam ruhnya, sebagaimana pengesaan Tuhan tetap berada pada ruhnya. Singkat kata,
mencintai Allah itu menjadi fitrah manusia. Namun, dapatkah ia merasakan
panggilan, deruan, dan perasaan cinta itu? Tentu dapat. Beliau memisalkan
begini: “Bukankah kalian pernah pernah mendera rasa kangen yang begitu terhadap
hal yang jauh? Terhadap sesuatu yang bahkan belum pernah kau dengar, lihat dan
merabanya?” Untuk jawaban itu saya serahkan pada pembaca. Saya duga keras,
banyak dari pembaca akan menjawa “Tentu pernah”.
Nah, perasaan semacam itu memang ada pada ruh manusia dalam mencintai
Allah yang dibawanya saat lahir. Dengan demikian memang mencintai Allah masih
bertahan dan akan terus tumbuh seiring tidak adanya pengahalang. Hanya saja,
sungguh, hanya ada satu dua hijab gelap yang menghalangi ruh manusia merasakan
perasaan demikian. Dan hijab gelap pekat yang menutupi ruh manusia untuk
merasakan perasaan cinta kepada Allah itu—hingga boleh jadi manusia menafikan
cintanya pada Allah ketika masih terhijab—adalah sifat kebinatangannya.
Sifat kebinatangan ini diciptakan Allah untuk menguji
manusia. Bila begitu, sifat kebinatangan yang tidak mendapatkan perhatian dan
didikan yang cukup ia malah akan membat manusia berlagak seakan binatang. Jelas
itu. Sebaliknya, sifat kebinatangan yang mendapat didikan dan perhatian yang
memadai ia tidak akan bisa menutup mata manusia untuk megetahui dan merasai
cintanya kepada Allah.
Sedangkan tips dan trik mendidik sifat kebinatangan itu oleh
para ulama Tasawuf menyebutnya Tazkiah, penyucian diri. Ketika manusia
mampu mendobrak dan mengendalikan sifat kebinatangan ini dengan pendidikan yang
telah dilaksanakan manusia akan benar-benar merasakan cintanya kepada Allah,
yang pada gilirannya akan tumbuh cinta kasby dari demikian.
Bersambung...
"Mencintai Allah sudah dahulu menjadi fitrah manusia. Maka apakah tidak begitu cela menafikannya di kemudian hari?"
Komentar
Posting Komentar