Langsung ke konten utama

Merangsang Semangat Keilmuan

Semua ini gara-gara  Tgk Jazuli   yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide  Baba Shafiya   kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...

Memahami Cinta Menjelmakan Makna (Bagian Empat)

·        Cinta Manusia kepada Allah

Setelah cukup paham cinta Allah kepada manusia dengan dua jenisnya; rabbany dan kasby, tiba juga pada kesempatan memahami “membalas” cinta Allah. Tepatnya bagaimana manusia mencintai Allah. Dan adakah cinta ini layaknya cinta Allah kepada manusia dengan dua jenisnya?

Untuk ini mari barengan kita mengeja kelanjutan hidangan Syaikh Said Ramadhan al-Buthi.

Sebelum melaju lebih ke depan perlu rasanya untuk memastikan bahwa makna cinta di sini tetap sebagaimana yang telah diurai pada pendahuluan. Dalam arti memang cinta manusia kepada Allah adalah terpaut hati manusia dengan pencipta. Dengan ini dapat dimafhumi—sebagaimana pada pendahuluan—perbedaan terang antara cinta Allah kepada manusia dengan cinta manusia kepada Allah. Dengan perbedaan pada maknanya ini berbeda pula penjelmaan makna cinta Allah kepada manusia; melalui pemuliaanNya kepada manusia; dan kebersamaan Allah beserta manusia yang dicintaiNya. Sedangkan cinta manusia kepada Allah akan terang pada kesempatan berikut.

Syaikh sai’d Ramadhan al-Buthi menerangkan bahwa cinta manusia pada Allah terbagi dua, yaitu Ruhany dan kasby. Untuk lebih jelasnya mari kita masuk.

Rupa-rupanya Allah telah menciptakan rasa cinta manusia kepadaNya sebelum manusia benar-benar turun ke bumi. Kejadian ini oleh Syaikh Sai’id Ramadhan al-Buthi menyebutnya sebagai hari pengikraran dan perjanjian, sebagaimana yang termaktub dalam al-Quran pada surat al-A’raf ayat 172:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)"

Sepintas lalu tidak dapat ditemukan adanya pembicaraan tentang cinta di atas, memang begitu. Namun, kita perlu menyelam agak lebih dalam. Ayat di atas berbicara tentang pengambilan pengakuan akan ketuhanan Allah dan perjanjian atas rezeki, mati, langkah dan jodoh. Dimana pengikraran itu terjadi tanpa penghalang antara Allah dan ruh-ruh tersebut. Ikrar manusia pada hari itu akan ketuhanan Allah, oleh Syaikh Buthi menyatakan itu adalah bentuk dari cinta manusia kepada Allah. Ruh tersebut bukan hanya ruh mukmin, melainkan tiap ruh manusia, terlepas agama, warna dan bangsa, telah mengikrarkan hal demikian.

Lewat pengikraran bahwa Allah adalah Tuhan yang patut disembah, oleh manusia ketika itu telah mendeklarasikan cintanya kepada Allah. Dari sini pula menjadi terang bahwa keyakinan akan keesan Allah sudah menjadi fitrah manusia begitu ia dilahirkan ke bumi. Dan demikianlah cinta ruhany manusia kepada Allah. Cinta yang sudah beralamat dalam ruh manusia sejak belum dilahirkan.

Agak aneh memang. Bagaimana pula manusia dapat merasakan wujudnya cinta ruhany sesaat ia telah benar-benar menjadi manusia? Bukankah suatu kemungkinan cinta ruhany itu tidak dapat dirasakan akibat lama berselang waktu antara hari pengikraran dengan sekarang? Bagaimana ini?

Ternyata begini duduk perkaranya: bahwa setelah manusia melakukan ikrar itu yang pada kemudian ia lahir ke bumi sesungguhnya cinta itu masih bertahan dalam ruhnya, sebagaimana pengesaan Tuhan  tetap berada pada ruhnya. Singkat kata, mencintai Allah itu menjadi fitrah manusia. Namun, dapatkah ia merasakan panggilan, deruan, dan perasaan cinta itu? Tentu dapat. Beliau memisalkan begini: “Bukankah kalian pernah pernah mendera rasa kangen yang begitu terhadap hal yang jauh? Terhadap sesuatu yang bahkan belum pernah kau dengar, lihat dan merabanya?” Untuk jawaban itu saya serahkan pada pembaca. Saya duga keras, banyak dari pembaca akan menjawa “Tentu pernah”.

Nah, perasaan semacam itu memang ada pada ruh manusia dalam mencintai Allah yang dibawanya saat lahir. Dengan demikian memang mencintai Allah masih bertahan dan akan terus tumbuh seiring tidak adanya pengahalang. Hanya saja, sungguh, hanya ada satu dua hijab gelap yang menghalangi ruh manusia merasakan perasaan demikian. Dan hijab gelap pekat yang menutupi ruh manusia untuk merasakan perasaan cinta kepada Allah itu—hingga boleh jadi manusia menafikan cintanya pada Allah ketika masih terhijab—adalah sifat kebinatangannya.

Sifat kebinatangan ini diciptakan Allah untuk menguji manusia. Bila begitu, sifat kebinatangan yang tidak mendapatkan perhatian dan didikan yang cukup ia malah akan membat manusia berlagak seakan binatang. Jelas itu. Sebaliknya, sifat kebinatangan yang mendapat didikan dan perhatian yang memadai ia tidak akan bisa menutup mata manusia untuk megetahui dan merasai cintanya kepada Allah.

Sedangkan tips dan trik mendidik sifat kebinatangan itu oleh para ulama Tasawuf menyebutnya Tazkiah, penyucian diri. Ketika manusia mampu mendobrak dan mengendalikan sifat kebinatangan ini dengan pendidikan yang telah dilaksanakan manusia akan benar-benar merasakan cintanya kepada Allah, yang pada gilirannya akan tumbuh cinta kasby dari demikian.

 

Bersambung...



"Mencintai Allah sudah dahulu menjadi fitrah manusia. Maka apakah tidak begitu cela menafikannya di kemudian hari?"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Kebiasaan Kita

Tulisan ini akan menjadi sangat penting bagi pembaca yang masih bergelut dengan dunia pendidikan dayah dan semacamnya yang menggunakan kitab turas (kuning) sebagai bahan ajar.      Saat masih menjadi santri--dalam arti status murid—saya sudah diwanti-wanti oleh guru privat saya untuk tidak berburu-buru dalam belajar (mengaji dan mengulang mandiri) kitab. Pun, ketika hendak berubah status menjadi “guru”, saya diwasiatkan untuk menyiapkan bahan ajar dengan benar, betapa pun bahan ajar itu sudah berulang kali diajarkan. Dan seiring waktu, dengan melihat pengalaman dan pengamalan orang lain, serta bacaan yang kian meluas sedikit demi sedikit, adalah apa yang disampaikan guru saya itu benar adanya.       Kebiasaan yang salah, siapapun pelakunya, tetaplah salah. Kita sepakat akan hal ini. Masalahnya adalah ketika kebiasaan-kebiasaan itu lambat laun akan mengakar dan dari alam bawah sadar akan tercipta keyakinan bahwa kebiasaan itulah satu-satunya jalan yang ...

Hibernasi Telah Selesai

Tak kurang 40 hari telah berlalu, menjadi tempo hibernasi bagi kalangan santri. Sebuah ruang waktu kekosongan mengaji yang akan selalu dihasrati oleh mereka. Jika masuk lebih dalam dan lebih jujur, hasrat mereka terhadap hibernasi telah melampaui dari batas normal bagi hakikat penuntut ilmu. Namun, apa boleh buat, begitu sudah tabiat dibentuk oleh lingkungan. Tentu ada banyak hal yang mereka khawatirkan dari habis masa aktif hibernasi; dirampok waktu gembira oleh belajar, ditilap kesempatan scrolling tiktok, dibabat keseruan berlaga para karakter nirnyata. Kekhawatiran itu biasanya akan muncul dalam bentuk, minimalnya, rasa mual dan pusing dalam perjalanan menuju ke Dayah; sebuah perjalanan yang begitu terasa cepat. Kekhawatiran itu dalam sejumlah babak malah diwujudkan dalam bentuk yang mereka lebih tahu. Bagi sebagian mereka, hibernasi tempo hari itu adalah tempo mematikan pikiran ilmiah, hingga tak lagi layak disebut hibernasi. Sebab, pada momen libur, mereka lebih memaknainya se...

Merangsang Semangat Keilmuan

Semua ini gara-gara  Tgk Jazuli   yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide  Baba Shafiya   kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...