Semua ini gara-gara Tgk Jazuli yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide Baba Shafiya kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...
Tidak kurang dari sepuluh kali Allah menfirmankan tentang kemurahanNya memberi maaf kepada hamba. Bahkan yang cukup majemuk diketahui, selain menduakanNya, semua dosa dan kesalahan hamba diampuni. Pengampunan sepenuhnya didapatkan dengan ketentuan yang sudah baku. Ialah Taubat. Secara vokabuler Taubat bermakna; kembali ke jalan yang benar; menyesali kesalahan yang telah lalu. Dari sekian dosa yang ada, dosa besarlah yang dihapus oleh pertaubatan.
Adapun dosa kecil, tidak sedikit Tuhan meletakkan momentum untuk menghapusnya. Mulai dari istighfar, bertasbih, puasa dan tindakan kebaikan lain yang tak terkira jumlahnya. Untuk saat ini, membuktikan bahwa pemberian maaf Allah kepada hamba luas nian.
Barangkali kita juga pernah mendengar kabar bahwa Allah mengatakan "Usahlah berputus asa dari pengampunanKu. Sebab pengampunanKu lebih luas, lebih besar, lebih dalam dari dosa-dosa kalian. Dosa kalian tidak berbanding secuil pun dengan pengampunanKu. Maka teruslah meminta ampunan". Tentunya firman Allah di atas membuat dada kita riang ketika menghadapi dosa-dosa yang telah lalu. Namun apa kabar dengan dosa yang mungkin akan kita laksanakan atau sedang kita lakukan? Bisa kah firman di atas membuat kita tidak lebih bergairah melakukan kekejian bersebab dengan janjiNya itu? Atau malah membuat kita lebih bersemangat melakukannya hingga mencandainya?
Akhirnya, tugas kita ialah mengakui adanya kesalahan serta terus meminta ampunan padaNya sekaligus.
Berhenti dan meminta👏🙏
BalasHapus.
.
Sekiranya tuhan patut di canda, mungkin dosa kita lebih bercahaya🙈