Antara curiga dan cemburu di sana ada rindu. Tidak berlebihan kiranya menamsilkan mazhab teologi Asy-'ary sebagai rindu antara dua kutub bersebrangan yang tak terjembatani; Qadariyah dan Jabariyah. Lebih awal dari ini sudah jamak diketahui akan kesterilan dan kemurnian mazhab Asy-'ary. Para ulama menamsilkannya dengan susu yang berada antara darah dan nanah.
Demikian mazhab Asy-'ary tumbuh dan berkembang ke 3/4 bumi. Cikal bakalnya yang heroik serta sejarah perkembangannya yang tak lepas dari pengawalan dan penjagaan serta pembaharuan oleh setiap ulama di generasi ke generasi menjadikan mazhab teologi yang satu ini terus kukuh dikaji, diajarkan dan dijadikan sumber landasan berlogika dalam ketuhanan.
Keagungan mazhab Asy'ari sebagai pilar aqidah Ahlu al-Sunnah wa al-Jamaah tidak terlepas dari peran dan kontribusi ulama-ulama masa lalu dalam mengembangkan mazhab Asy'ari sebagai mazhab yang mempunyai integritas tinggi serta kekokohan dalam membentengi aqidah Rasullullah dan para sahabatnya. Sehingga perkembangan mazhab Asy'ari terus meluas dan dijadikan ideologi oleh mayoritas umat islam di seluruh dunia. Sesuai pernyataan Syekh Taftazani "Sesungguhnya mazhab Ahlu al-Sunnah yang pupoler di negeri Khurasan, 'Iraq, Syam dan hampir seluruh negeri adalah Asy'ariah, pengikut Abu al-Hasan al-Asy'ari. Ia adalah orang pertama yang menentang ajaran Abu Ali al-Juba'i dan kembali kepada sunnah".
Mazhab Abu al-Hasan al-Asy'ari di dalam pokok-pokok agama tidak ada yang menyelisihi Imam mazhab yang empat, justru beliau melindungi apa yang disampaikan oleh mereka, benar dimata syara' juga diterima secara rasional. Hal ini pun bergitu jelas tersampaikan melalui pernyataan satu in"Kami tidak melihat para Imam Madzhab yang empat berselisih pendapat dalam pokok-pokok agama. Kami justru melihat mereka sepakat dalam mentauhidkan dan mensucikan Allah dalam Dzat dan Sifat-Nya, serta bersatu dalam menafikan keserupaan Allah dengan perkara baru. Al-Asy'ari mengikuti jalan mereka dalam pokok-pokok agama".
Konsep-konsep mazhab Asy'ari juga tidak menyelisihi pandangan para ahli hadist. Justru mazhab Asy'ari merangkul pandangan para ahli hadist dalam menetapkan konsep-konsepnya. Para ulama dari kalangan Ahli Hadist sepakat bahwa Abu al-Hasan al-Asy'ari termasuk salah satu imam dari kalangan Ahli Hadist, "Ahli Hadist sepakat bahwa Abu al-Hasan al-Asy'ari salah satu imamnya Ahli Hadist, mazhabnya didalam membicarakan usul agama (ketauhidan) juga selaras dengan mazhab Ahli Hadits, beliau menolak habis habisan pemahaman dan pemikiran ahli bid'ah dan kaum sesat. Beliau merupakan pedang yang terhunus terhadap kaum mu'tazilah, rafidhah, mereka-mereka yang menyesatkan dari ahli qiblat, serta golongan-golongan yang keluar dari agama. Barang siapa yang menghina, melaknat, berkata kotor terhadapnya maka sungguh telah melecehkan serta menyebarkan berita buruk terhadap seluruh Ahlus Sunnah."
Demikianlah, dari berbagai sudut hampir tidak ada celah bagi perusak untuk meruntuhkan kerangka berfikir Asy-'ariyah. Itu belum lagi keistiqamahan para ulama dan pelajar dalam mengkaji dan menelusuri akidah yang diketengahkan oleh Imam Asy-'ari. Lalu, dimanakah kita yang mengaku penganut setia sampai mati mazhab Ahlu Sunnah Wal jamaah?. Sederhana saja, cukup ikut mengkaji dan terus mempelajarinya adalah pembuktian sesungguhnya atas apa yang kita dawakan belakangan ini.
Tabik,
Penulis:
Tgk Boyhaki Sulaiman. Dalam kehidupan nyata beliau merupakan seorang penganut Mazhab Mahabbah. Selain itu, beliau adalah pengajar dan pelajar di salah satu pesantren besar di Aceh.

Komentar
Posting Komentar