Langsung ke konten utama

Merangsang Semangat Keilmuan

Semua ini gara-gara  Tgk Jazuli   yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide  Baba Shafiya   kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...

Asbab Keagungan Mazhab Asy'ari


Antara curiga dan cemburu di sana ada rindu. Tidak berlebihan kiranya menamsilkan mazhab teologi Asy-'ary sebagai rindu antara dua kutub bersebrangan yang tak terjembatani; Qadariyah dan Jabariyah. Lebih awal dari ini sudah jamak diketahui akan kesterilan dan kemurnian mazhab Asy-'ary. Para ulama menamsilkannya dengan susu yang berada antara darah dan nanah.

Demikian mazhab Asy-'ary tumbuh dan berkembang ke 3/4 bumi. Cikal bakalnya yang heroik serta sejarah perkembangannya yang tak lepas dari pengawalan dan penjagaan serta pembaharuan oleh setiap ulama di generasi ke generasi menjadikan mazhab teologi yang satu ini terus kukuh dikaji, diajarkan dan dijadikan sumber landasan berlogika dalam ketuhanan.  

Keagungan mazhab Asy'ari sebagai pilar aqidah Ahlu al-Sunnah wa al-Jamaah tidak terlepas dari peran dan kontribusi ulama-ulama masa lalu dalam mengembangkan mazhab Asy'ari sebagai mazhab yang mempunyai integritas tinggi serta kekokohan dalam membentengi aqidah Rasullullah dan para sahabatnya. Sehingga perkembangan mazhab Asy'ari terus meluas dan dijadikan ideologi oleh mayoritas umat islam di seluruh dunia. Sesuai pernyataan Syekh Taftazani "Sesungguhnya mazhab Ahlu al-Sunnah yang pupoler di negeri  Khurasan, 'Iraq, Syam dan hampir seluruh negeri adalah Asy'ariah, pengikut Abu al-Hasan al-Asy'ari. Ia adalah orang pertama yang menentang ajaran Abu Ali al-Juba'i dan kembali kepada sunnah".

 Para ulama menisbatkan diri kepada Abu al-Hasan al-Asy'ari bukan berarti taklid buta kepada beliau. Tetapi, mereka menyetujui tauhid yang menjadi rujukan beliau karena adanya dalil-dalil atas kesahihannya. Hal tersebut bisa terbaca dalam pernyataan tegas yang satu ini "Kami menisbatkan diri kepada mazhab Asy'ari bukan berarti kami taklid dan bersandar kepada beliau. Tetapi kami menyetujui tauhid yang menjadi rujukan beliau, karena adanya dalil-dalil atas keshahihannya, bukan karena sekedar taklid. Kami menisbatkan diri kepada beliau agar kami berbeda dengan kelompok Ahli Bid'ah yang menyelisihi tauhid yang shahih, seperti golongan Mu'tazilah, Jahmiyah yang menafikan Sifat Allah, Mujassimah Karramiyah, Musyabbihat Salimiyah dan semua golongan Ahli bid'ah yang mengikuti dan meyakini pendapat-pendapat yang rusak".

Mazhab Abu al-Hasan al-Asy'ari di dalam pokok-pokok agama tidak ada yang menyelisihi Imam mazhab yang empat, justru beliau melindungi apa yang disampaikan oleh mereka, benar dimata syara' juga diterima secara rasional. Hal ini pun bergitu jelas tersampaikan melalui pernyataan satu in"Kami tidak melihat para Imam Madzhab yang empat berselisih pendapat dalam pokok-pokok agama. Kami justru melihat mereka sepakat dalam mentauhidkan dan mensucikan Allah dalam Dzat dan Sifat-Nya, serta bersatu dalam menafikan keserupaan Allah dengan perkara baru. Al-Asy'ari mengikuti jalan mereka dalam pokok-pokok agama".

Konsep-konsep mazhab Asy'ari juga tidak menyelisihi  pandangan para ahli hadist. Justru mazhab Asy'ari merangkul pandangan para ahli hadist dalam menetapkan konsep-konsepnya. Para ulama dari kalangan Ahli Hadist sepakat bahwa Abu al-Hasan al-Asy'ari termasuk salah satu imam dari kalangan Ahli Hadist, "Ahli Hadist sepakat bahwa Abu al-Hasan al-Asy'ari salah satu imamnya Ahli Hadist, mazhabnya didalam membicarakan usul agama (ketauhidan) juga selaras dengan mazhab Ahli Hadits, beliau menolak habis habisan pemahaman dan pemikiran ahli bid'ah dan kaum sesat. Beliau merupakan pedang yang terhunus terhadap kaum mu'tazilah, rafidhah, mereka-mereka yang menyesatkan dari ahli qiblat, serta golongan-golongan yang keluar dari agama. Barang siapa yang menghina, melaknat, berkata kotor terhadapnya maka sungguh telah melecehkan serta menyebarkan berita buruk terhadap seluruh Ahlus Sunnah."

Demikianlah, dari berbagai sudut hampir tidak ada celah bagi perusak untuk meruntuhkan kerangka berfikir Asy-'ariyah. Itu belum lagi keistiqamahan para ulama dan pelajar dalam mengkaji dan menelusuri akidah yang diketengahkan oleh Imam Asy-'ari. Lalu, dimanakah kita yang mengaku penganut setia sampai mati mazhab Ahlu Sunnah Wal jamaah?. Sederhana saja, cukup ikut mengkaji dan terus mempelajarinya adalah pembuktian sesungguhnya atas apa yang kita dawakan belakangan ini. 

Tabik,


Penulis: 
Tgk Boyhaki Sulaiman. Dalam kehidupan nyata beliau merupakan seorang penganut Mazhab Mahabbah. Selain itu, beliau adalah pengajar dan pelajar di salah satu pesantren besar di Aceh. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Kebiasaan Kita

Tulisan ini akan menjadi sangat penting bagi pembaca yang masih bergelut dengan dunia pendidikan dayah dan semacamnya yang menggunakan kitab turas (kuning) sebagai bahan ajar.      Saat masih menjadi santri--dalam arti status murid—saya sudah diwanti-wanti oleh guru privat saya untuk tidak berburu-buru dalam belajar (mengaji dan mengulang mandiri) kitab. Pun, ketika hendak berubah status menjadi “guru”, saya diwasiatkan untuk menyiapkan bahan ajar dengan benar, betapa pun bahan ajar itu sudah berulang kali diajarkan. Dan seiring waktu, dengan melihat pengalaman dan pengamalan orang lain, serta bacaan yang kian meluas sedikit demi sedikit, adalah apa yang disampaikan guru saya itu benar adanya.       Kebiasaan yang salah, siapapun pelakunya, tetaplah salah. Kita sepakat akan hal ini. Masalahnya adalah ketika kebiasaan-kebiasaan itu lambat laun akan mengakar dan dari alam bawah sadar akan tercipta keyakinan bahwa kebiasaan itulah satu-satunya jalan yang ...

Hibernasi Telah Selesai

Tak kurang 40 hari telah berlalu, menjadi tempo hibernasi bagi kalangan santri. Sebuah ruang waktu kekosongan mengaji yang akan selalu dihasrati oleh mereka. Jika masuk lebih dalam dan lebih jujur, hasrat mereka terhadap hibernasi telah melampaui dari batas normal bagi hakikat penuntut ilmu. Namun, apa boleh buat, begitu sudah tabiat dibentuk oleh lingkungan. Tentu ada banyak hal yang mereka khawatirkan dari habis masa aktif hibernasi; dirampok waktu gembira oleh belajar, ditilap kesempatan scrolling tiktok, dibabat keseruan berlaga para karakter nirnyata. Kekhawatiran itu biasanya akan muncul dalam bentuk, minimalnya, rasa mual dan pusing dalam perjalanan menuju ke Dayah; sebuah perjalanan yang begitu terasa cepat. Kekhawatiran itu dalam sejumlah babak malah diwujudkan dalam bentuk yang mereka lebih tahu. Bagi sebagian mereka, hibernasi tempo hari itu adalah tempo mematikan pikiran ilmiah, hingga tak lagi layak disebut hibernasi. Sebab, pada momen libur, mereka lebih memaknainya se...

Merangsang Semangat Keilmuan

Semua ini gara-gara  Tgk Jazuli   yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide  Baba Shafiya   kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...