Ketika Anda membaca literatur Islam, disiplin ilmu mistik atau tasawuf khususnya, Anda akan menemukan anjuran untuk menulis wasiat pada selembar kertas, lalu menyimpannya di bawah bantal, sebelum tidur malam. Lebih aneh lagi, tindakan itu dinilai sunah (bermakna terpuji atau baik secara syariat). Artinya tindakan itu dianjurkan dalam agama.
Hal tersebut adalah salah satu
dari beberapa anjuran Rasulullah bagi orang yang hendak tidur. Begitu kita
selesai bersuci, kasur sudah dibersihkan, di saat itulah kita disunahkan
menulis wasiat pada secarik kertas, lalu disimpan di bawah bantal. Kemudian
membaca ayat quran, doa-doa yang masyhur, untuk kemudian memejamkan mata.
Macam mau mati besok, saja, kan?
Kok, iya, agama menganjurkan melakukan hal-hal yang mengerikan semacam itu.
Seolah malam itu menjadi malam terakhir kita. Persoalan ini makin irasional
ketika kita mempertanyakan, jika pun esok tidak mati apa gunanya wasiat yang
sudah ditulis itu? Bukankah menggunakan tinta dan kertas untuk menulis surat
cinta atau beberapa simpul puisi lebih syahdu? Bahkan, jika sepanjang tahun
Anda tidak alpa menuliskan minimal satu wasiat setiap malam, dan ajal belum
lagi menemui Anda, total ada 360 wasiat yang Anda buang dalam tong sampah
setiap pagi. Dan itu terkesan pemborosan, bukan?
Sudah, berhenti dulu. Jangan
makin ngeras dan ngegas Anda memikirnya. Ada yang lebih perlu dipikir dan
diketahui. Itulah makna anjuran menulis wasiat dan untuk apa sebenarnya sih?
Wasiat yang dimaksud dalam
anjuran agama ialah pesan-pesan yang ingin ditinggalkan bagi orang yang
ditinggalkan. Isinya? Bisa jadi pemberian hak harta jika Anda memiliki harta,
hak asuh anak, pewakafan tanah, pernikahan anak, atau bahkan utang-piutang.
Poinnya, ada pesan yang ditinggalkan.
Jika kita mundur sedikit ke
belakang kita akan menemukan alasan anjuran ini. Begini jelasnya, sebagai
seorang muslim yang mengimani kematian yang bisa datang kapan saja kita diperintahkan
untuk selalu was-was dan wawas diri setiap saat—lebih-lebih di penghujung
aktivitas harian, maka menulis wasiat adalah cara menarik diri untuk menyadari
bahwa mati itu ada dan kapan saja, adalah cara menghardik diri sendiri dan
bertaubat atas keburukan harian, adalah cara membalas kebaikan orang lain kepada
kita.
Dan itulah salah satu cara sibuk dengan keburukan kita sendiri.
Bukan tidak mungkin juga wasiat atau catatan yang ditulis itu nantinya bakal menjadi karya. Minimal, karya self improvement bagi diri kita sendiri. Saya curiga, kalau-kalau para ulama dulu banyak melahirkan karya lewat cara ini. alih-alih menasihati dan menghardik diri sendiri, catatan itu malah menjadi manfaat bagi orang lain, kelak.
tabik,

Komentar
Posting Komentar