Semua ini gara-gara Tgk Jazuli yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide Baba Shafiya kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...
Telah kita sepakati bahwa Nabi Muhammad lahir pada hari Senin tanggal 12 bulan rabiul awal. Kita sebagai umat terkasihnya, tentulah berbahagia menyambut dan merayakannya. Beraneka sambutan yang didekasikan kepadanya banyak kita temukan di belahan bumi kita, juga di belahan bumi lain. Dari berbagai macam sambutan itu adalah kita sekarang agaknya masih saja duduk-berdiri meluruskan dalil-dalil atas dasar apa ketentuan merayakannya. Aduhai. Begitu sibuk meluruskannya hingga kita lupa dengan esensi perayaan itu. Dengan begitu, bukanlah maksud tulisan ini untuk menilik dalil-dalil itu. Kita kesampingkan masalah dalil wa laka dalil, agar otak kita tak semrawut dan tak mentok pada dalil-dalil saja.
Adalah para ulama masa lampau, bila bulan Rabiul Awal hampir datang mereka bersiap-siap layaknya bersiap menyambut bulan Ramadhan. Antusiasme mereka hebat bukan buatan. Mulai membaguskan niat, meninggalkan aktivitas yang tidak penting, menyiapkan berbagai aneka makanan untuk dibagikan, dan tentunya bersiaga diri dengan berbagai shalawat dan pujian kepada Baginda. Begitu bulan Rabiul Awal datang, mereka berusaha agar tidak sama sekali meninggalkan shalawat.
Nah, ini lah yang harus kita teruskan. Artinya, meski adat kita sudah mengkhususkan perayaan pada Tgl 12 dengan menggelar pembacaan qasidah pujian, sejarah Nabi, pemberian kenduri yang melimpah ruah, jangan sampai kita hanya berhenti di titik itu, jangan sampai cukup merasa puas dengan itu, jangan sampai yang tidak melakukan ritual demikian kita sesatkan, sebab semangat dan ruh menyemarakkan hari lahir Nabi lebih dari itu yaitu kembali mengingat beliau dengan segala akhak mulianya lalu mencontohinya serta terus memperjuangkan ajaran lurusnya.
Seharusnya, jauh sebelum dan sesudah tgl 12 kita memperbanyak shalawat sebagaimana pada tgl 12 itu sendiri sebagaimana para pendahulu melakukannya. Semangat menjadikan Nabi sebagai contoh dalam kehidupan harus kembali dinyalakan semampu mungkin.
Maka, ini lah kesempatan kita paling efektif untuk kembali mengingatnya. Cobalah dengan membaca sekelumit kisahnya yang dapat membangkitkan cinta dan rindu kepadanya, dan terus menerus bershalawat kepadanya sesempat mungkin walau satu-dua kali. Bila mampu, khatamkanlah kitab Dalail Khairat karangan Syekh Muhammad ibn Sulaiman al-Jazuly atau semacamnya. Bahkan dengan mendengar senandung kekinian yang benar pun bisa menjadi ikhtiar bagi kita untuk mengingatnya.
Hanya yang tidak mengenalnya lah yang tidak membalas cinta dalamnya.
Allhumma Shalli 'Ala Nabi Habibil Mushtafa Shalatan wa Tasliman Katsira.
Tabik🙏

Syukran akhi telah mengingatkan kami serta membangunkan gairah kami untuk rindu dan cinta kepada baginda Nabi Muhammad SAW
BalasHapus