Langsung ke konten utama

Merangsang Semangat Keilmuan

Semua ini gara-gara  Tgk Jazuli   yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide  Baba Shafiya   kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...

Tawakal, Antara Pelarian Atau Penyerahan

Kesempatan kali ini mari kita buka pembahasan dengan Ayat-Nya yang bersentuhan dengan topik, serta untuk mengambil keberkahan. Allah berfirman:
َوَعَلَى الَّلهِ فَلْيَتَوَّكَلِ المُؤْمِنُوْن
Penggalan ayat tersebut pertama kali bisa ditemukan dalam al-Quran pada surat al-Baqarah ayat 122. Secara total ayat yang menyampaikan pesan yang sama terhitung sebanyak 9 kali; dengan  objek Mukmin 8 kali dan sekali dengan objek Mutawakkilin.
Melihat tidak sedikitnya dihubungkan lafaz tawakal dengan objek mukmin maka tidak mengapa disimpulkan saat ini ayat yang berbicara tentang tawakal memiliki pengaruh yang besar dalam tingkat kualitas iman hamba.

Lalu bagaimana yang dimaksud dengan tawakkal?

Sebelum melanjutkan lebih dalam, rasanya ayat ini perlu diulas lebih dahulu lewat susunan kalimatnya. Dalam ilmu Ma'ani, salah satu sub pembahasan ilmu balagah, dikenal adanya istilah Hasr. Ia adalah "Mendahulukan sesuatu yang seharusnya terletak di akhir".  Ayat di atas susunan kalam dasarnya ialah ِفَلْيَتَوَكَّلِ المُؤْمِنُوْنَ عَلَى اللَّه. 

Namun susunan ini tidak bisa memberi makna yang dikehendaki. Kenapa? Susunan ini memberi makna "Maka orang beriman hendak bertawakkal(menyerahkan diri) kepada allah. Lalu susunan diatas menjadi 
وعلى الله فليتوكل المؤمنون yang artinya "hanya kepada Allah orang beriman bertawakkal".
Sampai di sini sudah bisa dipahami adanya faedah hasr/membatasi, yaitu pada Allah semata. Contoh lain bisa dilihat pada ayat ُإِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْن yang bermakna hanya Engkau yang kami sembah dan hanya padaMu kami meminta pertolongan.

Tawakal dalam kelakuan sehari-hari oleh kita hampir disalahpahami, kalau bukan memang salah memahaminya. Tawakkal kerap dijabarkan sebagai kondisi dimana kita tidak bisa berusaha lagi, yang hanya menyisakan pemasrahan/penyerahan akhir urusan kepada Allah.
Ketika memasuki dalam suatu perbuatan kita tak jarang "merasa" mampu untuk memulai dan  mengeksekusi perbuatan itu hingga akhir dengan sempurna, disadari atau tidak. Namun, kasihan, kenyataan bukan begitu. Malah ada satu dua lain aral yang menyebabkan kita batal mengakhiri perbuatan itu dengan baik. Nah, di sini adatnya kita kerap mengeluarkan kata-kata ampuh, ungkapan lari dari suatu kondisi, ungkapan yang menyiratkan kita tak mampu lagi setelah tadinya mampu "udahlah, tawakal saja". 
Game over...

Anggapan semacam ini telah mereduksi tawakkal menjadi perbuatan anggota badan, padahal dasarnya tawakal ini perbuatan atau amalan hati atau sifat yang ada dalam hati.

Untuk itu boleh lah kita menyimak hidangan pemahaman tawakal yang ditawarkan oleh Mufassir kontemporer, Syeikh al-mutawalli as-sya'rawi. 
َالتَوَكُّل هُوَ أَنْ تُْؤمِنَ بِأَنَّ لَكَ وَكِيْلًا يَقُوْمُ بِمَهَامِ أُمُوْرِك
"Tawakal ialah engkau menyakini bahwa engkau memiliki wakil yang mengurus segala urusan engkau"

Dari sini, lanjut Imam Sya'wari, kita dapat memahami bahwa tawakal itu bukan aktivitas fisik melainkan ia adalah amalan hati semata tanpa memberi pengaruh kepada anggota badan untuk berusaha atau tidak.
Layaknya orang mencari rezeki. Mulai dari ketika ia berangkat kerja ia memantapkan keyakinannya bahwa ada Allah tempat segela urusan, ada Allah yang mengurusi rezekinya hari itu, disertai upaya tubuhnya mencari rezeki. 

Bukanlah maksud dari tawakal mengambil zona aman dengan meyakini seperti itu tanpa ada usaha apa pun. Bukan pula maksud tawakal adalah ketika situasi hamba menjadi sempit, tak tahu timur-barat, baru menyerahkan diri kepada Allah.

Demikianlah, jelas bagi kita bahwa tawakal itu sifat hati, keyakinan dalam hati. Begitu seseorang bersifat tawakal bukan berarti ia tidak berusaha. Justru usaha itu wujud nyata bagi tawakal.  Bukan lari dari situasi yang tak sanggup dihadapi lagi. Bukan pula menyerah saat urusan kian rumit. Bukan demikian.

"Hati Tawakal, Tubuh berbuat. Serenyah itulah tawakal"



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Kebiasaan Kita

Tulisan ini akan menjadi sangat penting bagi pembaca yang masih bergelut dengan dunia pendidikan dayah dan semacamnya yang menggunakan kitab turas (kuning) sebagai bahan ajar.      Saat masih menjadi santri--dalam arti status murid—saya sudah diwanti-wanti oleh guru privat saya untuk tidak berburu-buru dalam belajar (mengaji dan mengulang mandiri) kitab. Pun, ketika hendak berubah status menjadi “guru”, saya diwasiatkan untuk menyiapkan bahan ajar dengan benar, betapa pun bahan ajar itu sudah berulang kali diajarkan. Dan seiring waktu, dengan melihat pengalaman dan pengamalan orang lain, serta bacaan yang kian meluas sedikit demi sedikit, adalah apa yang disampaikan guru saya itu benar adanya.       Kebiasaan yang salah, siapapun pelakunya, tetaplah salah. Kita sepakat akan hal ini. Masalahnya adalah ketika kebiasaan-kebiasaan itu lambat laun akan mengakar dan dari alam bawah sadar akan tercipta keyakinan bahwa kebiasaan itulah satu-satunya jalan yang ...

Hibernasi Telah Selesai

Tak kurang 40 hari telah berlalu, menjadi tempo hibernasi bagi kalangan santri. Sebuah ruang waktu kekosongan mengaji yang akan selalu dihasrati oleh mereka. Jika masuk lebih dalam dan lebih jujur, hasrat mereka terhadap hibernasi telah melampaui dari batas normal bagi hakikat penuntut ilmu. Namun, apa boleh buat, begitu sudah tabiat dibentuk oleh lingkungan. Tentu ada banyak hal yang mereka khawatirkan dari habis masa aktif hibernasi; dirampok waktu gembira oleh belajar, ditilap kesempatan scrolling tiktok, dibabat keseruan berlaga para karakter nirnyata. Kekhawatiran itu biasanya akan muncul dalam bentuk, minimalnya, rasa mual dan pusing dalam perjalanan menuju ke Dayah; sebuah perjalanan yang begitu terasa cepat. Kekhawatiran itu dalam sejumlah babak malah diwujudkan dalam bentuk yang mereka lebih tahu. Bagi sebagian mereka, hibernasi tempo hari itu adalah tempo mematikan pikiran ilmiah, hingga tak lagi layak disebut hibernasi. Sebab, pada momen libur, mereka lebih memaknainya se...

Merangsang Semangat Keilmuan

Semua ini gara-gara  Tgk Jazuli   yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide  Baba Shafiya   kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...