Langsung ke konten utama

Merangsang Semangat Keilmuan

Semua ini gara-gara  Tgk Jazuli   yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide  Baba Shafiya   kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...

Dewasa Itu T’lah Meledak


Iklan salah satu provider jaringan internet Indonesia pernah bilang, “jadi orang gede menyenangkan, tapi susah dijalanin”. Ujaran itu semacam afirmasi betapa kedewasaan adalah fase yang menggiurkan dan melelahkan sekaligus. 

Sementara itu, kepada Ibu, setelah saya mengabarkan kebingungan saya untuk mengambil keputusan besar, ia berujar pula; kamu sudah dewasa. Buat dan ambil keputusan olehmu sendiri. Pada Ibu hanya ada pertimbangan.



Setelah berpikir keras dan akhirnya lelah, saya berkesimpulan bahwa selain suatu kepayahan akan selalu datang-berlalu, adalah membuat keputusan besar tidak lebih nyaman dan mudah ketimbang menerima keputusan.


Menerima keputusan besar, sungguh pun jika berat, hanya perlu keluangan dada untuk menerimanya. Demikian hanyalah soal penerimaan. Berbalik penuh dengan membuat keputusan. Selain luang dada untuk menerima di kemudian hari, juga perlu kebijakan penuh dan kehati-hatian stabil.


Kini, kedewasaan itu tampil menampakkan diri seolah ingin meledak. Mengambil keputusan besar dan penting menjadi salah satu momok bagi orang-orang yang sedang dewasa.


Tidak jarang kita temukan, ketimbang membuat keputusan oleh sendiri mereka lebih menyerah diputuskan oleh keputusan itu sendiri. Dibawa arus oleh kubangan lini zaman. 


Apa sebab membuat keputusan besar itu demikian rumit? Pertama, keterbatasan pengetahuan masa depan. Kedua, minim pemahaman terhadap masa lalu. Kedua sebab itu, sedikit banyak melahirkan ketidakbijaksanaan dan keserampangan dalam mengambil keputusan besar.


Kalau dilihat-lihat lagi, sebenarnya membuat sebuah keputusan, baik itu besar atau kecil, tidak akan mengalami kebuntuan dan kerumitan mendalam. Apa sebab? Setiap hari kita berani membuat keputusan-keputusan kecil bagi diri kita. Misal kecilnya, “saya membeli ini”, “saya memakan ini”.


Dari situ, Keputusan kecil-kecil yang diambil dengan bijak pada babaknya akan mengantarkan kita mengambil keputusan besar dengan bijak pula. Pun demikian sebaliknya.


Akhirnya, pada keluasan hatilah kesiapan, pada kecukupan ilmulah kebergantungan, dan pada pandai memahami kenyataanlah terilhami kebijaksanaan. Tanpa ketiganya atau salah satunya, akan sering nian kita membuat keputusan-keputusan yang merugikan kita sendiri saat dewasa.


Komentar


  1. I feel it.
    Dewasa, memang dihadapkan dengan keputusan besar. Apapun itu, sebagai orang dewasa harus siap dengan konsekuensinya.
    Izin share. 🙏🏻

    BalasHapus

Posting Komentar