Langsung ke konten utama

Merangsang Semangat Keilmuan

Semua ini gara-gara  Tgk Jazuli   yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide  Baba Shafiya   kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...

Fardhu Kifayah vs Fardhu Kifayah: Kebimbangan Yang Hampir Usai

Sampai di sini belum lagi terang mana yang lebih didahulukan secara mutlak bagi penuntut ilmu; dakwah via media atau terus menjelajah khazanah kitab kuning yang tak lain itu adalah dunia mereka sendiri. Keduanya berstatus fardhu kifayah;pertama, dakwah media sosial termasuk dalam amr ma’ruf wa nahy mungkar, maka ia fardhu kifayah; kedua, penuntut ilmu yang sudah pada tahap pengajar(atau adatanya di pesantren aceh sudah di atas kelas 6) kiranya sudah terpenuhi ilmu-ilmu fardhu ain baginya. Maka melanjutkan petualangan dalam literatur kitab kuning adalah fardhu kifayah.


Saya sendiri kadang bingung benar. Mana yang harus saya lakukan. Menyelami literatur klasik yang begitu seksi dan menggoda atau ‘dakwah’—biar dapat banyak like dan komen macam “Masyaallah Tabarakallah”. Jujur, belakangan saya bingung dan begitu gundah, macam ditinggalkan kekasih.


Pasalnya, banyak ilmu lama yang harus diketahui sekarang yang akan membantu dalam menghadapi adegan dan kejadian dari ‘anak-anak zaman’. Masih banyak kitab-kitab yang belum terjamah. 


Sedangkan dakwa via media, semisal lewat Instagram, Facebook, Youtube dan platform lainnya dengan memuat konten yang berisi ajaran agama(baca;pembelajaran) saya memang agak menolak itu karena beberapa sebab. Namun, godaan untuk mendakwah lewat tulisan belum juga reda. Akhirnya, alih-alih ingin berdakwah beneran saya memilih menulis tentang agama secara umum yang ringan saja. 


Sementara itu di luar sana, saat para pengajar yang ‘prematur’ memberi pelajaran agama dengan compang camping, tidak paripurna, malah tidak mencukupi syarat untuk mengajar makin membuat saya menjadi-jadi ingin berdakwah. 


Nampaknya ini semacam counter attack , dengan membawa dan menyemai ajaran agama denga mudah, benar dan sesuai aturan. Namun lagi, pikir saya lagi, cukuplah para ulama yang sudah lebih pantas untuk diorbitkan. Para ulama, baik sepuh atau muda belia, mereka harus mendapatkan panggung di media. 


Ini dimaksudkan agar ajaran agama yang diterima oleh khalayak umum terbungkus dalam paket yang sempurna, di samping para ulama itu tidak tergoda lagi dengan jumlah like, follower dan profit yang belakangan bisa menjadi motif berdakwah. Apalagi menimbang, kharisma dan martabat para ulama itu harus diagungkan pada masyarakat umum. Alhasil, dengan begini, marwah para ulama makin terjaga. 


Sedangkan kita para penuntut ilmu yang masih terhitung mengaji pada ‘kulit kitab’ cukuplah dengan membagikan pengajian para ulama itu. Tidak usah mencaplok dan menanggung yang belum pantas dan sanggup ditanggung. Sehingga, dengan aksi begitu rupa, kedua fardhu kifayah yang terlihat bertentangan kini dapat digandeng bersama. Saat kita sedang terus menjelajah khazanah klasik, pada waktu yang sama kita juga melakukan dakwah via media secara tidak langsung.


Apa yang ingin disampaikan adalah para penuntut ilmu yang masih punya waktu, kesempatan, keluangan dan potensi besar agaknya menggunakan banyak waktu untuk tetap dan terus mengulik kitab, karena itu identitas penuntut ilmu, sambil melancarkan aksi dakwah via media sosial secara santai. Dalam arti share-share dulu saja pengajian para ulama, baik sepuh atau muda. Buatkan panggung bagi para ulama itu di media sosial. Sebarkan apa yang mereka ajarkan. Itulah cara yang paling mudah untuk menumbangkan akar-akar pemahaman yang semrawut.


Saya kira begitu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Kebiasaan Kita

Tulisan ini akan menjadi sangat penting bagi pembaca yang masih bergelut dengan dunia pendidikan dayah dan semacamnya yang menggunakan kitab turas (kuning) sebagai bahan ajar.      Saat masih menjadi santri--dalam arti status murid—saya sudah diwanti-wanti oleh guru privat saya untuk tidak berburu-buru dalam belajar (mengaji dan mengulang mandiri) kitab. Pun, ketika hendak berubah status menjadi “guru”, saya diwasiatkan untuk menyiapkan bahan ajar dengan benar, betapa pun bahan ajar itu sudah berulang kali diajarkan. Dan seiring waktu, dengan melihat pengalaman dan pengamalan orang lain, serta bacaan yang kian meluas sedikit demi sedikit, adalah apa yang disampaikan guru saya itu benar adanya.       Kebiasaan yang salah, siapapun pelakunya, tetaplah salah. Kita sepakat akan hal ini. Masalahnya adalah ketika kebiasaan-kebiasaan itu lambat laun akan mengakar dan dari alam bawah sadar akan tercipta keyakinan bahwa kebiasaan itulah satu-satunya jalan yang ...

Hibernasi Telah Selesai

Tak kurang 40 hari telah berlalu, menjadi tempo hibernasi bagi kalangan santri. Sebuah ruang waktu kekosongan mengaji yang akan selalu dihasrati oleh mereka. Jika masuk lebih dalam dan lebih jujur, hasrat mereka terhadap hibernasi telah melampaui dari batas normal bagi hakikat penuntut ilmu. Namun, apa boleh buat, begitu sudah tabiat dibentuk oleh lingkungan. Tentu ada banyak hal yang mereka khawatirkan dari habis masa aktif hibernasi; dirampok waktu gembira oleh belajar, ditilap kesempatan scrolling tiktok, dibabat keseruan berlaga para karakter nirnyata. Kekhawatiran itu biasanya akan muncul dalam bentuk, minimalnya, rasa mual dan pusing dalam perjalanan menuju ke Dayah; sebuah perjalanan yang begitu terasa cepat. Kekhawatiran itu dalam sejumlah babak malah diwujudkan dalam bentuk yang mereka lebih tahu. Bagi sebagian mereka, hibernasi tempo hari itu adalah tempo mematikan pikiran ilmiah, hingga tak lagi layak disebut hibernasi. Sebab, pada momen libur, mereka lebih memaknainya se...

Merangsang Semangat Keilmuan

Semua ini gara-gara  Tgk Jazuli   yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide  Baba Shafiya   kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...