Dalam kurun 4 hari belakangan ini
rezeki ku mutlak datang dari sedekah orang. Maklumlah bahwa sesungguhnya saya
seorang pemakmur "surga ilmu". Konsekuensinya, perkara finansial
berkali-kali menjadi penangkal langkah pikiran untuk terus memahami dan menyakini
bahwa Tuhan menjamin rezeki hambanya. Mungkin, mayoritas kita bahkan termasuk
saya, kerap hanya ingin mengimani jaminan-jaminan Tuhan yang nampak nyata dan
selaras dengan keinginan.
Ah, rentan betul kita ini.
Bukan rahasia lagi, soal ekonomi
saban hari menjadi problem tak terselesaikan pada penuntut ilmu di pesantren.
8/10 dari santri bisa diyakini nasib ekonominya menukik tajam ke bawah. Saban
hari pula, setiap santri yang diberi keluasan untuk keluar komplek, memutar
otak dan bahu meraba-raba tempat yang berpotensi mendatangkan rezeki halal.
Di antara mereka, saya salah satunya,
adalah orang-orang yang masih "berani" ditanggung biaya oleh
keluarga. Namun, sebagai manusia yang hampir menginjak umur tiga biji jagung,
mengirim pesan "mak, kirimkan belanja sedikit" bukan perkara enteng.
Ada ego, sadar diri, dan pesimis yang menjerat jemari menulis dan mengirim
pesan itu. Meski, pada akhirnya, dengan malu tapi mau, pesan itu juga
"dipaksa" keadaan menekan tombol kirim.
Maka, di antara pilihan hamba semacam
itu dalam pengharapan pintu rezeki, hanyalah pada sedekah. Memang, ia meyakini
hanya Tuhan lah muara rezeki. Pintunya saja yang berbeda. Namun, soal uang
(rezeki dengan makna sempit) sedikit hamba-hamba yang percaya dan mengharap
penuh pada Tuhan.
Hamba-hamba lebih gemar berharap pada
musabab sebagai hasil akhir dari sebab yang ia lakukan. Hingga, jika sebab,
dalam hal ini pekerjaan yang menghasilkan uang, tidak ada, tentu musabab kurang
menarik untuk diharapkan adanya.
Sementara itu, pengharapan pintu
rezeki melalui sedekah bagi santri adalah hal lumrah. Mereka senantiasa membuka
hati dan tangan dengan gemar menerima sedekah. Jika uang duluan lenyap dan
situs "pinjaman" cepat ditutup, sedangkan jajan bulanan belum sampai
tenggat, maka adalah sedekah orang-orang pengharapannya.
Maka tidak mengherankan bagaimana
bisa alam selaras mengatur santri menerima donasi. Mereka diundang menshalati
mayit, berdoa untuk orang meninggal, menyewa jasa baca kuburan, hingga seperti
foto yang terlampir, mereka kerap diajak untuk menunaikan kafarah untuk orang
meninggal. Itu adalah nilai magis mereka. Tak ada jenis manusia di dunia ini
seperti mereka.
Apakah itu berarti mereka menggunakan
agama sebagai pintu rejeki? Oh, tentu bukan. Soalnya begini:
Mereka adalah penempuh jalan Tuhan
dan pewaris para rasul lewat mengkaji ilmu agama. Mereka diyakini, dan memang
begitu, paling dekat doanya diistijabah oleh Allah. Memang, nama mereka tak
bergeming di dunia. Namun di langit, nama mereka ribuan kali diseru-seru oleh
jutaan malaikat. Artinya, mereka bernilai menurut Allah. Jika pada Allah saja
bernilai, jangan tanya lagi pada hamba-hambaNya. Itulah cara Allah meninggikan
derajat mereka dengan meletakkan nama mereka di relung hati masyarakat. Ketika
nama mereka tersemat dengan sempurna di hati masyarakat, maka persoalan akhirat
diserahkan kepada mereka.
Kembali ke atas, hampir-hampir gundah
dengan ketidakjelasan nasib makan sore, Tuhan mempersiapkan makan malam yang
mencukupi. Ketika itu, cepat-cepat kita meyakini "Tuhan memang paling tahu
kegundahan Hamba". Berbalik kenyataan jika ketidakjelasan itu kian tidak
jelas, jarang kita mengumpat Tuhan, paling kita hanya berani bergumam "kok
bisa Tuhan membuat ku begini". Dan itu ialah bagian peremehan takdir dan
kudrah Tuhan.
Begitulah manusia; sering mengamini
takdir yang sesuai dengan inginnya, tak jarang mempertanyakan, atau bahkan
menyalahkan, takdir yang memukul bayangnya.
Semoga, keimanan akan takdir Tuhan,
baik dan buruk, lekas-lekas kita imana dengan sempurna dan paripurna.

Komentar
Posting Komentar