Langsung ke konten utama

Merangsang Semangat Keilmuan

Semua ini gara-gara  Tgk Jazuli   yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide  Baba Shafiya   kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...

Mengimani Takdir dengan Sempurna



Dalam kurun 4 hari belakangan ini rezeki ku mutlak datang dari sedekah orang. Maklumlah bahwa sesungguhnya saya seorang pemakmur "surga ilmu". Konsekuensinya, perkara finansial berkali-kali menjadi penangkal langkah pikiran untuk terus memahami dan menyakini bahwa Tuhan menjamin rezeki hambanya. Mungkin, mayoritas kita bahkan termasuk saya, kerap hanya ingin mengimani jaminan-jaminan Tuhan yang nampak nyata dan selaras dengan keinginan.

Ah, rentan betul kita ini.

Bukan rahasia lagi, soal ekonomi saban hari menjadi problem tak terselesaikan pada penuntut ilmu di pesantren. 8/10 dari santri bisa diyakini nasib ekonominya menukik tajam ke bawah. Saban hari pula, setiap santri yang diberi keluasan untuk keluar komplek, memutar otak dan bahu meraba-raba tempat yang berpotensi mendatangkan rezeki halal.

Di antara mereka, saya salah satunya, adalah orang-orang yang masih "berani" ditanggung biaya oleh keluarga. Namun, sebagai manusia yang hampir menginjak umur tiga biji jagung, mengirim pesan "mak, kirimkan belanja sedikit" bukan perkara enteng. Ada ego, sadar diri, dan pesimis yang menjerat jemari menulis dan mengirim pesan itu. Meski, pada akhirnya, dengan malu tapi mau, pesan itu juga "dipaksa" keadaan menekan tombol kirim.

Maka, di antara pilihan hamba semacam itu dalam pengharapan pintu rezeki, hanyalah pada sedekah. Memang, ia meyakini hanya Tuhan lah muara rezeki. Pintunya saja yang berbeda. Namun, soal uang (rezeki dengan makna sempit) sedikit hamba-hamba yang percaya dan mengharap penuh pada Tuhan.

Hamba-hamba lebih gemar berharap pada musabab sebagai hasil akhir dari sebab yang ia lakukan. Hingga, jika sebab, dalam hal ini pekerjaan yang menghasilkan uang, tidak ada, tentu musabab kurang menarik untuk diharapkan adanya.

Sementara itu, pengharapan pintu rezeki melalui sedekah bagi santri adalah hal lumrah. Mereka senantiasa membuka hati dan tangan dengan gemar menerima sedekah. Jika uang duluan lenyap dan situs "pinjaman" cepat ditutup, sedangkan jajan bulanan belum sampai tenggat, maka adalah sedekah orang-orang pengharapannya.

Maka tidak mengherankan bagaimana bisa alam selaras mengatur santri menerima donasi. Mereka diundang menshalati mayit, berdoa untuk orang meninggal, menyewa jasa baca kuburan, hingga seperti foto yang terlampir, mereka kerap diajak untuk menunaikan kafarah untuk orang meninggal. Itu adalah nilai magis mereka. Tak ada jenis manusia di dunia ini seperti mereka.

Apakah itu berarti mereka menggunakan agama sebagai pintu rejeki? Oh, tentu bukan. Soalnya begini:

Mereka adalah penempuh jalan Tuhan dan pewaris para rasul lewat mengkaji ilmu agama. Mereka diyakini, dan memang begitu, paling dekat doanya diistijabah oleh Allah. Memang, nama mereka tak bergeming di dunia. Namun di langit, nama mereka ribuan kali diseru-seru oleh jutaan malaikat. Artinya, mereka bernilai menurut Allah. Jika pada Allah saja bernilai, jangan tanya lagi pada hamba-hambaNya. Itulah cara Allah meninggikan derajat mereka dengan meletakkan nama mereka di relung hati masyarakat. Ketika nama mereka tersemat dengan sempurna di hati masyarakat, maka persoalan akhirat diserahkan kepada mereka.

Kembali ke atas, hampir-hampir gundah dengan ketidakjelasan nasib makan sore, Tuhan mempersiapkan makan malam yang mencukupi. Ketika itu, cepat-cepat kita meyakini "Tuhan memang paling tahu kegundahan Hamba". Berbalik kenyataan jika ketidakjelasan itu kian tidak jelas, jarang kita mengumpat Tuhan, paling kita hanya berani bergumam "kok bisa Tuhan membuat ku begini". Dan itu ialah bagian peremehan takdir dan kudrah Tuhan.

Begitulah manusia; sering mengamini takdir yang sesuai dengan inginnya, tak jarang mempertanyakan, atau bahkan menyalahkan, takdir yang memukul bayangnya.

Semoga, keimanan akan takdir Tuhan, baik dan buruk, lekas-lekas kita imana dengan sempurna dan paripurna.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Kebiasaan Kita

Tulisan ini akan menjadi sangat penting bagi pembaca yang masih bergelut dengan dunia pendidikan dayah dan semacamnya yang menggunakan kitab turas (kuning) sebagai bahan ajar.      Saat masih menjadi santri--dalam arti status murid—saya sudah diwanti-wanti oleh guru privat saya untuk tidak berburu-buru dalam belajar (mengaji dan mengulang mandiri) kitab. Pun, ketika hendak berubah status menjadi “guru”, saya diwasiatkan untuk menyiapkan bahan ajar dengan benar, betapa pun bahan ajar itu sudah berulang kali diajarkan. Dan seiring waktu, dengan melihat pengalaman dan pengamalan orang lain, serta bacaan yang kian meluas sedikit demi sedikit, adalah apa yang disampaikan guru saya itu benar adanya.       Kebiasaan yang salah, siapapun pelakunya, tetaplah salah. Kita sepakat akan hal ini. Masalahnya adalah ketika kebiasaan-kebiasaan itu lambat laun akan mengakar dan dari alam bawah sadar akan tercipta keyakinan bahwa kebiasaan itulah satu-satunya jalan yang ...

Merangsang Semangat Keilmuan

Semua ini gara-gara  Tgk Jazuli   yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide  Baba Shafiya   kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...

Dunia Pengalihan: Manuskrip

Dunia sudah cukup sibuk dan ribut. Notifikasi bertalian datang; langganan kanal Youtube , kanal Telegram , grup-grup saling bersahutan, promo toko oranye dan hijau, dan pesan-pesan diskusi berkedok rindu. Mode senyap tak bisa membendung notifikasi itu, sebab ia makin nyaring dalam senyap. Karena itulah salah satunya, orang-orang memilih bersemedi dan mengucilkan diri dalam ruang kasatmata. Sebagian memilih untuk tenggelam dalam bacaan, sebagian lagi dalam perenungan, dan saya memilih manuskrip sebagai salah satu ma’bad , tempat ibadah intelektual saya. Setahun yang lalu, lebih kurang, saya masih asing dengan ilmu Tahqiq Makhtutat , filologi sebutan canggihnya. Jauh sebelum itu lagi, saya masih curiga dengan pekerjaan semacam itu. Apa soal orang-orang mau sibuk untuk membaca teks kuno yang – bahkan membuat mata kusam – kemudian disalin ulang, dipermak, hingga layak dibaca dengan mudah. Maksudnya, nikmatnya itu di mana? Lalu saya jatuh ke dalam ruang itu tanpa sengaja diajak oleh seorang...