Langsung ke konten utama

Merangsang Semangat Keilmuan

Semua ini gara-gara  Tgk Jazuli   yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide  Baba Shafiya   kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...

Sebatang Rokok, Sesetengah Kopi Susu

Adapun sebagian dari anugerah Tuhan ialah rokok dan kopi. Pasalnya, Tuhan telah bersuara dalam kitab-Nya bahwa tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang diciptakan sia-sia, tanpa makna. Bahkan "hanya" semut di dalam batu pun masih memiliki makna dari keberadaannya di dunia. Tak pelak, kopi dan rokok sama belaka dengan semut itu. 

Terlepas dari berbagai hukum dan sifat yang disematkan manusia pada kedua hal itu, tetap saja kedua hal itu memiliki maknanya sendiri. Namun, agaknya makna yang tersimpan di sana hanya sebatas makna i'tibary. Artinya hanya yang mau memandang itu makna maka ia bermakna, bagi yang tidak maka tak ada pula makna yang tekandung di dalamnya. Alhasil, kebermaaknaan rokok dan kopi bersifat relatif.

Makna yang tersimpan dalam keduanya berupa; pertama, sungguh kadang dipandang negatif, keduanya dalam ukuran tertentu memberi faedah tertentu juga. Rokok, yang memang banyak orang menutupi mata darinya, dalam kasus tertentu dapat menyelamatkan kesendirian yang dialami seseorang. Ia menyelamatkan ketidakpastian aktifitas yang ingin dilakukan. Sementara kopi susu, berbanding terbalik dengan rokok. Ia lebih dianggap 'anak kandung', meski kadang juga bagai 'anak tiri'. Keuntungannya ada yang bersifat agamawi dan duniawi.

Duniawi, kopi sedikit banyak dapat mengubah kebiasaan orang-orang mengonsumsi minuman yang baik. Tidak hanya itu, kopi lebih dari sekedar teman duduk. Ia menjadi alasan aktifnya seseorang. Agamawi, telah banyak diskursus dan pengalaman mistik terkait kopi. Tengok para sufi, agamawan, ulama mengonsumsi kopi untuk tujuan yang mulia.

Namun, ya, kembali ke situ lagi. Siapa yang ingin mengambil makna di balik sesuatu lekas ia akan mendapatkannya. Siapa yang tidak, sungguh disuapkan orang lain pun ia tidak akan percaya.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Kebiasaan Kita

Tulisan ini akan menjadi sangat penting bagi pembaca yang masih bergelut dengan dunia pendidikan dayah dan semacamnya yang menggunakan kitab turas (kuning) sebagai bahan ajar.      Saat masih menjadi santri--dalam arti status murid—saya sudah diwanti-wanti oleh guru privat saya untuk tidak berburu-buru dalam belajar (mengaji dan mengulang mandiri) kitab. Pun, ketika hendak berubah status menjadi “guru”, saya diwasiatkan untuk menyiapkan bahan ajar dengan benar, betapa pun bahan ajar itu sudah berulang kali diajarkan. Dan seiring waktu, dengan melihat pengalaman dan pengamalan orang lain, serta bacaan yang kian meluas sedikit demi sedikit, adalah apa yang disampaikan guru saya itu benar adanya.       Kebiasaan yang salah, siapapun pelakunya, tetaplah salah. Kita sepakat akan hal ini. Masalahnya adalah ketika kebiasaan-kebiasaan itu lambat laun akan mengakar dan dari alam bawah sadar akan tercipta keyakinan bahwa kebiasaan itulah satu-satunya jalan yang ...

Merangsang Semangat Keilmuan

Semua ini gara-gara  Tgk Jazuli   yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide  Baba Shafiya   kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...

Dunia Pengalihan: Manuskrip

Dunia sudah cukup sibuk dan ribut. Notifikasi bertalian datang; langganan kanal Youtube , kanal Telegram , grup-grup saling bersahutan, promo toko oranye dan hijau, dan pesan-pesan diskusi berkedok rindu. Mode senyap tak bisa membendung notifikasi itu, sebab ia makin nyaring dalam senyap. Karena itulah salah satunya, orang-orang memilih bersemedi dan mengucilkan diri dalam ruang kasatmata. Sebagian memilih untuk tenggelam dalam bacaan, sebagian lagi dalam perenungan, dan saya memilih manuskrip sebagai salah satu ma’bad , tempat ibadah intelektual saya. Setahun yang lalu, lebih kurang, saya masih asing dengan ilmu Tahqiq Makhtutat , filologi sebutan canggihnya. Jauh sebelum itu lagi, saya masih curiga dengan pekerjaan semacam itu. Apa soal orang-orang mau sibuk untuk membaca teks kuno yang – bahkan membuat mata kusam – kemudian disalin ulang, dipermak, hingga layak dibaca dengan mudah. Maksudnya, nikmatnya itu di mana? Lalu saya jatuh ke dalam ruang itu tanpa sengaja diajak oleh seorang...