Saya punya kawan. Jauh sebelum hari ini, satu waktu ia berujar pada saya “Di, coba saja ada teknologi pencatat isi pikiran saya yakin betapa banyak ide-ide luarbiasa dan liar lahir dari toilet”. Saya ketawa, tentu. Tetapi makin ke sini saya tidak dapat menolak sepenuhnya maksud dasar omongan teman saya itu.
Mari kali ini kita menganggap toilet itu bukan tempat yang jorok. Kalau sudah terlanjur menganggap demikian, ya, tidak mengapa. Bagaimanapun, hampir sebagian orang—untuk tidak mengatakan semuanya—menganggap toilet lebih dari sekedar tempat membuang yang lebih dari tubuh. Di samping ia menjadi kandang syaitan, ternyata toilet juga bisa menjelma rumah ide. Ya, rumah ide. Boleh jadi ide sebuah tulisan, karangan, pidato dan ide-ide positif lainnya.
Mungkin ini lebih ke pengalaman saya sendiri. Bagi saya, masuk ke toilet bukan hanya untuk buang hajat, saya cukup keras menduga saya bisa menemukan ide-ide untuk tulisan saya. Apalagi kalau perut sedang bermusuhan. Untuk menyiasati sakit perut berulang kali saya berusaha memikirkan apa yang perlu dipikirkan. Tidak semua waktu, tentunya, saya menemukan ide-ide bagus untuk dituliskan atau hanya dibicarakan.
Barangkali, itulah kenapa sering ditemukan tulisan pendek lagi kecil di toilet-toilet umum. Dinding toilet tidak jarang menjadi media untuk menyalurkan ide yang timbul dan tumbuh di sana.
Dan tulisan ini pun terbesit di pikiran di toilet. Dengan mendapatkan ide bagus sakit perut tak kan terasa. Dengan berhasil mewujudkan ide toilet bukan hanya soal jorok.

Sippp, setuju bgt. jawaban soal ujian ingatnya ketika d hamam😆 tpi giliran pas ujian pada ngeblank😣😣
BalasHapus