Langsung ke konten utama

Postingan

Merangsang Semangat Keilmuan

Semua ini gara-gara  Tgk Jazuli   yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide  Baba Shafiya   kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...

Harmoni Kesungguhan Dalam Pembelajaran Kitab Kuning

   Diantara sebab keberhasilan pembelajaran kitab kuning dan sampai kepada target ialah harmoni kesungguhan. Harmoni kesungguhan ini dapat diartikan sebagai keselarasan atau keserasian kesungguhan dalam pembelajaran yang terjalin antara pendidik dan murid. Artinya kesungguhan harus muncul dari dua arah; pendidik dan murid.       Bentuk paling nyata dari harmoni kesungguhan ini adalah pendidik mempersiapkan bahan ajar. Sementara di sisi lain, murid juga harus menyiapkan diri dengan membaca dan memeriksa lebih dahulu pada maqra’ yang akan diajarkan. Saat kedua belah pihak tidak mewujudkan kesungguhan ini, maka tiada lagi harmoni dalam pembelajaran. Ibaratnya, cinta bertepuk sebelah tangan, atau malah cinta yang tak pernah bertepuk dan bertemu.      Tak usah ragu, para ulama dulu hingga kiwari tetap mensyaratkan hal ini dalam pembelajaran. Mereka mengkategorikan harmoni ini dalam bagian adab-adab guru dan murid dalam pembelajaran. Artinya, ia ad...

Madinah: Damai yang Tabah (1)

Konon, ketika Harun ar-Rasyid menjabat gubernur Madinah ia hendak melaksanakan haji ke Mekkah, sang pemilik Muwatta’, Imam Malik, ditanya oleh Harun, “Apa kau punya rumah?” Imam Malik menjawab “Tidak”. Lalu Harun memberikannya 3000 dinar, dan berujar, “Belikan rumah dengan uang itu”. 3000 dinar itu sebanding lebih kurang 6 M rupiah. Lantas Imam Malik mengambilnya dan tidak menginfaknya kemana-mana. Lalu, Imam Malik diajak olehnya untuk keluar dari Madinah untuk menyebarluaskan Muwatta’, sebagaimana Usman bin Affan menyebarkan mushafnya. Tanpa tempo, Imam Malik menjawab, “Kalau soal menyerbarkan Muwatta’, itu tidak ada caranya. Sebab para sahabat rasul setelah wafatnya tersebar di berbagai belahan bumi. Mereka membawa hadis rasulullah. Maka setiap tempat ada ilmunya. Lagi pula, rasul pernah bilang ‘perbedaan umatku adalah rahmat’. Sedangkan soal keluar dari Madinah, itu pun tidak ada jalannya. Pasalnya, Rasul bilang ‘sungguh, madinah lebih baik bagi mereka andai mereka mengetahuinya’ da...

Mememorikan Tanah Haramain

Tiga bulan sudah blog ini hening. Alasannya bermacam saja, yang tak perlu dibeberkan. Lalu, tiga bulan lebih juga saya absen menulis. Dari menulis hal-hal yang serius hingga yang tetek bengek pun jemari saya absen mengetik huruf-huruf. Kasian sekali, Kemudian dari pada itu, terpantik niat untuk menyegarkan blog dengan catatan singkat saya selama di Saudi Arabia—utamanya Mekkah dan Madinah—selama lebih kurang dua bulan setengah. Namun, niat itu terbatalkan lagi. Barusan—saat tulisan ini dirangkai—niat itu kembali saya upayakan muncul lalu menggantungkannya di tiang gantung untuk mengeksekusinya secepat mungkin. Saya ingin mengeksekusinya, sebagaimana pada ide-ide yang telah teruraikan tempo dulu. Mari, Tulisan ini akan menjadi benang atau utas menjalin setiap momen yang saya temukan di Mekkah dan Madinah. Selain tersedia foto-foto di sana, saya ingin menguraikan dalam bentuk kata-kata, selain juga mencoba mengulas apa saja yang terdapat di balik foto-foto itu. Jadi, selamat menikmati, d...

Ada Sesuatu Di Balik Nama Dalam Doa

Orang-orang bilang, tidak perlu menyatakan cinta, cukup sebut namanya dalam doa. Sebab Tuhan lebih mafhum perihal jodoh. Jadi, boleh jadi doa-doa itu mengubah apa yang sudah tertulis di ‘daun terjaga’, kalau memang yang tertulis di sana bukan nama yang disebut dalam doa. Atau, menahkikkan nama yang sudah tertulis. Sedangkan doa hanya usaha meyakinkan diri akan ketetapan itu. Sedangkan dia, sebalik itu pada awalnya. Dia tidak begitu setuju memuat nama seseorang dalam doa, sebagai permintaan, pernyataan, dan peneguhan harapan jodoh. Apalagi penyebutan itu disebut-sebut pada bukan waktunya. Permintaan pada bukan waktunya, menurutnya, hanya sebagai alibi menyegerakan takdir.  Kalau sudah cinta, ya sampaikanlah cinta itu, tapi dengan syarat cukup cinta saja. Tidak lebih. Tidak diaduk dengan hasrat memiliki. Artinya tidak menginginkan dan menghendaki hal-hal di luar cinta, seperti harapan bersatu dan menyegerakan memiliki.  Cinta begitu sederhana, kita saja yang membuatnya merepotka...

Acting Baru, Syukuran Dulu

Saya berada dalam barisan orang-orang yang percaya bahwa menjadi santri adalah pilihan dan bakat-bakat selain keilmuan agama juga perlu dikembangkan sedemikian rupa, sebagaimana zaman berkembang. Menulis—lebih khusus lagi saya menyebutnya sebagai pembumian pesan-pesan turats— dan mengedit tulisan adalah di antara bakat yang mesti dioptimalkan oleh orang-orang yang mau. Paruh awal tahun ini saya dikejutkan oleh hal-hal yang tidak biasa. Seorang dosen Ma’had Aly samalanga meminta saya untuk mengedit dan mengoreksi karyanya. Saya meminta waktu berpikir. Pikir saya, pertama, kemampuan editing belumlah lagi mapan. Pengalaman editing tidak sementereng editor-editor buku lainnya. Belum lagi perbendaharaan kaidah bahasa Indonesia yang tidak lengkap, serta tidak pernah mengikuti workshop atau kelas editing, macam orang-orang lakukan. Kalau saya menerima tawaran ini, hanya ada dua kemungkinan: melelahkan diri sendiri, atau berakibat buruk pada karya orang lain. Kedua, kali ini cara berpiki...

Tembok Ratapan Ini Dinding Toilet

Tembok ratapan sisa dinding suci yang dibangun Raja Herodes di Yerusalem itu hanyalah tempat suci bagi orang Yahudi. Pada hari sakral, dinding itu diwajahi oleh tubuh-tubuh orang Yahudi. Ritual paling sakral di sana adalah peratapan dosa-dosa orang Yahudi. Mereka percaya, bekas dinding suci itu tidak hancur akibat bersemayamnya ruh Tuhan. Berapapun jumlah dosa diratapi, dinding itu masih sebagaimana adanya. Jauh dari Yerusalem, sebuah dinding telah mengambil tempat penting dalam peradaban manusia. Hingga juga, meski tidak semua, menjadi bukti timeline kehidupan sehari-hari. Dinding itu lebih dari sekedar tempat pengakuan dan pembuangan ‘dosa-dosa’. Ia bahkan seringnya menjelma beranda sosial media. Anda lihat sendiri beranda media sosial, semuanya tertumpah di sana. Apa saja ada. Sepuluh tangan pantas diangkat sebagai tabik bagi penemu toilet berdinding tembok. Pasalnya, bukan hanya di Jazirah Arab yang dulunya tak mengenal toilet berdinding—hingga persoalan BAB diatur demikian r...

Dewasa Itu T’lah Meledak

Iklan salah satu provider jaringan internet Indonesia pernah bilang, “jadi orang gede menyenangkan, tapi susah dijalanin”. Ujaran itu semacam afirmasi betapa kedewasaan adalah fase yang menggiurkan dan melelahkan sekaligus.  Sementara itu, kepada Ibu, setelah saya mengabarkan kebingungan saya untuk mengambil keputusan besar, ia berujar pula; kamu sudah dewasa. Buat dan ambil keputusan olehmu sendiri. Pada Ibu hanya ada pertimbangan. … Setelah berpikir keras dan akhirnya lelah, saya berkesimpulan bahwa selain suatu kepayahan akan selalu datang-berlalu, adalah membuat keputusan besar tidak lebih nyaman dan mudah ketimbang menerima keputusan. Menerima keputusan besar, sungguh pun jika berat, hanya perlu keluangan dada untuk menerimanya. Demikian hanyalah soal penerimaan. Berbalik penuh dengan membuat keputusan. Selain luang dada untuk menerima di kemudian hari, juga perlu kebijakan penuh dan kehati-hatian stabil. Kini, kedewasaan itu tampil menampakkan diri seolah ingin meledak. Menga...