Langsung ke konten utama

Merangsang Semangat Keilmuan

Semua ini gara-gara  Tgk Jazuli   yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide  Baba Shafiya   kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...

Tembok Ratapan Ini Dinding Toilet


Tembok ratapan sisa dinding suci yang dibangun Raja Herodes di Yerusalem itu hanyalah tempat suci bagi orang Yahudi. Pada hari sakral, dinding itu diwajahi oleh tubuh-tubuh orang Yahudi. Ritual paling sakral di sana adalah peratapan dosa-dosa orang Yahudi. Mereka percaya, bekas dinding suci itu tidak hancur akibat bersemayamnya ruh Tuhan. Berapapun jumlah dosa diratapi, dinding itu masih sebagaimana adanya.

Jauh dari Yerusalem, sebuah dinding telah mengambil tempat penting dalam peradaban manusia. Hingga juga, meski tidak semua, menjadi bukti timeline kehidupan sehari-hari. Dinding itu lebih dari sekedar tempat pengakuan dan pembuangan ‘dosa-dosa’. Ia bahkan seringnya menjelma beranda sosial media. Anda lihat sendiri beranda media sosial, semuanya tertumpah di sana. Apa saja ada.

Sepuluh tangan pantas diangkat sebagai tabik bagi penemu toilet berdinding tembok. Pasalnya, bukan hanya di Jazirah Arab yang dulunya tak mengenal toilet berdinding—hingga persoalan BAB diatur demikian rapat dalam fikih—, bahkan di satu desa di India sekalipun pada suatu waktu tidak mengenal toilet. Orang-orang yang mau BAB mesti mencari parit saat gelap malam, lengkap dengan lampion dan air. Tragedi ini pernah diangkat dalam film komedi-drama berjudul Toilet, diperankan Akshay Kumar dan Bhumi Pednekar. Terlihat betul betapa besar nikmat punya toilet, apalagi yang berdinding tembok.

Dinding tembok toilet itu, di beberapa lokasi, khususnya di Pesantren, lebih dari sekedar dinding pembatas. Peringatan untuk menyiram kloset berkali-kali dibubuhkan, pengumuman libur, berbagi ID game atau akun medsos, hingga komentar-komentar liar dan kocak, macam di media sosial, dapat ditemukan berserakan di dinding itu.

Jika ada pertandingan bola partai besar dalam 3 hari mendatang, dan dicoret oleh penulis di dinding, dijamin pada hari keempat akan tersedia hasil skor, macam di Google saja, lengkap dengan euphoria kemenangan. Mau ajak tanding bola, tapi malu-malu, pasti dipancing lewat pesan di dinding itu. Sebagai ganti peringatan untuk diri sendiri agar jangan bersembunyi dalam toilet karena pasai mengikuti kajian atau menghindari sejumlah aktivitas juga sering ditemukan di dinding itu.

Ada suatu kepercayaan yang bercokol diam-diam di alam bawah sadar mereka, pesan-pesan itu akan sampai pada yang dimaksud, atau hanya demi mempertahankan ide yang sekonyong-konyong datang saat dalam toilet. Menulis sesuatu di dinding dapat memuaskan jiwa, macam Anda selesai berbagi stori dan postingan.

Bukan hanya ratapan-ratapan kesedihan hidup di pesantren, ide-ide cemerlang juga kerap ditinggaljejak di dinding itu. Seakan ide itu harus bercokol dulu di sana untuk beberapa hari, untuk kemudian disambangi lagi dan disempurnakan.

Siapa duga, wajah-wajah gembira yang lalu-lalang itu lebih menyimpan banyak misteri, ide, kegundahan, hingga ratapan. Pengguna toilet itu dijamin tidak akan bosan BAB di toilet yang sama, bahkan hingga 7 tahun sekalipun.

Tidak menjaga keindahan? Oh, iya, memang. Tetapi, bukankah coretan-coretan itu, minimalnya, bisa jadi pengubah ide-ide Anda, atau bahkan membantu mengatasi kebosanan BAB tiap hari? Syukuri dan nikmati sajalah.

 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Kebiasaan Kita

Tulisan ini akan menjadi sangat penting bagi pembaca yang masih bergelut dengan dunia pendidikan dayah dan semacamnya yang menggunakan kitab turas (kuning) sebagai bahan ajar.      Saat masih menjadi santri--dalam arti status murid—saya sudah diwanti-wanti oleh guru privat saya untuk tidak berburu-buru dalam belajar (mengaji dan mengulang mandiri) kitab. Pun, ketika hendak berubah status menjadi “guru”, saya diwasiatkan untuk menyiapkan bahan ajar dengan benar, betapa pun bahan ajar itu sudah berulang kali diajarkan. Dan seiring waktu, dengan melihat pengalaman dan pengamalan orang lain, serta bacaan yang kian meluas sedikit demi sedikit, adalah apa yang disampaikan guru saya itu benar adanya.       Kebiasaan yang salah, siapapun pelakunya, tetaplah salah. Kita sepakat akan hal ini. Masalahnya adalah ketika kebiasaan-kebiasaan itu lambat laun akan mengakar dan dari alam bawah sadar akan tercipta keyakinan bahwa kebiasaan itulah satu-satunya jalan yang ...

Hibernasi Telah Selesai

Tak kurang 40 hari telah berlalu, menjadi tempo hibernasi bagi kalangan santri. Sebuah ruang waktu kekosongan mengaji yang akan selalu dihasrati oleh mereka. Jika masuk lebih dalam dan lebih jujur, hasrat mereka terhadap hibernasi telah melampaui dari batas normal bagi hakikat penuntut ilmu. Namun, apa boleh buat, begitu sudah tabiat dibentuk oleh lingkungan. Tentu ada banyak hal yang mereka khawatirkan dari habis masa aktif hibernasi; dirampok waktu gembira oleh belajar, ditilap kesempatan scrolling tiktok, dibabat keseruan berlaga para karakter nirnyata. Kekhawatiran itu biasanya akan muncul dalam bentuk, minimalnya, rasa mual dan pusing dalam perjalanan menuju ke Dayah; sebuah perjalanan yang begitu terasa cepat. Kekhawatiran itu dalam sejumlah babak malah diwujudkan dalam bentuk yang mereka lebih tahu. Bagi sebagian mereka, hibernasi tempo hari itu adalah tempo mematikan pikiran ilmiah, hingga tak lagi layak disebut hibernasi. Sebab, pada momen libur, mereka lebih memaknainya se...

Merangsang Semangat Keilmuan

Semua ini gara-gara  Tgk Jazuli   yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide  Baba Shafiya   kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...