Saya berada dalam barisan orang-orang yang percaya bahwa menjadi santri adalah pilihan dan bakat-bakat selain keilmuan agama juga perlu dikembangkan sedemikian rupa, sebagaimana zaman berkembang. Menulis—lebih khusus lagi saya menyebutnya sebagai pembumian pesan-pesan turats— dan mengedit tulisan adalah di antara bakat yang mesti dioptimalkan oleh orang-orang yang mau.
Paruh awal tahun ini saya dikejutkan oleh hal-hal yang tidak
biasa. Seorang dosen Ma’had Aly samalanga meminta saya untuk mengedit dan
mengoreksi karyanya. Saya meminta waktu berpikir.
Pikir saya, pertama, kemampuan editing belumlah lagi mapan.
Pengalaman editing tidak sementereng editor-editor buku lainnya. Belum lagi
perbendaharaan kaidah bahasa Indonesia yang tidak lengkap, serta tidak pernah
mengikuti workshop atau kelas editing, macam orang-orang lakukan. Kalau saya
menerima tawaran ini, hanya ada dua kemungkinan: melelahkan diri sendiri, atau berakibat buruk pada karya orang lain.
Kedua, kali ini cara berpikir saya agak menyimpang dari
pikir pertama, saya meyakini bahwa suatu kemampuan akan subur ketika ia
senantiasa diasah. Editing bukanlah hal yang benar-benar baru bagi saya.
Sebelumnya, pernah mengedit konten media dayah, tulisan-tulisan untuk website
dan majalah dayah. Bukankah menerima tawaran ini adalah bagian dari rangkaian
proses menyuburkan kemampuan editing?
Saya menafikan pikiran pertama, memutuskan mengambil pikiran
kedua, meski terkesan agak terburu-buru. Alasan kenapa saya menerima tawaran
itu, ya, karena saya mau mengembangkan bakat itu dengan langsung terjun dalam
dunia editing serta melengkapi pengetahuan editing dalam prosesnya. Begitu.
Buku Dari Mereka Kita Belajar adalah debut resmi pertama
saya dalam dunia editung, seresmi-resminya. Terima kasih kepada penyusunnya.
Beliau telah berani mempercayakan karya keduanya pada saya untuk saya
operasikan sebagaimana baiknya bagi saya, beliau, dan pembaca.
Hari ini saya begitu lega, karena telah selesai membantu orang lewat mengedit karya mereka. Satu naskah buku, satunya lagi cerpen sudah saya sempurnakan. Ah, nikmat betul. Atas kelegaan itu lah saya menulis ini, sebagai bentuk syukur saya atas acting baru saya sebagai Editor lepas.
Boleh jadi itu debut perdana sekaligus terakhir saya sebagai editor resmi, kemungkinan pula saya terus menjadi editor sepanjang ada tawaran. Mari saya lihat sendiri, tidak perlu anda lihat. Anda cukup terus memperjuangkan keinginan dan mengasah kemampuan anda, apapun itu asal baik.

Komentar
Posting Komentar