Langsung ke konten utama

Merangsang Semangat Keilmuan

Semua ini gara-gara  Tgk Jazuli   yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide  Baba Shafiya   kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...

Madinah: Damai yang Tabah (1)

Konon, ketika Harun ar-Rasyid menjabat gubernur Madinah ia hendak melaksanakan haji ke Mekkah, sang pemilik Muwatta’, Imam Malik, ditanya oleh Harun, “Apa kau punya rumah?” Imam Malik menjawab “Tidak”. Lalu Harun memberikannya 3000 dinar, dan berujar, “Belikan rumah dengan uang itu”. 3000 dinar itu sebanding lebih kurang 6 M rupiah. Lantas Imam Malik mengambilnya dan tidak menginfaknya kemana-mana.

Lalu, Imam Malik diajak olehnya untuk keluar dari Madinah untuk menyebarluaskan Muwatta’, sebagaimana Usman bin Affan menyebarkan mushafnya. Tanpa tempo, Imam Malik menjawab, “Kalau soal menyerbarkan Muwatta’, itu tidak ada caranya. Sebab para sahabat rasul setelah wafatnya tersebar di berbagai belahan bumi. Mereka membawa hadis rasulullah. Maka setiap tempat ada ilmunya. Lagi pula, rasul pernah bilang ‘perbedaan umatku adalah rahmat’. Sedangkan soal keluar dari Madinah, itu pun tidak ada jalannya. Pasalnya, Rasul bilang ‘sungguh, madinah lebih baik bagi mereka andai mereka mengetahuinya’ dan ‘madinah akan menghilangkan kotoran dosa-dosa orang di dalamnya’. Nih, dinarmu kukembalikan sebagaimana adanya; kalau mau ambil, kalau tidak tinggalkan saja” tegas Imam Malik.


Demikianlah, yang mengetahui keberhargaan sesuatu sungguh tak akan menyia-nyiakannya. Bagaimana bisa, seorang seperti imam Malik tega meninggalkan Madinah. Jangankan beliau, para peziarah yang silih berganti pun, kalau bisa, tidak meninggalkan madinah. Orang yang telah menginjakkan kaki di Madinah, pasti akan menyesali kepergiaanya. 


Kalau soal kelebihan, Madinah hanya kalah dari Mekkah sebagai sebaik-baik bumi Allah. Walaupun begitu, menurut mayoritas ulama, tanah tempat dikuburkan rasul adalah sebaik-baik tanah di muka bumi. Demikian karena tanah tersebut menyelimuti tubuh sebaik-baik manusia.


Kelebihan lainnya madinah ialah, sebagaimana pesan rasul, laa yashbiru ‘ala la’waiha wa syiddatiha ahadun illa kuntu lahu syafi’an aw syahidan yaumal qiyamah, tidak seorang pun yang bersabar atas kesempitan di madinah melainkan akulah saksi dan pemberi syafaat baginya nanti di hari kiamat. Maksudnya, orang yang bersabar atas ketidaknyamanan yang dirasakan di Madinah akan mendapatkan kesaksian dan syafaat dari Rasulullah nantinya.


Keuutamaan puncak di madinah adalah man dzarani wajabat lahu syafa’ati, orang yang menziarahiku wajib baginya syafaatku. Itu adalah keuutaman yang tak dapat ditawar lagi. Pasti. Juga, man dzarani maytan faqad dzarani hayyan,orang yang menziarahiku saat aku telah wafat sungguh ia menziarahiku saat aku hidup. Tengok, cukuplah ini kebahagiaan yang nyata bagi penziarah Rasul. Ziarah yang bukan untuk mengasas keyakinan kepadanya—seperti halnya para utusan mendatangi rasul untuk berbaiat—melainkan untuk menperkuat dan mengokohkan keyakinan kepadanya.


Selain itu, rasul juga mendoakan tanah, takaran makanan pokok, hingga pepohonan madinah sebagaimana nabi Ibrahim mendoakannya kepada Mekkah. Makanya hasil kurma di Madinah itu berkah dan lezat—meski soal harga itu relatif mahal. 


Hingga kini, Madinah, bukan hanya nama yang disematkan pada lokasi yang suci itu. Melainkan juga bermakna; diyanah, taat. Begitulah pada awalnya nama itu dinamakan langsung oleh Allah dan Rasul begitu beliau tiba di sana saat berhijrah. Nama itu sebagai pengganti nama Yatsrib, kacau. Di samping itu, ia juga memiliki nama lainnya, yaitu Thabah dan Taibah, yang sama-sama bermakna baik dan elok.


Begitulah, cukuplah namanya saja untuk memberikan makna keindahan dan kedamaian yang tabah di Madinah. Siapa saja yang telah menginjakkan kaki di tanah itu, wajib baginya menginginkannya lagi dan lagi.

Arah timur dari Maqbarah Rasul

Salah satu dinding di bagain depan Maqbarah Rasul

Pintu Bab As-Salam




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Kebiasaan Kita

Tulisan ini akan menjadi sangat penting bagi pembaca yang masih bergelut dengan dunia pendidikan dayah dan semacamnya yang menggunakan kitab turas (kuning) sebagai bahan ajar.      Saat masih menjadi santri--dalam arti status murid—saya sudah diwanti-wanti oleh guru privat saya untuk tidak berburu-buru dalam belajar (mengaji dan mengulang mandiri) kitab. Pun, ketika hendak berubah status menjadi “guru”, saya diwasiatkan untuk menyiapkan bahan ajar dengan benar, betapa pun bahan ajar itu sudah berulang kali diajarkan. Dan seiring waktu, dengan melihat pengalaman dan pengamalan orang lain, serta bacaan yang kian meluas sedikit demi sedikit, adalah apa yang disampaikan guru saya itu benar adanya.       Kebiasaan yang salah, siapapun pelakunya, tetaplah salah. Kita sepakat akan hal ini. Masalahnya adalah ketika kebiasaan-kebiasaan itu lambat laun akan mengakar dan dari alam bawah sadar akan tercipta keyakinan bahwa kebiasaan itulah satu-satunya jalan yang ...

Merangsang Semangat Keilmuan

Semua ini gara-gara  Tgk Jazuli   yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide  Baba Shafiya   kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...

Dunia Pengalihan: Manuskrip

Dunia sudah cukup sibuk dan ribut. Notifikasi bertalian datang; langganan kanal Youtube , kanal Telegram , grup-grup saling bersahutan, promo toko oranye dan hijau, dan pesan-pesan diskusi berkedok rindu. Mode senyap tak bisa membendung notifikasi itu, sebab ia makin nyaring dalam senyap. Karena itulah salah satunya, orang-orang memilih bersemedi dan mengucilkan diri dalam ruang kasatmata. Sebagian memilih untuk tenggelam dalam bacaan, sebagian lagi dalam perenungan, dan saya memilih manuskrip sebagai salah satu ma’bad , tempat ibadah intelektual saya. Setahun yang lalu, lebih kurang, saya masih asing dengan ilmu Tahqiq Makhtutat , filologi sebutan canggihnya. Jauh sebelum itu lagi, saya masih curiga dengan pekerjaan semacam itu. Apa soal orang-orang mau sibuk untuk membaca teks kuno yang – bahkan membuat mata kusam – kemudian disalin ulang, dipermak, hingga layak dibaca dengan mudah. Maksudnya, nikmatnya itu di mana? Lalu saya jatuh ke dalam ruang itu tanpa sengaja diajak oleh seorang...