Langsung ke konten utama

Postingan

Merangsang Semangat Keilmuan

Semua ini gara-gara  Tgk Jazuli   yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide  Baba Shafiya   kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...

Membaca Kerapuhan Pribadi Mukmin Masa Kini

Sebelum memasuki tulisan ini saya ingin menyambut pembaca lebih dahulu, bahwa tulisan di bawah ini merupakan hasil dari kegelisahan, perenungan dan penghayatan saya atas tanggapan kita terhadap isu-isu agama yang mencuat belakangan ini atau ke depannya. Tulisan ini merupakan catatan samping(Caping) saya, sangat boleh jadi ini bukanlah akhir dari penghayatan saya secara total. Untuk itu silakan pembaca menikmatinya. Silakan memasukinya, Tuan Puan. Menengok realitas makin ke sini agaknya tidak berlebihan bila menegaskan kembali bahwa kemapanan iman sebagian kita umat islam kian rapuh. Sebagai tandanya, ketakutan dan pesimistis hampir—untuk  tidak berkata sudah—akut  dalam pribadi muslim, bahkan mendominasi kekuatan iman. Takut agamanya dilecehkan, takut Tuhannya dicibir, takut berhadapan dengan yang berpaham bersebrangan, takut simbol-simbol agama dicela, dan takut-takut lain yang tidak semestinya ditakuti. Padahal Allah telah menuturkan dalam maha karyaNya, seperti di...

Bukan Mi Instan: Meluruskan Asumsi Belajar Agama yang Keliru

"Lebih singkat, lebih sederhana, lebih cepat, lebih indah dan lebih menghibur" kira-kira semacam itu berita, informasi dan pengetahuan yang kita inginkan, yang kita buru. Saking singkatnya kita tidak benar-benar paham apa yang ingin disampaikan. Saking cepatnya kita diguyuri hujan berita dan tidak betul-betul menyerapnya. Sebegitu indah hingga kita abai pada inti pesan yang disampaikan. Hingga akal kita hampir mati dihujani berita. Hingga dalam masalah keagamaan, diolahlah ajaran-ajaran agama dengan kemasan yang menggiurkan, dengan "plastik" yang indah, dan tentunya disuguhkan oleh manusia yang paham selera kita, bukan yang paham dengan kebutuhan kita. Sedikit bahkan tidak ada orang yang menolak hal-hal yang instan di masa macam ini. Sama seperti halnya Mi instan, ia tidak ditolak bagaimanapun diolah, ia tetap punya rasa sedap. Berbalik kenyataan dengan Mi kuning, untuk mendapatkan rasa yang gurih ia harus diolah oleh orang yang benar pah...

Ampunan Yang Dicandai

Tidak kurang dari sepuluh kali Allah menfirmankan tentang kemurahanNya memberi maaf kepada hamba. Bahkan yang cukup majemuk diketahui, selain menduakanNya, semua dosa dan kesalahan hamba diampuni.  Pengampunan sepenuhnya didapatkan dengan ketentuan yang sudah baku. Ialah Taubat. Secara vokabuler Taubat bermakna; kembali ke jalan yang benar; menyesali kesalahan yang telah lalu. Dari sekian dosa yang ada, dosa besarlah yang dihapus oleh pertaubatan. Adapun dosa kecil, tidak sedikit Tuhan meletakkan momentum untuk menghapusnya. Mulai dari istighfar, bertasbih, puasa dan tindakan kebaikan lain yang tak terkira jumlahnya. Untuk saat ini, membuktikan bahwa pemberian maaf Allah kepada hamba luas nian.  Barangkali kita juga pernah mendengar kabar bahwa Allah mengatakan "Usahlah berputus asa dari pengampunanKu. Sebab pengampunanKu lebih luas, lebih besar, lebih dalam dari dosa-dosa kalian. Dosa kalian tidak berbanding secuil pun dengan pengampunanKu. Maka teruslah meminta ampu...

Khawatir Yang Dahsyat

Kecemasan dan kekhawatiran ialah dua dari sekian sifat alamiah manusia. Bila tak ada maka manusia kurang dari setengah sempurna. Bila berlebihan hampir mungkin membuat manusia gila. Karenanya sesuatu itu baik pada pertengahan, meski tidak semuanya. Kecemasan ini lahir dari masa depan. Berdiri di setiap lorong lintasan kehidupan. Saya kira, ia terlebih dahulu lahir dari kita. Allah menyebutkan dalam kitab suciNya, bahwa hanya orang yang beriman (percaya sepenuhnya) kepadaNya lah yang tidak ada ketakutan, kecemasan dan kebimbangan. Maksudnya, Allah memberi karunia kepada hamba yang beriman berupa kekuatan untuk menetralkan rasa kecemasan.  Satu dari beberapa bagian kecemasan manusia ialah tentang bagaimana akhir hidupnya dan apa yang akan menantinya setelah melewati stadium kehidupan kedua ini. Kekhawatiran ini mengungguli kekhawatiran akan ada-tidaknya makanan untuk esok. Ia tampak lebih menyeramkan dari pada kecemasan akan seperti apa jodoh kita ...

Surel Kepada Baginda

Selamat malam, Baginda. Baginda apa kabar? Semoga senantiasa Allah limpahkan salawat dan salam kepadamu, Baginda. Malam ini, katanya, malam yang lebih kau cintai dari pada malam-malam yang lain. Katanya, malam ini engkau duduk bersahaja, menunggu umatmu mengungkapkan cintanya yang bertalu-talu kepadamu. Katanya juga, malam ini engkau begitu menyintai umatmu yang ikhlas bersalawat kepadamu. Pun, katanya, sesiapa yang mengucapkan shalawat kepadamu sekali maka ia berhak mendapat balasan sepuluh kali. Berbahagialah mereka. Atas semua katanya itu, aku belum mampu, Baginda.  Atas semua katanya itu dan yang lain, aku belum mencintaimu sepenuhnya, Baginda. Apatah makna cintaku padamu ini, Ya Baginda. Padahal aku hanya mampu mencemburui umatmu yang nyata tak tersangkal cintanya padamu. Apatah guna ungkapan cintaku padamu yang beriringan dengan mengkhianatimu. Sungguh, aku pencinta terbusuk. Untuk sekarang, aku hanya punya cemburu. Cukupkah itu, Ya Rasul?...

Agar Tak Melampaui Batas

Apa saja yang berlebihan itu tidak baik. Cinta dan benci tak terkecuali. Kita, manusia yang paripurna telah memiliki naluri untuk mengikuti yang benar sekaligus lari dari yang salah. Sebagai makhluk yang sempurna, kita tidak bisa tidak memiliki keyakinan tertentu termasuk mengantongi sosok panutan bagi kita. Dalam perihal keduniaan tentu kita mengidola seseorang atau bisa jadi jalan pemikirannya. Mulai mengidolakan si Song Hye Kyo hingga Karl Marx. Sudah barang tentu, apa yang oleh Sang idola ucapkan dan lakukan kita akan mengakuinya--setidaknya. Lebih lanjut, dalam perkara keagamaan kita bahkan tidak luput dari pemikiran tertentu berikut dengan jalan pemikirannya. Agar ummat tidak salah memilih idolanya, Allah sudah menuturkan dalam Al-Quran supaya menjadikan Nabi Muhammad sebagai panutan yang sempurna lagi paripurna sampai hari kiamat tiba. Agama islam, sama sekali tidak melarang—bahkan menganjurkan—umatnya  untuk mengidolakan sesosok ulama, habaib dan orang utama yang l...

Selfie Syar'i

Tidak ragu lagi, bahwa cermin amat perlu di dunia ini. Kalaulah tidak adanya, sungguh kendaraan akan sering menghantam kendaraan lainnya, berkali-kali lelaki akan salah menata rambutnya, juga wanita 'kan tak kunjung selesai membereskan kosmetiknya. Kita tidak akan berbicara tentang kapan dan bagaimana cermin ditemukan. Sebab, kita tau, yang memberi pantulan itulah cermin. Melihat air, ia akan membalas melihat. Memandang kaca, ia lebih membalas memandang lekat. Karena itu, sembari ngemil dan ngopi di akhir pekan, bolehlah kita mengkaji balik nasihat menyehatkan Khalifah Umar bin Khattab. Beliau mengamanatkan: حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا ، وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا ، فَإِنَّهُ أَهْوَنُ عَلَيْكُمْ فِي الْحِسَابِ غَدًا . "Hisab lah dirimu sebelum engkau dihisab di hari kiamat. Timbanglah dirimu sebelum engkau ditimbang. Karena demikian akan membuatmu ringan di hari pembalasan." Adalah maksudnya, setiap kita diwasi...