Semua ini gara-gara Tgk Jazuli yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide Baba Shafiya kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...
"Lebih singkat, lebih sederhana, lebih cepat, lebih indah dan lebih menghibur" kira-kira semacam itu berita, informasi dan pengetahuan yang kita inginkan, yang kita buru. Saking singkatnya kita tidak benar-benar paham apa yang ingin disampaikan. Saking cepatnya kita diguyuri hujan berita dan tidak betul-betul menyerapnya. Sebegitu indah hingga kita abai pada inti pesan yang disampaikan. Hingga akal kita hampir mati dihujani berita.
Hingga dalam masalah keagamaan, diolahlah ajaran-ajaran agama dengan kemasan yang menggiurkan, dengan "plastik" yang indah, dan tentunya disuguhkan oleh manusia yang paham selera kita, bukan yang paham dengan kebutuhan kita.
Sedikit bahkan tidak ada orang yang menolak hal-hal yang instan di masa macam ini. Sama seperti halnya Mi instan, ia tidak ditolak bagaimanapun diolah, ia tetap punya rasa sedap. Berbalik kenyataan dengan Mi kuning, untuk mendapatkan rasa yang gurih ia harus diolah oleh orang yang benar paham cara mengolah Mi kuning, Mi kuning buatan Yah Asan di Matang misalnya.
Oke, bukan itu yang perlu diperhatikan. Mari masuk agak lebih dalam.
Kita, khususnya saya, tidak menafikan hal-hal yang instan. Namun, sikap merasa cukup dengan yang instan inilah yang kita sangkal, sikap inilah yang harus kita hindari sama sekali. Bagaimana tidak? Sikap seperti ini di kemudian waktu membuat orang merasa puas dengan apa yang telah dipelajari. Dan celakanya, membuat orang tersebut berkomentar seenak dengkulnya. Kabar buruknya ialah sikap semacam ini membuatnya terlalu dini berhenti dalam belajar agama hingga membuat wawasannya sempit, sesempit kantong celana jeans-nya. Untuk buktinya bisa anda tengok di media sosial, apalagi bila ada isu-isu agama yang mencuat.
Sementara itu, sikap seperti ini membuat kita mengangggap belajar pada media online menjadi akhir dari perjalanan belajar kita. Padahal bila ia dijadikan hanya sebagai wasilah atau perantara untuk kemudian belajar agama yang benar itu sama sekali tidak mengapa.
Silakan mem-follow akun yang menawarkan foto dan video keagamaan di Instagram dan kerabatnya. Mari ditonton video keagamaan yang benar di yutub. Silakan. Tapi, tolong, garis bawahi lah di otak kita bahwa itu semua jangan sampai membuat kita merasa cukup untuk belajar agama, itu semua tidak cukup untuk menuding orang lain salah, itu semua tidak memadai untuk menyalahkan orang yang lebih ahli dari kita.
Lagi lagi kita harus mengingati diri sendiri; agar tidak terburu-buru merasa cukup dengan pelajaran yang dihidangkan di media online; agar diam pada masalah yang kurang atau bahkan tidak kita pahami dan terus belajar menjadi seorang pelajar.
"Bahkan perut lapar saja tidak terkenyangi dengan mi instan. Apalagi akal yang kelaparan ilmu, ia tidak akan kenyang dengan pelajaran di media sosial"
Tabik,
Looong...Kupi pancong saboh🐒👍
BalasHapusZanisme 👏
BalasHapus