Semua ini gara-gara Tgk Jazuli yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide Baba Shafiya kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...
Sebelum memasuki tulisan ini saya ingin menyambut pembaca lebih dahulu, bahwa tulisan di bawah ini merupakan hasil dari kegelisahan, perenungan dan penghayatan saya atas tanggapan kita terhadap isu-isu agama yang mencuat belakangan ini atau ke depannya. Tulisan ini merupakan catatan samping(Caping) saya, sangat boleh jadi ini bukanlah akhir dari penghayatan saya secara total. Untuk itu silakan pembaca menikmatinya.
Silakan memasukinya, Tuan Puan.
Menengok realitas makin ke sini agaknya tidak berlebihan bila menegaskan kembali bahwa kemapanan iman sebagian kita umat islam kian rapuh. Sebagai tandanya, ketakutan dan pesimistis hampir—untuk tidak berkata sudah—akut dalam pribadi muslim, bahkan mendominasi kekuatan iman. Takut agamanya dilecehkan, takut Tuhannya dicibir, takut berhadapan dengan yang berpaham bersebrangan, takut simbol-simbol agama dicela, dan takut-takut lain yang tidak semestinya ditakuti. Padahal Allah telah menuturkan dalam maha karyaNya, seperti di surat al-Baqarah ayat 62 bahwa, orang yang beriman sebenar-benarnya tidak ada ketakutan dan kegundahan dalam diri mereka.
Yang kita cemaskan ialah memang benar adanya, kita umat islam millennial sudah kehilangan jati diri. Dalam arti memudarnya kemapanan iman serta kurang mengenal diri sendiri. Bahkan celakanya, semoga saja tidak, bisa saja tidak memiliki keimanan sebagaimana mestinya. Kehilangan jati diri berbanding lurus dengan tidak mengenal idenditas diri sebagai umat beriman. Hingga, singa yang tidak tau dirinya singa bakal terpuruk dan terasing dari hutan belantara.
Nampaknya, kita lagi-lagi harus kembali mengkaji apa itu keimanan, bagaimana seharusnya keimanan itu terejawantahkan dalam laku ritual dan sosial dan seberapa luas dampak dari keimanan yang sejati. Harapannya tidaklah besar-besar amat, tingkat sadar idenditas sendiri saja sudah cukup untuk mengatasi masalah yang muncul seperti tempo hari.
Lebih jauh dari itu, kita menyadari setiap kepercayaan yang memang telah tertancap dalam hati seharusnya tidak akan goyah dengan berbagai ancaman yang datang dari luar. Namun, kenyataan berbalik mengungkapkannya. Dengan tidak bermaksud menilai keimanan orang lain, setidaknya, setiap isu keagamaan yang muncul kita terlalu tergesa-gesa berasumsi masalah itu dapat mengancam dasar kepercayaan kita sebagai mukmin sejati. Hingga bila sampai pada batasnya membuat orang yang takut, berkelakuan tidak selaras dengan nilai iman dan islam yang ia perjuangkan, ini celaka.
Agar keimanan kita sempurna, harapannya kita bisa mengerti, memahami dan menerima rumusan singkat yang dijelaskan berikut.
Iman tidak akan bisa berdiri tegak dengan sendirinya, melainkan ia harus diampu oleh dua penyangga yang kuat. Pertama, amalan, sebagai bentuk manifestasi iman. Amalan di sini bermakna kelakuan baik hamba dengan sang Khaliq dan hubungannya dengan sesama makhluk. Disini, hamba dituntut untuk beramal baik dan sempurna tanpa cela bagi menyeluruh tanpa kecuali. Pun, untuk diketahui, amalan merupakan perkara yang membuat kadar keimanan seorang hamba bertambah atau berkurang. Kedua, ilmu pengetahuan, ia menjadi “bahan bakar” untuk menggerakkan keimanan dan amalan untuk terus bergerak hingga menjadi mapan, kuat dan anti goyahan. Lewat sudut pandang lain, ilmu pengetahuan menjadi perantara antara iman dan amal. Hingga, tanpa ilmu atau kekurangan ilmu membuat iman kita berada dalam bukan zona aman.
Iman tidak akan bisa berdiri tegak dengan sendirinya, melainkan ia harus diampu oleh dua penyangga yang kuat. Pertama, amalan, sebagai bentuk manifestasi iman. Amalan di sini bermakna kelakuan baik hamba dengan sang Khaliq dan hubungannya dengan sesama makhluk. Disini, hamba dituntut untuk beramal baik dan sempurna tanpa cela bagi menyeluruh tanpa kecuali. Pun, untuk diketahui, amalan merupakan perkara yang membuat kadar keimanan seorang hamba bertambah atau berkurang. Kedua, ilmu pengetahuan, ia menjadi “bahan bakar” untuk menggerakkan keimanan dan amalan untuk terus bergerak hingga menjadi mapan, kuat dan anti goyahan. Lewat sudut pandang lain, ilmu pengetahuan menjadi perantara antara iman dan amal. Hingga, tanpa ilmu atau kekurangan ilmu membuat iman kita berada dalam bukan zona aman.
Diakui atau tidak, kita harus menyadari bahwa ilmu sangat memengaruhi kualitas keimanan serta amalan kita. Dan antara pengetahuan dan iman punya relasi yang cukup erat, di samping amalan juga punya andil besar dalam meningkatkan kuantitas iman.
Pada akhirnya kita menginsafi bahwa pengetahuan dan amalan yang menyangga keimanan, sesungguhnya dapat memberikan rasa aman yang komplit. Rasa aman ini juga selanjutnya dapat menghindari tiap individu untuk membuka diri bagi alam semesta dari berbagai ancaman—yang mungkin saja menggoyahkan keimanan.
"Kenali dan pahamilah identitas diri agar dalam beragama tidak baperan tingkat tinggi"
Tabik,
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus