Semalam saya ketiduran lebih awal dari biasanya. Sudah dua malam saya mengalami ketidaksengajaan tidur. Padahal, biasanya saya harus berdamai dengan otak untuk bisa terlelap. Biasanya, butuh waktu 15–20 menit untuk bisa terlelap.
Tentu saya senang mengalami itu; tertidur tanpa harus berunding dengan pikiran. Namun, saya tidak senang sepenuhnya. Pasalnya, saya terbangun gara-gara bermimpi dua macam mimpi untuk dua malam itu; pertama, saya bermimpi hendak mempresentasikan proposal tesis saya. Dua hal yang membuat saya terbangun karenanya, yaitu saya panik akibat berkas PPT saya raib, dan puncaknya adalah pengujinya tak lain termasuk guru saya sendiri.
Kedua, saya sedang men-tahqiq manuskrip kitab kuning. Proses penyalinan memang sudah beres. Tinggal tahap muqabalah (membandingkan hasil penyalinan dengan beberapa manuskrip). Nah, tahap muqabalah membuat saya kecapean yang terlalu. Saya merasa, kok tak kunjung selesai, serta, entah bagaimana, tata letak di Word tak beraturan. Saya jadi pusing. Karena itulah saya terbangun, lagi.
Memang itu bukan mimpi yang buruk, malah saya senang dengan isinya yang menunjukkan bahwa saya tetap harus berusaha dan lelah meski dalam mimpi, tetapi mungkin saya kira timing mimpinya kurang pas. Masa iya, setelah lelah dalam kenyataan masih harus lelah dalam mimpi. Namun, ya begitu, jarang kita bisa mengatur mimpi.
Sementara itu, saya juga sadar bahwa memang dua mimpi itu merupakan semacam cerminan apa yang sedang saya lakoni dalam kenyataan. Untuk yang pertama, sudah sepekan saya menghabiskan sebagian besar waktu untuk menatap layar laptop guna merevisi proposal demi revisi. Yang kedua, baru tiga jam sebelum tidur saya menyelesaikan muqabalah naskah manuskrip. Jadinya, saya memaklumi dua mimpi itu.
Meski demikian, saya merasa secuil jengkel karena tidak bisa menikmati tidur yang berkualitas; tidur tanpa susah payah dan dalam waktu yang cukup. Sebab, saya sering cemburu melihat teman sekamar dapat tidur nyenyak tanpa lelah dan begitu lillah.

Komentar
Posting Komentar