Langsung ke konten utama

Sumber Kutipan Turas; Bukti Daya Jangkau Ilmu

     Sudah dua pekan membran otak saya riuh tak berkesudahan. Penyebabnya sederhana, kutipan langsung yang dibubuhkan penulis kitab belum lagi saya temukan. Antara kesal dan bingung lah otak menari. Tarian itu makin menjadi ketika tiga hari sebelumnya saya menghadapi hal yang sama. Dan kian tajam ketika malam ini saya mengalami hal serupa.      Dalam penulisan kitab, wabil khusus kitab babon Turas, kutip-mengutip pendapat adalah kebiasaan. Hanya saja, terdapat perbedaan dalam teknik mengutip penulis kontemporer. Penulis kitab Turas, setelah mengutip pendapat orang lain secara langsung atau bukan, seringkali hanya menyebut nama penulis yang dikutip. Tak jarang juga disertai judul kitabnya sekalian. Dan sering juga hanya dipadai dengan judul kitab saja ketika penulis kitab itu sudah terlalu masyhur dengan kitabnya. Jangan tanya halaman dan jilidnya. Tidak ada itu.      Dalam pada itu, belakangan ini, ketika saya sedang melakukan pelacakan kutip...

Lelah Hingga Dalam Mimpi


Semalam saya ketiduran lebih awal dari biasanya. Sudah dua malam saya mengalami ketidaksengajaan tidur. Padahal, biasanya saya harus berdamai dengan otak untuk bisa terlelap. Biasanya, butuh waktu 15–20 menit untuk bisa terlelap.

Tentu saya senang mengalami itu; tertidur tanpa harus berunding dengan pikiran. Namun, saya tidak senang sepenuhnya. Pasalnya, saya terbangun gara-gara bermimpi dua macam mimpi untuk dua malam itu; pertama, saya bermimpi hendak mempresentasikan proposal tesis saya. Dua hal yang membuat saya terbangun karenanya, yaitu saya panik akibat berkas PPT saya raib, dan puncaknya adalah pengujinya tak lain termasuk guru saya sendiri.

Kedua, saya sedang men-tahqiq manuskrip kitab kuning. Proses penyalinan memang sudah beres. Tinggal tahap muqabalah (membandingkan hasil penyalinan dengan beberapa manuskrip). Nah, tahap muqabalah membuat saya kecapean yang terlalu. Saya merasa, kok tak kunjung selesai, serta, entah bagaimana, tata letak di Word tak beraturan. Saya jadi pusing. Karena itulah saya terbangun, lagi.

Memang itu bukan mimpi yang buruk, malah saya senang dengan isinya yang menunjukkan bahwa saya tetap harus berusaha dan lelah meski dalam mimpi, tetapi mungkin saya kira timing mimpinya kurang pas. Masa iya, setelah lelah dalam kenyataan masih harus lelah dalam mimpi. Namun, ya begitu, jarang kita bisa mengatur mimpi.

Sementara itu, saya juga sadar bahwa memang dua mimpi itu merupakan semacam cerminan apa yang sedang saya lakoni dalam kenyataan. Untuk yang pertama, sudah sepekan saya menghabiskan sebagian besar waktu untuk menatap layar laptop guna merevisi proposal demi revisi. Yang kedua, baru tiga jam sebelum tidur saya menyelesaikan muqabalah naskah manuskrip. Jadinya, saya memaklumi dua mimpi itu.

Meski demikian, saya merasa secuil jengkel karena tidak bisa menikmati tidur yang berkualitas; tidur tanpa susah payah dan dalam waktu yang cukup. Sebab, saya sering cemburu melihat teman sekamar dapat tidur nyenyak tanpa lelah dan begitu lillah.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Kebiasaan Kita

Tulisan ini akan menjadi sangat penting bagi pembaca yang masih bergelut dengan dunia pendidikan dayah dan semacamnya yang menggunakan kitab turas (kuning) sebagai bahan ajar.      Saat masih menjadi santri--dalam arti status murid—saya sudah diwanti-wanti oleh guru privat saya untuk tidak berburu-buru dalam belajar (mengaji dan mengulang mandiri) kitab. Pun, ketika hendak berubah status menjadi “guru”, saya diwasiatkan untuk menyiapkan bahan ajar dengan benar, betapa pun bahan ajar itu sudah berulang kali diajarkan. Dan seiring waktu, dengan melihat pengalaman dan pengamalan orang lain, serta bacaan yang kian meluas sedikit demi sedikit, adalah apa yang disampaikan guru saya itu benar adanya.       Kebiasaan yang salah, siapapun pelakunya, tetaplah salah. Kita sepakat akan hal ini. Masalahnya adalah ketika kebiasaan-kebiasaan itu lambat laun akan mengakar dan dari alam bawah sadar akan tercipta keyakinan bahwa kebiasaan itulah satu-satunya jalan yang ...

Hibernasi Telah Selesai

Tak kurang 40 hari telah berlalu, menjadi tempo hibernasi bagi kalangan santri. Sebuah ruang waktu kekosongan mengaji yang akan selalu dihasrati oleh mereka. Jika masuk lebih dalam dan lebih jujur, hasrat mereka terhadap hibernasi telah melampaui dari batas normal bagi hakikat penuntut ilmu. Namun, apa boleh buat, begitu sudah tabiat dibentuk oleh lingkungan. Tentu ada banyak hal yang mereka khawatirkan dari habis masa aktif hibernasi; dirampok waktu gembira oleh belajar, ditilap kesempatan scrolling tiktok, dibabat keseruan berlaga para karakter nirnyata. Kekhawatiran itu biasanya akan muncul dalam bentuk, minimalnya, rasa mual dan pusing dalam perjalanan menuju ke Dayah; sebuah perjalanan yang begitu terasa cepat. Kekhawatiran itu dalam sejumlah babak malah diwujudkan dalam bentuk yang mereka lebih tahu. Bagi sebagian mereka, hibernasi tempo hari itu adalah tempo mematikan pikiran ilmiah, hingga tak lagi layak disebut hibernasi. Sebab, pada momen libur, mereka lebih memaknainya se...

Dunia Pengalihan: Manuskrip

Dunia sudah cukup sibuk dan ribut. Notifikasi bertalian datang; langganan kanal Youtube , kanal Telegram , grup-grup saling bersahutan, promo toko oranye dan hijau, dan pesan-pesan diskusi berkedok rindu. Mode senyap tak bisa membendung notifikasi itu, sebab ia makin nyaring dalam senyap. Karena itulah salah satunya, orang-orang memilih bersemedi dan mengucilkan diri dalam ruang kasatmata. Sebagian memilih untuk tenggelam dalam bacaan, sebagian lagi dalam perenungan, dan saya memilih manuskrip sebagai salah satu ma’bad , tempat ibadah intelektual saya. Setahun yang lalu, lebih kurang, saya masih asing dengan ilmu Tahqiq Makhtutat , filologi sebutan canggihnya. Jauh sebelum itu lagi, saya masih curiga dengan pekerjaan semacam itu. Apa soal orang-orang mau sibuk untuk membaca teks kuno yang – bahkan membuat mata kusam – kemudian disalin ulang, dipermak, hingga layak dibaca dengan mudah. Maksudnya, nikmatnya itu di mana? Lalu saya jatuh ke dalam ruang itu tanpa sengaja diajak oleh seorang...