Langsung ke konten utama

Sumber Kutipan Turas; Bukti Daya Jangkau Ilmu

     Sudah dua pekan membran otak saya riuh tak berkesudahan. Penyebabnya sederhana, kutipan langsung yang dibubuhkan penulis kitab belum lagi saya temukan. Antara kesal dan bingung lah otak menari. Tarian itu makin menjadi ketika tiga hari sebelumnya saya menghadapi hal yang sama. Dan kian tajam ketika malam ini saya mengalami hal serupa.      Dalam penulisan kitab, wabil khusus kitab babon Turas, kutip-mengutip pendapat adalah kebiasaan. Hanya saja, terdapat perbedaan dalam teknik mengutip penulis kontemporer. Penulis kitab Turas, setelah mengutip pendapat orang lain secara langsung atau bukan, seringkali hanya menyebut nama penulis yang dikutip. Tak jarang juga disertai judul kitabnya sekalian. Dan sering juga hanya dipadai dengan judul kitab saja ketika penulis kitab itu sudah terlalu masyhur dengan kitabnya. Jangan tanya halaman dan jilidnya. Tidak ada itu.      Dalam pada itu, belakangan ini, ketika saya sedang melakukan pelacakan kutip...

Mempersunting Kemampuan Menyunting


Di Balik Buku Islam dan Logika

Saya sudah lama menunggu hari ini. Hari yang menandakan saya telah menyelesaikan projek yang menguras banyak waktu; menyunting buku. Buku teman saya, Muhammad Zulfa, yang bertajuk Islam dan Logika per hari ini telah resmi dirilis dan sudah siap untuk dipra-pesan. Untuk memesannya, silakan hubungi di sini.
    Buku itu telah lama bersarang dalam file penyimpanan saya. Penulisnya, saban pekan atau bahkan bulan, mencicil tulisannya untuk kemudian menjadi sebuah buku. Penulis yang saya hadapi itu tidak seperti penulis yang sudah saya hadapi. Penulis kali ini mempunyai karakter keilmuan yang luas dan mendalam sekaligus dalam ilmu yang dikuasainya. Kalau boleh jujur, dalam buku yang dirilis itu, anda akan menemukan karakter penulis yang persis seperti di kehidupan sehari-hari; sulit mengerem saat berdiskusi dan ide-ide brilian sering meluap.
    Kebetulan, buku yang dirilis itu bertema ilmu Mantik, salah satu ilmu yang dikuasai oleh penulis sendiri. Karenanya anda akan menemukan ilmu berharga seputar Mantik dalam buku itu. Menjadi sebuah kebahagiaan bagi saya saat penulis itu menawarkan kesempatan menyunting bukunya. Tanpa jeda, langsung saya iyakan, walaupun pribadi saya masih berjarak dengan ilmu Mantik. Siapa tahu, mempersunting editing buku ini dapat menjadi jembatan yang mendekatkan saya dengan Mantik, pikir saya.
    Dan ternyata, memang benar apa yang saya pikirkan. Saya merasa lebih dekat dengan Mantik, sejarah dan tokohnya. Tenang, saya tidak akan membocorkan sama sekali isi bukunya. Toh pun, penulisnya sudah membocori sebagian isi bukunya di laman Facebooknya. Karena itu, bersegeralah memesannya. Itu poin utamanya. 

Di Balik Kemampuan Menyunting

    Menyunting buku adalah pekerjaan sampingan saya semata. Pekerjaan ini berawal dari saya diduga orang sebagai penulis di lingkungan yang kekeringan literasi. Ya sudah, pikir saya, kenapa tidak sekalian jadi penulis sungguh-sungguhan.
    Untuk mewujudkan itu, saya memberanikan diri untuk menulis. Selesai menulis suatu persoalan, saya memosisikan diri saya sebagai tiga persona yang berbeda dalam membaca ulang tulisan itu; pertama, sebagai penulis. Pada POV ini, biasanya hampir tidak ada yang perlu saya ubah; kedua, sebagai penyunting (editor). Di sini saya akan mengkritik, mengganti, dan mengubah kata, kalimat, dan frasa yang tidak cocok dari POV editor; ketiga, sebagai pembaca. POV ini saya gunakan untuk meresapi dan menikmati sebisa mungkin aliran kalimat-kalimat. Kalau ada yang kurang nendang, saya ganti dengan lebih nendang. 
    Sudah barang tentu, tidak semua tulisan saya perlakukan begitu. Paling hanya tulisan yang begitu penting. Soalnya bikin lelah bukan main saat memainkan tiga peran itu. Dan gara-gara kebiasaan itu saya dituduh perfeksionis. Walau ada benarnya tuduhan itu, sedikit, tetapi saya tidak setuju sama sekali tuduhan itu. Memang manusia jarang mau mengakui tuduhan atas dirinya, meskipun ada benarnya sedikit.
    Kebiasaan itu, di kemudian hari, membawa saya kepada nasib yang lain; menjadi penyunting amatir. Sejak memelihara kebiasaan itu saya juga mulai mempelajari ilmu penyuntingan secara otodidak. Kamus Bahasa Indonesia dan Tesaurus sudah menjadi aplikasi wajib di gawai saya. Penanda di Kamus sudah tak terbilang, demi menyimpan kata-kata dan frasa yang dibutuhkan.
    Sejak saya memasuki dunia penyuntingan, di samping sering menyunting tulisan Majalah Serambi Huda dan Mufadatuna, juga baru ada tiga buku yang telah saya sunting. Dua di antaranya sudah diterbitkan, sisanya belum nampak hilal hingga sekarang. Dua buku itu adalah buku Dari Mereka Kita Belajar karya Tgk Dosen Jazuli Abu Bakar, dan terkini, buku Islam dan Logika anggitan Tgk. Muhammad Zulfa.
    Saya tidak tahu pastinya bagaimana, apakah memang saya dipercayakan untuk menyunting tulisan mereka karena saya adalah kawan mereka, atau karena saya memang memiliki daya sunting yang cukup mumpuni. Namun, itu tidak penting lagi bagi saya. Sebab, begitu saya dipercayakan untuk “mengasuh” tulisan mereka, kontan saya akan memberikan segenap jiwa raga untuk menyelesaikannya. Soal apakah suntingan saya bagus, rata-rata, atau buruk, itu belakangan, pikir saya. Sebab, pada manusia biasa, tidak ada yang absolut bagus atau buruk. Dalam penyuntingan, asalkan telah memenuhi hak-hak tulisan dan mengikuti metode sunting yang ada, beres perkara. 
    Akhiran, terima kasih kepada kawan saya yang telah mempercayakan bukunya untuk saya oprek dan bedah lebih dahulu. Adalah sebuah kebanggaan dapat menyunting tulisan mereka. Apalagi untuk buku yang terkini dirilis, kurang lebih 9 bulan baru selesai saya sunting. 

Untuk membeli buku itu, silakan kunjungi akun sosial media mereka:

Instagram Muhammad Zulfa 

Instagram Jazuli Abu Bakar



 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Kebiasaan Kita

Tulisan ini akan menjadi sangat penting bagi pembaca yang masih bergelut dengan dunia pendidikan dayah dan semacamnya yang menggunakan kitab turas (kuning) sebagai bahan ajar.      Saat masih menjadi santri--dalam arti status murid—saya sudah diwanti-wanti oleh guru privat saya untuk tidak berburu-buru dalam belajar (mengaji dan mengulang mandiri) kitab. Pun, ketika hendak berubah status menjadi “guru”, saya diwasiatkan untuk menyiapkan bahan ajar dengan benar, betapa pun bahan ajar itu sudah berulang kali diajarkan. Dan seiring waktu, dengan melihat pengalaman dan pengamalan orang lain, serta bacaan yang kian meluas sedikit demi sedikit, adalah apa yang disampaikan guru saya itu benar adanya.       Kebiasaan yang salah, siapapun pelakunya, tetaplah salah. Kita sepakat akan hal ini. Masalahnya adalah ketika kebiasaan-kebiasaan itu lambat laun akan mengakar dan dari alam bawah sadar akan tercipta keyakinan bahwa kebiasaan itulah satu-satunya jalan yang ...

Hibernasi Telah Selesai

Tak kurang 40 hari telah berlalu, menjadi tempo hibernasi bagi kalangan santri. Sebuah ruang waktu kekosongan mengaji yang akan selalu dihasrati oleh mereka. Jika masuk lebih dalam dan lebih jujur, hasrat mereka terhadap hibernasi telah melampaui dari batas normal bagi hakikat penuntut ilmu. Namun, apa boleh buat, begitu sudah tabiat dibentuk oleh lingkungan. Tentu ada banyak hal yang mereka khawatirkan dari habis masa aktif hibernasi; dirampok waktu gembira oleh belajar, ditilap kesempatan scrolling tiktok, dibabat keseruan berlaga para karakter nirnyata. Kekhawatiran itu biasanya akan muncul dalam bentuk, minimalnya, rasa mual dan pusing dalam perjalanan menuju ke Dayah; sebuah perjalanan yang begitu terasa cepat. Kekhawatiran itu dalam sejumlah babak malah diwujudkan dalam bentuk yang mereka lebih tahu. Bagi sebagian mereka, hibernasi tempo hari itu adalah tempo mematikan pikiran ilmiah, hingga tak lagi layak disebut hibernasi. Sebab, pada momen libur, mereka lebih memaknainya se...

Dunia Pengalihan: Manuskrip

Dunia sudah cukup sibuk dan ribut. Notifikasi bertalian datang; langganan kanal Youtube , kanal Telegram , grup-grup saling bersahutan, promo toko oranye dan hijau, dan pesan-pesan diskusi berkedok rindu. Mode senyap tak bisa membendung notifikasi itu, sebab ia makin nyaring dalam senyap. Karena itulah salah satunya, orang-orang memilih bersemedi dan mengucilkan diri dalam ruang kasatmata. Sebagian memilih untuk tenggelam dalam bacaan, sebagian lagi dalam perenungan, dan saya memilih manuskrip sebagai salah satu ma’bad , tempat ibadah intelektual saya. Setahun yang lalu, lebih kurang, saya masih asing dengan ilmu Tahqiq Makhtutat , filologi sebutan canggihnya. Jauh sebelum itu lagi, saya masih curiga dengan pekerjaan semacam itu. Apa soal orang-orang mau sibuk untuk membaca teks kuno yang – bahkan membuat mata kusam – kemudian disalin ulang, dipermak, hingga layak dibaca dengan mudah. Maksudnya, nikmatnya itu di mana? Lalu saya jatuh ke dalam ruang itu tanpa sengaja diajak oleh seorang...