Langsung ke konten utama

Merangsang Semangat Keilmuan

Semua ini gara-gara  Tgk Jazuli   yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide  Baba Shafiya   kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...

Bentuk Lain Keberkahan Ilmu



Ia memiliki guru yang pernah mengatakan begini kepadanya, "kita diajarkan guru kita untuk tidak hanya membaca kitab-kitab yang pernah dikaji, melainkan juga membaca kitab yang belum pernah kita sentuh sekalipun".

Segala teknik membaca, dalam hal ini kitab kuning, telah paripurna diajarkan. 6 tahun adalah waktu yang tidak sebentar untuk memupuk, menumbuhkan dan membina kemampuan membaca yang ideal, sebagaimana yang sudah diwariskan turun-temurun. Baginya, juga bagi orang-orang yang setolak ukur dengannya, membaca kitab selain kitab yang diajarkan adalah kepastian.

Selain karena keterbatasan daya jelajah dan waktu pada kitab-kitab yang dikaji, juga ada satu dua penyebab kemestian membaca kitab yang tidak diajarkan; pertama, mendukung dan menyokong pemahaman pada kitab-kitab yang dikaji. Cukup banyak masalah-masalah yang termuat dalam kitab yang dikaji yang sering nian begitu perlu mencari pemahaman alternatif, hingga penjelasan lebih. Penjabaran yang lebih jelas, pendudukan masalah, hingga penempatan alasan-alasan suatu masalah banyak dapat ditemukan di kitab-kitab yang tidak dikaji dalam kurikulum.

Kedua, menghidupkan ilmu. Jumhur dayah di Aceh dari satu masa ke masa telah melestarikan 13 cabang ilmu, dengan berjibun kitab di setiap cabangnya. Di balik itu, ada lima hingga delapan cabang ilmu yang hampir tidak disentuh. Jika pun ada, itupun hanya oleh segelintir orang. Kemampuan membaca yang dipupuk dan digembleng oleh guru sedapatnya bisa menolong kita untuk menghidupkan cabang-cabang ilmu yang bahkan tidak diketahui keberadaanya.

Bukan sebuah cela memang tidak begitu meminati disiplin ilmu yang belum dikaji, tetapi teledor dari terus menghidupan dan melestarikan sub-sub ilmu agama adalah kealpaan yang hampir tidak bisa ditolerir. Sebab, salah satu peran orang yang mendakwakan diri sebagai 'pengawal teks' agama ialah melestarikan ilmu agama sepanjang matahari terus keluar dari timur

Sementara kesadara itu becokol lama di alam bawah sadarnya, ia sempat ragu ketika giliran mengajarkan kitab yang bahkan belum pernah disentuhnya sama sekali. Antara tidak menghormati 'jalan' para guru dan merasa terasing dengan ilmu-ilmu yang hampir sekarat ditelan zaman. Menepis syak wa sangka, serta menempatkan praduga baik, ia memulai menyentuh kitab-kitab yang tidak diajarkan, lalu mengajarkannya.

Pikirnya, begitu juga ia limpahkan ke kerabatnya, kemampuan membaca kitab-kitab yang belum dikaji bukanlah kehebatan kita sendiri. Melainkan itu adalah satu dari lain bukti betapa ilmu yang diwariskan dari guru dapat bermanfaat lebih, ilmu itu tidak hanya terkurung dalam lingkungannya sendiri. Itulah salah satu tanda keberkahan ilmu.

Demikian, tulisan ini ia nyatakan sebagai deklarasi pencapaian dan syukur atas kesempurnaan anugerah Tuhan kepada-nya, juga berkah dan doa guru kepada mereka, atas kemauan dan kemampuan untuk mengkhatamkan kitab yang belum pernah dikaji di tempat itu.

Membaca, lalu terbanglah.


Komentar