Semua ini gara-gara Tgk Jazuli yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide Baba Shafiya kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...
" Engkau tak 'kan kehilangan apa yang sudah dibagikan (baca: ditetapkan) bagimu ". Demikianlah kata paling meredakan bagi setiap kegelutan. Seamsal kalimat sihir, kalimat itu sering nian diingat-ingat oleh hamba yang sedang terjatuh, tertimpa musibah, hilang asa dan segala kondisi-kondisi negatif. Baginya, kalimat itu seakan mampu mengikhlaskan harapan yang tenggelam, meneguhkan hati yang patah, dan makin meyakinkan adanya Tuhan. Banyak kalimat-kalimat yang serumpun dengan kalimat itu. Misalnya, "tenang, Tuhan tidak akan memberikan apa yang sudah ditetapkan bukan bagianmu", atau "apa yang Tuhan takdirkan pasti akan begitu. Yakin saja lah". Dalam beberapa waktu, kalimat serupa itu sedikit banyak mampu meyakinkan kita bahwa takdir Tuhan itu absolut, pasti dan inevitable atau tak terelakkan. Meski juga, dalam berbagai kasus, kita cukup sulit mengamini kalimat itu. Sebenarnya, penolakan kalimat-kalimat serupa dapat dikatakan juga menolak penerimaa...