Sudah dua pekan membran otak saya riuh tak berkesudahan. Penyebabnya sederhana, kutipan langsung yang dibubuhkan penulis kitab belum lagi saya temukan. Antara kesal dan bingung lah otak menari. Tarian itu makin menjadi ketika tiga hari sebelumnya saya menghadapi hal yang sama. Dan kian tajam ketika malam ini saya mengalami hal serupa. Dalam penulisan kitab, wabil khusus kitab babon Turas, kutip-mengutip pendapat adalah kebiasaan. Hanya saja, terdapat perbedaan dalam teknik mengutip penulis kontemporer. Penulis kitab Turas, setelah mengutip pendapat orang lain secara langsung atau bukan, seringkali hanya menyebut nama penulis yang dikutip. Tak jarang juga disertai judul kitabnya sekalian. Dan sering juga hanya dipadai dengan judul kitab saja ketika penulis kitab itu sudah terlalu masyhur dengan kitabnya. Jangan tanya halaman dan jilidnya. Tidak ada itu. Dalam pada itu, belakangan ini, ketika saya sedang melakukan pelacakan kutip...
" Engkau tak 'kan kehilangan apa yang sudah dibagikan (baca: ditetapkan) bagimu ". Demikianlah kata paling meredakan bagi setiap kegelutan. Seamsal kalimat sihir, kalimat itu sering nian diingat-ingat oleh hamba yang sedang terjatuh, tertimpa musibah, hilang asa dan segala kondisi-kondisi negatif. Baginya, kalimat itu seakan mampu mengikhlaskan harapan yang tenggelam, meneguhkan hati yang patah, dan makin meyakinkan adanya Tuhan. Banyak kalimat-kalimat yang serumpun dengan kalimat itu. Misalnya, "tenang, Tuhan tidak akan memberikan apa yang sudah ditetapkan bukan bagianmu", atau "apa yang Tuhan takdirkan pasti akan begitu. Yakin saja lah". Dalam beberapa waktu, kalimat serupa itu sedikit banyak mampu meyakinkan kita bahwa takdir Tuhan itu absolut, pasti dan inevitable atau tak terelakkan. Meski juga, dalam berbagai kasus, kita cukup sulit mengamini kalimat itu. Sebenarnya, penolakan kalimat-kalimat serupa dapat dikatakan juga menolak penerimaa...