"Engkau tak 'kan
kehilangan apa yang sudah dibagikan (baca: ditetapkan) bagimu".
Demikianlah kata paling meredakan bagi setiap kegelutan. Seamsal kalimat
sihir, kalimat itu sering nian diingat-ingat oleh hamba yang sedang terjatuh,
tertimpa musibah, hilang asa dan segala kondisi-kondisi negatif. Baginya,
kalimat itu seakan mampu mengikhlaskan harapan yang tenggelam, meneguhkan hati
yang patah, dan makin meyakinkan adanya Tuhan.
Banyak kalimat-kalimat yang
serumpun dengan kalimat itu. Misalnya, "tenang, Tuhan tidak akan
memberikan apa yang sudah ditetapkan bukan bagianmu", atau "apa yang
Tuhan takdirkan pasti akan begitu. Yakin saja lah".
Dalam beberapa waktu, kalimat
serupa itu sedikit banyak mampu meyakinkan kita bahwa takdir Tuhan itu absolut,
pasti dan inevitable atau tak terelakkan. Meski juga, dalam berbagai
kasus, kita cukup sulit mengamini kalimat itu.
Sebenarnya, penolakan
kalimat-kalimat serupa dapat dikatakan juga menolak penerimaan kita akan takdir
Tuhan. Minimalnya, kita tidak siap dengan takdir Tuhan. Namun, ketidaksiapan
itu banyak muncul dari takdir-takdir yang kita nilai buruk dan tidak pantas
kita terima. Akal kita menilai seharusnya Tuhan boleh menakdirkan takdir yang
lebih baik. Cukup sering bahkan kita mempertanyakan takdir-takdir buruk.
Berbanding balik dengan takdir-takdir baik, yang "ah, aku pantas kok
nerima ini".
Dalam banyak kesempatan kita
sering memergoki diri sendiri mengelak menerima takdir buruk. Kita tidak pantas
menerimanya. Juga kita tidak siap dengan takdir buruk itu. Sepertinya hanya
dengan takdir baik kita mau berjabat tangan. Hanya takdir baik yang melulu pantas
berdampingan dengan kita.
Sebenarnya, jika memang keimanan
sudah mantap semua yang ditakdirkan sudah pas pada waktunya. Tidak ada yang lebih-kurang.
Tidak ada yang tidak sempurna. Tidak ada yang namanya “ketidaksiapan’,
alih-alih menolak sepenuhnya. Sebenarnya, hanya penilaian buruk-baik kita terhadap
takdir lah yang sering tidak pada tempatnya.
Demikianlah, seharusnya kita
sadar bahwa penilaian kita sering keliru. Akal kita begitu rentan dalam
menjamah setiap baik-buruk takdir. Karena itulah, tak heran betapa mengimani
takdir baik dan buruk begitu sulit.

Komentar
Posting Komentar