Langsung ke konten utama

Merangsang Semangat Keilmuan

Semua ini gara-gara  Tgk Jazuli   yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide  Baba Shafiya   kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...

Usaha Berjabat Tangan Dengan Takdir Tuhan

 

"Engkau tak 'kan kehilangan apa yang sudah dibagikan (baca: ditetapkan) bagimu". Demikianlah kata paling meredakan bagi setiap kegelutan. Seamsal kalimat sihir, kalimat itu sering nian diingat-ingat oleh hamba yang sedang terjatuh, tertimpa musibah, hilang asa dan segala kondisi-kondisi negatif. Baginya, kalimat itu seakan mampu mengikhlaskan harapan yang tenggelam, meneguhkan hati yang patah, dan makin meyakinkan adanya Tuhan.

Banyak kalimat-kalimat yang serumpun dengan kalimat itu. Misalnya, "tenang, Tuhan tidak akan memberikan apa yang sudah ditetapkan bukan bagianmu", atau "apa yang Tuhan takdirkan pasti akan begitu. Yakin saja lah".

Dalam beberapa waktu, kalimat serupa itu sedikit banyak mampu meyakinkan kita bahwa takdir Tuhan itu absolut, pasti dan inevitable atau tak terelakkan. Meski juga, dalam berbagai kasus, kita cukup sulit mengamini kalimat itu.

Sebenarnya, penolakan kalimat-kalimat serupa dapat dikatakan juga menolak penerimaan kita akan takdir Tuhan. Minimalnya, kita tidak siap dengan takdir Tuhan. Namun, ketidaksiapan itu banyak muncul dari takdir-takdir yang kita nilai buruk dan tidak pantas kita terima. Akal kita menilai seharusnya Tuhan boleh menakdirkan takdir yang lebih baik. Cukup sering bahkan kita mempertanyakan takdir-takdir buruk. Berbanding balik dengan takdir-takdir baik, yang "ah, aku pantas kok nerima ini".

Dalam banyak kesempatan kita sering memergoki diri sendiri mengelak menerima takdir buruk. Kita tidak pantas menerimanya. Juga kita tidak siap dengan takdir buruk itu. Sepertinya hanya dengan takdir baik kita mau berjabat tangan. Hanya takdir baik yang melulu pantas berdampingan dengan kita.

Sebenarnya, jika memang keimanan sudah mantap semua yang ditakdirkan sudah pas pada waktunya. Tidak ada yang lebih-kurang. Tidak ada yang tidak sempurna. Tidak ada yang namanya “ketidaksiapan’, alih-alih menolak sepenuhnya. Sebenarnya, hanya penilaian buruk-baik kita terhadap takdir lah yang sering tidak pada tempatnya.

Demikianlah, seharusnya kita sadar bahwa penilaian kita sering keliru. Akal kita begitu rentan dalam menjamah setiap baik-buruk takdir. Karena itulah, tak heran betapa mengimani takdir baik dan buruk begitu sulit.

Komentar