Langsung ke konten utama

Postingan

Merangsang Semangat Keilmuan

Semua ini gara-gara  Tgk Jazuli   yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide  Baba Shafiya   kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...

Mempersunting Kemampuan Menyunting

Di Balik Buku Islam dan Logika Saya sudah lama menunggu hari ini. Hari yang menandakan saya telah menyelesaikan projek yang menguras banyak waktu; menyunting buku. Buku teman saya, Muhammad Zulfa, yang bertajuk Islam dan Logika per hari ini telah resmi dirilis dan sudah siap untuk dipra-pesan. Untuk memesannya, silakan hubungi  di sini.     Buku itu telah lama bersarang dalam file penyimpanan saya. Penulisnya, saban pekan atau bahkan bulan, mencicil tulisannya untuk kemudian menjadi sebuah buku. Penulis yang saya hadapi itu tidak seperti penulis yang sudah saya hadapi. Penulis kali ini mempunyai karakter keilmuan yang luas dan mendalam sekaligus dalam ilmu yang dikuasainya. Kalau boleh jujur, dalam buku yang dirilis itu, anda akan menemukan karakter penulis yang persis seperti di kehidupan sehari-hari; sulit mengerem saat berdiskusi dan ide-ide brilian sering meluap.     Kebetulan, buku yang dirilis itu bertema ilmu Mantik, salah satu ilmu yang dikuasai oleh pen...

Hari Memperingati Santri

     Setiap 22 Oktober, berseliweran selebaran Memperingati Hari Santri. Semboyan yang disematkan kali ini, " menyambung juang, merengkuh masa depan", seakan mengajak setiap insan yang bersifat dengan sifat santri untuk mengenal dirinya sendiri, lagi, serta terus menatap mantap ke depan dengan setiap usaha-usahanya dalam pengembaraan ilmu.      Berbetulan dengan memperingati hari santri, penulis ingin mengajak pembaca, khususnya santri, untuk kembali merenungi kembali titik kelemahan dan kekurangan kita, terutama sisi keilmuan, untuk kemudian diupayakan perbaikan-perbaikan yang optimal dan mendasar, baik dari sendiri atau lembaga tempat dinaunginya.  Sebelum itu, penulis adalah seorang yang bersifat santri dengan makna yang sudah masyhur. Dakwaan ini diperlukan agar semua dakwaan di depan nanti sesuai dengan pendakwa, dan tentunya dapat dipertanggungjawabkan oleh orang yang separuh besar hidupnya sudah dihabiskan dalam dunia santri. Biarkan saya m...

Ayah yang Bergairah, Untuk Murid yang Taufah

Gambar diambil pada 22 Mei 2022 Terhitung sejak September, dua bulan lebih yang lalu, Ayah di Balee kami menyebutnya, telah berumur 67 tahun. Tidak muda lagi sama sekali. Tujuh tahun beliau telah melewati umur galib, bahkan. Namun, semangatnya masih mampu meruntuhkan ranjau-ranjau dan aral melintang umur. Terhitung sudah sepekan penuh dan lebih dari sebelum tulisan ini ditulis, Ayah kembali mengajar seperti biasa, setelah lebih dari 2 pekan Ayah libur mengajar. Melihat umurnya yang sudah dikategorikan sebagai  syekh  rasanya bukanlah sebuah cela dan aib kalau saja Ayah berhenti atau setidaknya menjeda mengajar dalam beberapa waktu. Namun, tidak. Ayah belum lagi ingin berhenti; dari sejak diizinkan mengajar oleh gurunya, alm Abon Aziz, hingga kini, bahkan hingga malaikat menjemput.  Karakter dan semangat Ayah itu sebenarnya bukanlah hal yang ajaib bagi kalangan kaum sarungan di Aceh. Sebab, mereka paham dan yakin bahwa; sekali mengajar, maka sampai mati pun mengajar. Tak u...

Harmoni Kesungguhan Dalam Pembelajaran Kitab Kuning

   Diantara sebab keberhasilan pembelajaran kitab kuning dan sampai kepada target ialah harmoni kesungguhan. Harmoni kesungguhan ini dapat diartikan sebagai keselarasan atau keserasian kesungguhan dalam pembelajaran yang terjalin antara pendidik dan murid. Artinya kesungguhan harus muncul dari dua arah; pendidik dan murid.       Bentuk paling nyata dari harmoni kesungguhan ini adalah pendidik mempersiapkan bahan ajar. Sementara di sisi lain, murid juga harus menyiapkan diri dengan membaca dan memeriksa lebih dahulu pada maqra’ yang akan diajarkan. Saat kedua belah pihak tidak mewujudkan kesungguhan ini, maka tiada lagi harmoni dalam pembelajaran. Ibaratnya, cinta bertepuk sebelah tangan, atau malah cinta yang tak pernah bertepuk dan bertemu.      Tak usah ragu, para ulama dulu hingga kiwari tetap mensyaratkan hal ini dalam pembelajaran. Mereka mengkategorikan harmoni ini dalam bagian adab-adab guru dan murid dalam pembelajaran. Artinya, ia ad...

Madinah: Damai yang Tabah (1)

Konon, ketika Harun ar-Rasyid menjabat gubernur Madinah ia hendak melaksanakan haji ke Mekkah, sang pemilik Muwatta’, Imam Malik, ditanya oleh Harun, “Apa kau punya rumah?” Imam Malik menjawab “Tidak”. Lalu Harun memberikannya 3000 dinar, dan berujar, “Belikan rumah dengan uang itu”. 3000 dinar itu sebanding lebih kurang 6 M rupiah. Lantas Imam Malik mengambilnya dan tidak menginfaknya kemana-mana. Lalu, Imam Malik diajak olehnya untuk keluar dari Madinah untuk menyebarluaskan Muwatta’, sebagaimana Usman bin Affan menyebarkan mushafnya. Tanpa tempo, Imam Malik menjawab, “Kalau soal menyerbarkan Muwatta’, itu tidak ada caranya. Sebab para sahabat rasul setelah wafatnya tersebar di berbagai belahan bumi. Mereka membawa hadis rasulullah. Maka setiap tempat ada ilmunya. Lagi pula, rasul pernah bilang ‘perbedaan umatku adalah rahmat’. Sedangkan soal keluar dari Madinah, itu pun tidak ada jalannya. Pasalnya, Rasul bilang ‘sungguh, madinah lebih baik bagi mereka andai mereka mengetahuinya’ da...

Mememorikan Tanah Haramain

Tiga bulan sudah blog ini hening. Alasannya bermacam saja, yang tak perlu dibeberkan. Lalu, tiga bulan lebih juga saya absen menulis. Dari menulis hal-hal yang serius hingga yang tetek bengek pun jemari saya absen mengetik huruf-huruf. Kasian sekali, Kemudian dari pada itu, terpantik niat untuk menyegarkan blog dengan catatan singkat saya selama di Saudi Arabia—utamanya Mekkah dan Madinah—selama lebih kurang dua bulan setengah. Namun, niat itu terbatalkan lagi. Barusan—saat tulisan ini dirangkai—niat itu kembali saya upayakan muncul lalu menggantungkannya di tiang gantung untuk mengeksekusinya secepat mungkin. Saya ingin mengeksekusinya, sebagaimana pada ide-ide yang telah teruraikan tempo dulu. Mari, Tulisan ini akan menjadi benang atau utas menjalin setiap momen yang saya temukan di Mekkah dan Madinah. Selain tersedia foto-foto di sana, saya ingin menguraikan dalam bentuk kata-kata, selain juga mencoba mengulas apa saja yang terdapat di balik foto-foto itu. Jadi, selamat menikmati, d...

Ada Sesuatu Di Balik Nama Dalam Doa

Orang-orang bilang, tidak perlu menyatakan cinta, cukup sebut namanya dalam doa. Sebab Tuhan lebih mafhum perihal jodoh. Jadi, boleh jadi doa-doa itu mengubah apa yang sudah tertulis di ‘daun terjaga’, kalau memang yang tertulis di sana bukan nama yang disebut dalam doa. Atau, menahkikkan nama yang sudah tertulis. Sedangkan doa hanya usaha meyakinkan diri akan ketetapan itu. Sedangkan dia, sebalik itu pada awalnya. Dia tidak begitu setuju memuat nama seseorang dalam doa, sebagai permintaan, pernyataan, dan peneguhan harapan jodoh. Apalagi penyebutan itu disebut-sebut pada bukan waktunya. Permintaan pada bukan waktunya, menurutnya, hanya sebagai alibi menyegerakan takdir.  Kalau sudah cinta, ya sampaikanlah cinta itu, tapi dengan syarat cukup cinta saja. Tidak lebih. Tidak diaduk dengan hasrat memiliki. Artinya tidak menginginkan dan menghendaki hal-hal di luar cinta, seperti harapan bersatu dan menyegerakan memiliki.  Cinta begitu sederhana, kita saja yang membuatnya merepotka...