Langsung ke konten utama

Postingan

Merangsang Semangat Keilmuan

Semua ini gara-gara  Tgk Jazuli   yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide  Baba Shafiya   kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...

Surel Kepada Baginda

Selamat malam, Baginda. Baginda apa kabar? Semoga senantiasa Allah limpahkan salawat dan salam kepadamu, Baginda. Malam ini, katanya, malam yang lebih kau cintai dari pada malam-malam yang lain. Katanya, malam ini engkau duduk bersahaja, menunggu umatmu mengungkapkan cintanya yang bertalu-talu kepadamu. Katanya juga, malam ini engkau begitu menyintai umatmu yang ikhlas bersalawat kepadamu. Pun, katanya, sesiapa yang mengucapkan shalawat kepadamu sekali maka ia berhak mendapat balasan sepuluh kali. Berbahagialah mereka. Atas semua katanya itu, aku belum mampu, Baginda.  Atas semua katanya itu dan yang lain, aku belum mencintaimu sepenuhnya, Baginda. Apatah makna cintaku padamu ini, Ya Baginda. Padahal aku hanya mampu mencemburui umatmu yang nyata tak tersangkal cintanya padamu. Apatah guna ungkapan cintaku padamu yang beriringan dengan mengkhianatimu. Sungguh, aku pencinta terbusuk. Untuk sekarang, aku hanya punya cemburu. Cukupkah itu, Ya Rasul?...

Agar Tak Melampaui Batas

Apa saja yang berlebihan itu tidak baik. Cinta dan benci tak terkecuali. Kita, manusia yang paripurna telah memiliki naluri untuk mengikuti yang benar sekaligus lari dari yang salah. Sebagai makhluk yang sempurna, kita tidak bisa tidak memiliki keyakinan tertentu termasuk mengantongi sosok panutan bagi kita. Dalam perihal keduniaan tentu kita mengidola seseorang atau bisa jadi jalan pemikirannya. Mulai mengidolakan si Song Hye Kyo hingga Karl Marx. Sudah barang tentu, apa yang oleh Sang idola ucapkan dan lakukan kita akan mengakuinya--setidaknya. Lebih lanjut, dalam perkara keagamaan kita bahkan tidak luput dari pemikiran tertentu berikut dengan jalan pemikirannya. Agar ummat tidak salah memilih idolanya, Allah sudah menuturkan dalam Al-Quran supaya menjadikan Nabi Muhammad sebagai panutan yang sempurna lagi paripurna sampai hari kiamat tiba. Agama islam, sama sekali tidak melarang—bahkan menganjurkan—umatnya  untuk mengidolakan sesosok ulama, habaib dan orang utama yang l...

Selfie Syar'i

Tidak ragu lagi, bahwa cermin amat perlu di dunia ini. Kalaulah tidak adanya, sungguh kendaraan akan sering menghantam kendaraan lainnya, berkali-kali lelaki akan salah menata rambutnya, juga wanita 'kan tak kunjung selesai membereskan kosmetiknya. Kita tidak akan berbicara tentang kapan dan bagaimana cermin ditemukan. Sebab, kita tau, yang memberi pantulan itulah cermin. Melihat air, ia akan membalas melihat. Memandang kaca, ia lebih membalas memandang lekat. Karena itu, sembari ngemil dan ngopi di akhir pekan, bolehlah kita mengkaji balik nasihat menyehatkan Khalifah Umar bin Khattab. Beliau mengamanatkan: حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا ، وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا ، فَإِنَّهُ أَهْوَنُ عَلَيْكُمْ فِي الْحِسَابِ غَدًا . "Hisab lah dirimu sebelum engkau dihisab di hari kiamat. Timbanglah dirimu sebelum engkau ditimbang. Karena demikian akan membuatmu ringan di hari pembalasan." Adalah maksudnya, setiap kita diwasi...

Agar Wadah Kita Luas

Agama Islam secara terang-terangan menyuruh pemeluknya untuk menuntut ilmu. Hal ini tak terkecuali bagi siapapun. Karena hal itu titah agama maka ia tak lepas dari tujuan. Tujuan dari menuntut ilmu antara lain agar lenyap kebodohan, tahu mana yang benar dan salah. Dan yang paling esensial adalah agar "wadah" kita luas.  Tujuan yang terakhirlah yang patut dianggap penting dewasa ini. Meski dari lenyapnya kebodohan keluasan wadah akan luas dengan sendirinya juga. Namun, masalahnya, betapa dari kita yang agaknya sudah lenyap kebodohan, tapi masih saja wadahnya kurang luas.  Ah, iya, saya hampir lupa memaknai "wadah". Maksudnya adalah alam pikiran atau khazanah keilmuan. Karena, begitu seseorang sudah luas wadahnya maka apapun bisa masuk dalam pikirannya. Orang itu akan tidak mudah kaget dan terkejut dengan perbedaan yang ia dengar karena ia dapat memakluminya. Bukan tanpa alasan saya menulis masalah ini. Adalah kenyataan mengungkapkan bahwa sebagian dari...

Semangat Maulid

Telah kita sepakati bahwa Nabi Muhammad lahir pada hari Senin tanggal 12 bulan rabiul awal. Kita sebagai umat terkasihnya, tentulah berbahagia menyambut dan merayakannya. Beraneka sambutan yang didekasikan kepadanya banyak kita temukan di belahan bumi kita, juga di belahan bumi lain. Dari berbagai macam sambutan itu adalah kita sekarang agaknya masih saja duduk-berdiri meluruskan dalil-dalil atas dasar apa ketentuan merayakannya. Aduhai. Begitu sibuk meluruskannya hingga kita lupa dengan esensi perayaan itu. Dengan begitu, bukanlah maksud tulisan ini untuk menilik dalil-dalil itu. Kita kesampingkan masalah dalil wa laka dalil, agar otak kita tak semrawut dan tak mentok pada dalil-dalil saja. Adalah para ulama masa lampau, bila bulan Rabiul Awal hampir datang mereka bersiap-siap layaknya bersiap menyambut bulan Ramadhan. Antusiasme mereka hebat bukan buatan. Mulai membaguskan niat, meninggalkan aktivitas yang tidak penting, menyiapkan berbagai aneka makanan untuk dibagikan, d...