Semua ini gara-gara Tgk Jazuli yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide Baba Shafiya kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...
Saya berada dalam barisan orang-orang yang percaya bahwa menjadi santri adalah pilihan dan bakat-bakat selain keilmuan agama juga perlu dikembangkan sedemikian rupa, sebagaimana zaman berkembang. Menulis—lebih khusus lagi saya menyebutnya sebagai pembumian pesan-pesan turats— dan mengedit tulisan adalah di antara bakat yang mesti dioptimalkan oleh orang-orang yang mau. Paruh awal tahun ini saya dikejutkan oleh hal-hal yang tidak biasa. Seorang dosen Ma’had Aly samalanga meminta saya untuk mengedit dan mengoreksi karyanya. Saya meminta waktu berpikir. Pikir saya, pertama, kemampuan editing belumlah lagi mapan. Pengalaman editing tidak sementereng editor-editor buku lainnya. Belum lagi perbendaharaan kaidah bahasa Indonesia yang tidak lengkap, serta tidak pernah mengikuti workshop atau kelas editing, macam orang-orang lakukan. Kalau saya menerima tawaran ini, hanya ada dua kemungkinan: melelahkan diri sendiri, atau berakibat buruk pada karya orang lain. Kedua, kali ini cara berpiki...