Sudah dua pekan membran otak saya riuh tak berkesudahan. Penyebabnya sederhana, kutipan langsung yang dibubuhkan penulis kitab belum lagi saya temukan. Antara kesal dan bingung lah otak menari. Tarian itu makin menjadi ketika tiga hari sebelumnya saya menghadapi hal yang sama. Dan kian tajam ketika malam ini saya mengalami hal serupa. Dalam penulisan kitab, wabil khusus kitab babon Turas, kutip-mengutip pendapat adalah kebiasaan. Hanya saja, terdapat perbedaan dalam teknik mengutip penulis kontemporer. Penulis kitab Turas, setelah mengutip pendapat orang lain secara langsung atau bukan, seringkali hanya menyebut nama penulis yang dikutip. Tak jarang juga disertai judul kitabnya sekalian. Dan sering juga hanya dipadai dengan judul kitab saja ketika penulis kitab itu sudah terlalu masyhur dengan kitabnya. Jangan tanya halaman dan jilidnya. Tidak ada itu. Dalam pada itu, belakangan ini, ketika saya sedang melakukan pelacakan kutip...
Saya berada dalam barisan orang-orang yang percaya bahwa menjadi santri adalah pilihan dan bakat-bakat selain keilmuan agama juga perlu dikembangkan sedemikian rupa, sebagaimana zaman berkembang. Menulis—lebih khusus lagi saya menyebutnya sebagai pembumian pesan-pesan turats— dan mengedit tulisan adalah di antara bakat yang mesti dioptimalkan oleh orang-orang yang mau. Paruh awal tahun ini saya dikejutkan oleh hal-hal yang tidak biasa. Seorang dosen Ma’had Aly samalanga meminta saya untuk mengedit dan mengoreksi karyanya. Saya meminta waktu berpikir. Pikir saya, pertama, kemampuan editing belumlah lagi mapan. Pengalaman editing tidak sementereng editor-editor buku lainnya. Belum lagi perbendaharaan kaidah bahasa Indonesia yang tidak lengkap, serta tidak pernah mengikuti workshop atau kelas editing, macam orang-orang lakukan. Kalau saya menerima tawaran ini, hanya ada dua kemungkinan: melelahkan diri sendiri, atau berakibat buruk pada karya orang lain. Kedua, kali ini cara berpiki...