Ibtida dari syukur ialah dapat melihat realitas dengan sebenar-benarnya. Puncaknya adalah penerimaan serta penggunaan nikmat secara utuh dan optimal. Ngomong soal syukur, bagi kita, terasa begitu basi kadang. Selain karena berjibun ajakan bersyukur yang begitu saja, juga kadang sementara pembaca menempatkan dirinya telah bersyukur, hingga bacaan tentang syukur hanyalah angin sepoi. Penulis diposisikan sebagai orang sudah lihai dalam bersyukur.
Ah, handai taulan.
Penglihatan yang benar-benar jelas terhadap realitas, bahwa apa yang dimiliki tidaklah benar-benar 'dimiliki', yang dimiliki sudah mencukupi kebutuhan, memiliki yang lebih merupakan tidak dibutuhkan, hal-hal demikian melahirkan kesadaran penuh bahwa apa dalam genggaman tidak lebih buruk dari orang lain.
Pada kemudian, kesadaran itu mengantarkan pada penerimaan dan penggunaan apa yang dalam genggaman pada yang diciptakan untuknya dengan baik, utuh, dan tanpa cela. Hanya dengan begitulah ibadah syukur dapat tertunai dengan sempurna.
Jangan sempat mencurigai bahwa syukur tidak sama seperti ibadah semata layaknya sholat dan lain. Tidak. Syukur, sama seperti tawakal dan sabar, adalah kewajiban kita. Sifat-sifat jiwa ini, sebut Imam Ghazali dan sejumlah ulama lain, sama wajibnya dengan mengerjakan shalat dan lain-lain.
Kabar punya kabar, ternyata ibadah syukur ini sulit betul. Sampai-sampai Tuhan berkata "sedikit sekali dari hamba-Ku yang mampu benar-benar bersyukur". Dalam magnum opusnya, Imam ar-Razy bilang kalau satu syukur adalah nikmat yang membutuhkan kepada syukur yang lain, hingga tak berkesudahan. Maka, syukur yang berbanding lurus dengan nikmat Tuhan tak mampu dilakukan kecuali manusia pilihan. Sungguh demikian, lanjut beliau, syukur yang dilakukan manusia semampunya sudah diterima oleh Allah dan tentunya dilimpahkan nikmat tak terbendung lainnya.
Lazimnya, sesuatu yang wajib pasti akibatnya tidak menyenangkan sama sekali. Nah, apa dong akibat dari tidak syukur? Asal tahu saja, tidak syukur adalah 'orang tua tunggal' yang melahirkan penyakit seperti tamak, dengki, hingga gila dunia. Kalau sudah berpenyakit seperti itu, kurang sengsara apalagi di dunia?
Akibat paling sengsara yang diderita oleh orang tak bersyukur ialah tak 'kan pernah puas, di dunia. Dari situlah bermula kesakitan mental lahir dan hidup. Tidak hanya di dunia, nanti di akhirat juga tidak kurang-kurang azabnya. Pasalnya, dari tidak bersyukur lahir penyakit-penyakit yang sudah dijanjikan buruk mendapatkan azab menyakitkan.
"Demikian sodara-sodara, marilah kita bersyukur. Siapa tahu jemaah akan bahagia dan terlepas dari penyakit mental", begitu khatib menutup nasihatnya di jumat yang mencekam itu. Kepala orang-orang berbaju putih itu serentak merunduk, antara tertidur atau kesal lagi menyesal karena apa dalam pikiran mereka. Dugaan salah satu jamaah, mereka memasang sesuatu di pikiran mereka, "saya akan bersyukur".
Komentar
Posting Komentar