Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2022

Sumber Kutipan Turas; Bukti Daya Jangkau Ilmu

     Sudah dua pekan membran otak saya riuh tak berkesudahan. Penyebabnya sederhana, kutipan langsung yang dibubuhkan penulis kitab belum lagi saya temukan. Antara kesal dan bingung lah otak menari. Tarian itu makin menjadi ketika tiga hari sebelumnya saya menghadapi hal yang sama. Dan kian tajam ketika malam ini saya mengalami hal serupa.      Dalam penulisan kitab, wabil khusus kitab babon Turas, kutip-mengutip pendapat adalah kebiasaan. Hanya saja, terdapat perbedaan dalam teknik mengutip penulis kontemporer. Penulis kitab Turas, setelah mengutip pendapat orang lain secara langsung atau bukan, seringkali hanya menyebut nama penulis yang dikutip. Tak jarang juga disertai judul kitabnya sekalian. Dan sering juga hanya dipadai dengan judul kitab saja ketika penulis kitab itu sudah terlalu masyhur dengan kitabnya. Jangan tanya halaman dan jilidnya. Tidak ada itu.      Dalam pada itu, belakangan ini, ketika saya sedang melakukan pelacakan kutip...

Bentuk Lain Keberkahan Ilmu

Ia memiliki guru yang pernah mengatakan begini kepadanya, " kita diajarkan guru kita untuk tidak hanya membaca kitab-kitab yang pernah dikaji, melainkan juga membaca kitab yang belum pernah kita sentuh sekalipun ". Segala teknik membaca, dalam hal ini kitab kuning, telah paripurna diajarkan. 6 tahun adalah waktu yang tidak sebentar untuk memupuk, menumbuhkan dan membina kemampuan membaca yang ideal, sebagaimana yang sudah diwariskan turun-temurun. Baginya, juga bagi orang-orang yang setolak ukur dengannya, membaca kitab selain kitab yang diajarkan adalah kepastian. Selain karena keterbatasan daya jelajah dan waktu pada kitab-kitab yang dikaji, juga ada satu dua penyebab kemestian membaca kitab yang tidak diajarkan; pertama, mendukung dan menyokong pemahaman pada kitab-kitab yang dikaji. Cukup banyak masalah-masalah yang termuat dalam kitab yang dikaji yang sering nian begitu perlu mencari pemahaman alternatif, hingga penjelasan lebih. Penjabaran yang lebih jelas, penduduk...

Tuyul-tuyul Soleh dan Melodius Tangis

Di balik perkara yang tak disukai, tetapi tetap mesti dilakukan, seringkali meninggalkan jejak berkesan. Bermula dari keharusan memenuhi persyaratan pengajuan skripsi, salah satunya pelaksanaan Kerja Masyarakat. "Turun gunung" ke pesantren yang baru dilahirkan. Hingga, meninggalkan bekas kesan yang tidak boleh dibilang biasa saja. Dia bukan jenis orang yang gemar atau bahkan tertarik untuk berbicara atau bercanda dengan anak kecil yang berumur 6 tahun hingga sebelum baligh. Baginya, tak ada kesenangan berbicara dengan mereka. Yang ada hanyalah kerepotan. Repot mengulang kalimat. Repot mencari kata yang bisa mereka paham. Dan, ya, repot saat berhadapan dengan watak kekanakan mereka. Seolah ia percaya ia sudah cukup dewasa untuk menganggap anak-anak itu tidak lebih dewasa darinya. Itu baru berbicara. Jangan tanya lagi soal mengajari mereka. Butuh kemapanan mental yang paripurna, kelembutan sempurna; lembut yang tak menyirnakan ketegasan, dan kecapakan menangani watak mereka. Ol...