Sebagai manusia, kita diberi pilihan dalam hidup. Sebagai orang beriman, kita dianjurkan untuk lebih cenderung kepada dua sisi kehidupan yang tak pernah lekang; kebaikan dan keburukan. Tidak ada ketiga. Dalam fitrah yang paling dalam semua manusia, bukan hanya yang beriman, menghasrati kebaikan. Bedanya, cuma standar kebaikan itu. Bermula dari itulah segala aliran, ide, dan gagasan filsafat kehidupan bermuara.
Mari beranjak dalam pandangan agama. Agama begitu menyarankan kita untuk melakukan kebaikan, sebab agama menuntut kita untuk percaya bahwa ada kehidupan lagi setelah yang satu ini. Artinya, kehidupan selanjutnya adalah pengadilan, penghukuman terhadap apa sudah dilakukan di kehidupan ini. Artinya lagi, kebaikan yang disarankan agama tidak hanya mewujudkan kebahagiaan di dunia, melainkan juga di akhirat.
Kebaikan adalah sebuah nilai yang bergantung pada benda, tindakan dan segala sesuatu apapun yang bisa disifati dengan "baik". Maka kebaikan pada tindakan adalah sebuah sifat pada perbuatan yang disetujui dan diganjar pahala besar oleh agama, sekaligus diamini oleh akal sehat. Artinya, perbuatan baik adalah melakukan sesuatu yang sesuai dengan anjuran agama dan disetujui oleh akal sehat.
Ketika mendefinisikan tindakan kebaikan sebagai perbuatan yang dianjurkan oleh agama secara tidak sengaja pikiran sering berani berasumsi bahwa kebaikan hanya berorientasi pada ibadat semata. Padahal, sebenarnya agama tidak melulu soal ibadat. Sebab agama mengatur segala lini kehidupan. Hingga, kebaikan--untuk kemudian diganjar pahala--tidak hanya pada zona ibadat.
Yang banyak ialah tindakan yang kelihatannya "biasa saja", tetapi bisa memuat nilai ibadah. Seperti memberi kursi untuk orang yang sedang menunggu jemputan, memberi tumpangan kepada sesama selama mungkin, mengatakan "terima kasih" kepada orang yang sudah mau membantu. Hal-hal kecil seperti itu, jangan ragu, adalah kebaikan yang akan mendapatkan ganjaran setimpal nantinya.
Dan, asal tahu saja, ganjaran tindakan kebaikan dan terpuji engga main-main. Bersumber dari Rasulullah, Abu Darda' mengatakan bahwa perkara paling berat timbangan saat hari perhitungan nanti ialah bagus etika. Dengan itu, tindakan kebaikan itu juga termasuk dalam bagus etika yang dimaksud dalam riwayat itu.
Maka, mari menyemai kebaikan-kebaikan walau hanya terlihat biasa saja. Sebab, percayalah, setiap satu gesekan saja akan diperhitungkan di hari nanti.
Komentar
Posting Komentar