Langsung ke konten utama

Merangsang Semangat Keilmuan

Semua ini gara-gara  Tgk Jazuli   yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide  Baba Shafiya   kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...

Antara Kemalasan dan Buku Catatan


Adagium yang masyhur itu berbunyi "banyak jalan menuju Roma, tetapi kota Roma tidak dibangun dalam semalam". Saya sengaja membuat adagium sendiri, untuk sendiri juga, itu berbunyi begini "banyak cara meraih kerajinan, tapi kerajinan tidak diciptakan dalam sehari". Maksudnya, kurang lebih sama. Jalan kaki, motor, hingga pesawat adalah 'jalan' menuju Roma, sebagaimana teori 5 second, bergerak cepat, manajemen waktu hingga mengulangi bacaan adalah cara meraih dan mengekalkan kerajinan.

Bagi saya, semua cara itu dan cara lain yang tidak disebutkan tidak semua bekerja seharusnya. Ada kalanya kita mengalami trial-error berkali-kali. Dan, itu normal belaka. Bayangkan saja kalau setiap usaha anda melulu berhasil, tentu anda tidak merasakan error, dan itu adalah kekurangan anda sebagai makhluk, saudara. Maka, setiap kali saya berusaha untuk rajin, prooduktif, atau berfaedah, saya berkali-kali gagal dan malah berujung di atas kasur pula. 

Namun, memang beginilah nature-nya, kalkulasi keberhasilan beranjak dari kasur dan memeluk bantai lebih banyak ketimbang kegagalan. Meski juga ada kenyataan bahwa satu kegagalan itu malah menarik ke kegagalan bangkit lagi, lagi dan lagi. Kasian banget, kan.

Di antara aksi yang paling sering membuat saya berhasil ialah membaca catatan. Layaknya seorang penuntut ilmu, buku catatan adalah kebutuhan dan saya memiliki beberapa buku catatan sejak 6 tahun belakangan. Ketika saya menangisi kemalasan yang berlebihan dan tak tahu cara bangkit, saya dengan malu-malu menyibak laci meja, meraba-raba buku catatan paling kuno. Saya perlahan membacanya. 

Apa yang saya dapat? Hanyalah kenyataan bahwa saya pernah sebegitu bodoh. Kok bisa masalahh ini saja saya tidak tahu dulunya, kok bisa bla..kok bisa bla dan kok bisa lainnya. Dan pahitnya, kenyataan bahwa saya masih bodoh hingga kini dan nanti. Kata para bijak bestari, salah satu motivasi untuk terus belajar ialah sadar akan kebodohan diri sendiri. Dan cara saya menyadarkan diri pernah bodoh dan senantiasa bodoh hingga tersadarkan akan butuh banyak belajar lagi ialah membaca catatan saya.

Demikianlah, bahwa sesungguhnya kerajinan boleh jadi diwujudkan dalam sekejap. Lalu, kadang, saya memnalikkan adagium di atas menjadi "hanya butuh satu cara untuk meraih karajinan, dan, rajin bisa diwujudkan dalam sekejap".

Handai tolan, apa cara yang anda lakukan untuk membangkitkan diri dari "neraka" kemalasan dan sadar masih bodoh?
Sila berbagi di kolom komentar. Boleh jadi bisa menjadi manfaat bagi semua.

Tabik,

Komentar