Semua ini gara-gara Tgk Jazuli yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide Baba Shafiya kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...
Sebagai manusia, kita diberi pilihan dalam hidup. Sebagai orang beriman, kita dianjurkan untuk lebih cenderung kepada dua sisi kehidupan yang tak pernah lekang; kebaikan dan keburukan. Tidak ada ketiga. Dalam fitrah yang paling dalam semua manusia, bukan hanya yang beriman, menghasrati kebaikan. Bedanya, cuma standar kebaikan itu. Bermula dari itulah segala aliran, ide, dan gagasan filsafat kehidupan bermuara. Mari beranjak dalam pandangan agama. Agama begitu menyarankan kita untuk melakukan kebaikan, sebab agama menuntut kita untuk percaya bahwa ada kehidupan lagi setelah yang satu ini. Artinya, kehidupan selanjutnya adalah pengadilan, penghukuman terhadap apa sudah dilakukan di kehidupan ini. Artinya lagi, kebaikan yang disarankan agama tidak hanya mewujudkan kebahagiaan di dunia, melainkan juga di akhirat. Kebaikan adalah sebuah nilai yang bergantung pada benda, tindakan dan segala sesuatu apapun yang bisa disifati dengan "baik". Maka kebaikan pada tindakan adalah sebuah ...