Sudah dua pekan membran otak saya riuh tak berkesudahan. Penyebabnya sederhana, kutipan langsung yang dibubuhkan penulis kitab belum lagi saya temukan. Antara kesal dan bingung lah otak menari. Tarian itu makin menjadi ketika tiga hari sebelumnya saya menghadapi hal yang sama. Dan kian tajam ketika malam ini saya mengalami hal serupa. Dalam penulisan kitab, wabil khusus kitab babon Turas, kutip-mengutip pendapat adalah kebiasaan. Hanya saja, terdapat perbedaan dalam teknik mengutip penulis kontemporer. Penulis kitab Turas, setelah mengutip pendapat orang lain secara langsung atau bukan, seringkali hanya menyebut nama penulis yang dikutip. Tak jarang juga disertai judul kitabnya sekalian. Dan sering juga hanya dipadai dengan judul kitab saja ketika penulis kitab itu sudah terlalu masyhur dengan kitabnya. Jangan tanya halaman dan jilidnya. Tidak ada itu. Dalam pada itu, belakangan ini, ketika saya sedang melakukan pelacakan kutip...
Sebagai manusia, kita diberi pilihan dalam hidup. Sebagai orang beriman, kita dianjurkan untuk lebih cenderung kepada dua sisi kehidupan yang tak pernah lekang; kebaikan dan keburukan. Tidak ada ketiga. Dalam fitrah yang paling dalam semua manusia, bukan hanya yang beriman, menghasrati kebaikan. Bedanya, cuma standar kebaikan itu. Bermula dari itulah segala aliran, ide, dan gagasan filsafat kehidupan bermuara. Mari beranjak dalam pandangan agama. Agama begitu menyarankan kita untuk melakukan kebaikan, sebab agama menuntut kita untuk percaya bahwa ada kehidupan lagi setelah yang satu ini. Artinya, kehidupan selanjutnya adalah pengadilan, penghukuman terhadap apa sudah dilakukan di kehidupan ini. Artinya lagi, kebaikan yang disarankan agama tidak hanya mewujudkan kebahagiaan di dunia, melainkan juga di akhirat. Kebaikan adalah sebuah nilai yang bergantung pada benda, tindakan dan segala sesuatu apapun yang bisa disifati dengan "baik". Maka kebaikan pada tindakan adalah sebuah ...