Tergesa-gesa adalah celaka.
Terlambat-lambat adalah telat. Pada apapun, kedua itu tidak baik dan indah.
Bahkan soal rezeki, termasuk rezeki jodoh. Tersera-sera dalam meraba-raba,
menyatakan, dan menanyakan kesediaan takdir mempertemukan. Yang dikorbankan
juga tak tanggung, hati dan asa adalah terdakwa paling tertuduh.
Bagaimanapun, cinta tetaplah
cinta. Rasa tetaplah rasa. Soal memiliki, ya, lain perkara. Mencintai satu rezeki, takdir
menyatukan satu rezeki lainnya. Keduanya tidak mesti bersatu sama lain. Hanya
hati dan jiwa yang paling ikhlas bisa menyimak hal ini.
Adapun orang-orang yang sudah
memberikan cinta pada kekasihnya yang kemudia tahu-menahu takdir membanting
setir, merekalah orang yang menyakini bahwa sesungguhnya cinta adalah sifat
yang tak kekal dua waktu, yang mungkin bisa tak habis-habis diberi Sang Empunya.
Orang-orang yang tak menyakini demikian maka memilih jalan meraba sebelum
waktunya adalah baginya petaka.
Kelompok pertama, khawatir mereka
akan takdir berbanding lurus dengan harap mereka. Antara asa dan takut sama
takarannya. Mereka tidak takut merawat harapan-harapan mereka, meski nantinya
takdir tidak setali tiga uang dengan harapan. Dalam waktu yang sama, mereka
tidak segan menikmati harapan-harapan yang rapuh itu, asa yang ditopangi oleh
keyakinan kuat tadi.
Sedangkan kelompok kedua, yang meyakini
cintanya bakal habis, adalah jenis pecundang. Keyakinan mereka terlalu rapuh.
Bagi mereka, harapan yang diduga kuat tak kan sesuai dengan kenyataan, ya,
lebih baik harapannya dibabat mati. Itulah orang-orang yang gemar memaksa
takdir harus sesuai dengan harapannya. Kehidupan harapan mereka tak pernah
lestari. Setiap kali harapan muncul, berkali-kali pula harapan itu harus
dikubur hidup. Jangan tanya lagi, kehidupan mereka begitu kering.
Merawat asa dalam khawatir pada
takdir juga bukan perkara ringan. Butuh jiwa yang lapang, hati yang ikhlas, dan
pikiran yang realistis. Pekerjaan ini bukan sebentar, selama harapan masih mau dijaga hingga takdir
belum terwujud, selama itulah pekerjaan ini berlangsung. Yang menghendaki
instan dan cepat, bahkan pada soal harapan, mereka telah mendekatkan ajal
harapan dan membunuhnya dengan cara yang paling tercela.
Panjang umurlah harapan baik dan
khawatir yang ala kadar.
Padahal, bukankah tugas kita hanya mengawal dan menjaga harapan dan tidak meyakini takdir harus sesuai dengan harapan?
Komentar
Posting Komentar