Entah kenapa hari yang satu ini begitu menggembirakan. Tidak semua kita, memang, menantinya. Tetapi, hari itu tetap saja memiliki momentum yang menggairahkan. Sementara kita, bahkan tidak ingat hari lahir. Sebagian kita yang lain, memang "menopang dagu" menunggu hari itu tiba. Bagaimanapun, hari itu tetaplah memiliki keistimewaan bagi kita. Bedanya, hanya sudut pandang keistimewaannya.
Apa yang ditunggu? Dan kenapa hari
itu dianggap istimewa?
Sesungguhnya, hari ulang tahun
tidak lebih dari sebuah pemberhentian, terminal besar dari perjalanan pendek di
dunia. Dari rangkaian demi rangkaian kejadian dalam setahun belakangan kita
akan menemukan satu momentum untuk melihatnya sebagai sebuah gambaran luas. Momen
itulah hari ulang tahun.
Perayaannya dengan sewajarnya,
tidak berlebihan, menerima bertalu-talu doa kebaikan dan keberkatan dari handai
taulan, hingga harapan kebaikan yang disematkan seharusnya tidak menutup mata
kita dari melihat dan mendalami gambaran luas tadi. Jika sampai saja kita dibuat
lupa oleh hal itu, maka ulang tahun tak bernilai sedikit pun dan sama dengan hari-hari
biasanya belaka.
Sementara itu, kita sepakat bahwa
momentum mawas diri tidaklah mesti dihadirkan hanya pada momen ulang tahun. Sebab
kita tahu, dalam ilmu pengalaman mistik, atau biasa disebut tasawuf, kita dianjurkan
untuk mawas diri setiap malam menjelang tidur. Dengan wujudnya mawas diri yang
saban malam kita lakukan, pada gilirannya akan memberikan simpulan-simpulan jelas
bagi diri kita; di mana ada keburukan yang harus dibaikkan dan di mana kebaikan
yang harus ditingkatkan.
Maka untuk melihat simpulan-simpulan
mawas diri itu, hari ulang tahun adalah momentum yang sempurna. Di terminal
inilah kita bisa melihat diri kita lewat cermin-cermin simpulan mawas diri yang
sudah kita lakukan itu.
Demikianlah, usaha mawas diri
atau menjenguk diri sendiri mau tidak mau harus kita lakukan. Bukankah kita
begitu setuju dengan “apa yang buruk harus dilenyapkan. Dan apa yang baik harus
dipertahankan”? Jika saja kita alpa menjenguk diri sendiri saban malam
menjelang tidur, maka jangan heran kenapa momentum hari ulang tahun hampir tak memberikan
arti apa-apa selain hanya kegirangan-kegirangan semu di sosial media atau lewat
hadiah.
Dengan begitu, terminal yang kita
singgahi ini tidaklah mengecewakan diri kita. Bukankah kita berharap kalau
sudah sesak dan berdesak dalam kereta kehidupan maka terminal adalah tempat melegakan
nafas, merehatkan ruh, dan menyegarkan
jiwa?
Aminkan doa-doa mereka untukmu, dan lekaslah jenguk dirimu sendiri. Siapa tahu, dirimu lebih butuh “jabat tanganmu” ketimbang doa-doa orang lain.
Komentar
Posting Komentar