Langsung ke konten utama

Merangsang Semangat Keilmuan

Semua ini gara-gara  Tgk Jazuli   yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide  Baba Shafiya   kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...

Momentum Menjenguk Diri Sendiri

Entah kenapa hari yang satu ini begitu menggembirakan. Tidak semua kita, memang, menantinya. Tetapi, hari itu tetap saja memiliki momentum yang menggairahkan. Sementara kita, bahkan tidak ingat hari lahir. Sebagian kita yang lain, memang "menopang dagu" menunggu hari itu tiba. Bagaimanapun, hari itu tetaplah memiliki keistimewaan bagi kita. Bedanya, hanya sudut pandang keistimewaannya.

Apa yang ditunggu? Dan kenapa hari itu dianggap istimewa?

Sesungguhnya, hari ulang tahun tidak lebih dari sebuah pemberhentian, terminal besar dari perjalanan pendek di dunia. Dari rangkaian demi rangkaian kejadian dalam setahun belakangan kita akan menemukan satu momentum untuk melihatnya sebagai sebuah gambaran luas. Momen itulah hari ulang tahun.

Perayaannya dengan sewajarnya, tidak berlebihan, menerima bertalu-talu doa kebaikan dan keberkatan dari handai taulan, hingga harapan kebaikan yang disematkan seharusnya tidak menutup mata kita dari melihat dan mendalami gambaran luas tadi. Jika sampai saja kita dibuat lupa oleh hal itu, maka ulang tahun tak bernilai sedikit pun dan sama dengan hari-hari biasanya belaka.

Sementara itu, kita sepakat bahwa momentum mawas diri tidaklah mesti dihadirkan hanya pada momen ulang tahun. Sebab kita tahu, dalam ilmu pengalaman mistik, atau biasa disebut tasawuf, kita dianjurkan untuk mawas diri setiap malam menjelang tidur. Dengan wujudnya mawas diri yang saban malam kita lakukan, pada gilirannya akan memberikan simpulan-simpulan jelas bagi diri kita; di mana ada keburukan yang harus dibaikkan dan di mana kebaikan yang harus ditingkatkan.

Maka untuk melihat simpulan-simpulan mawas diri itu, hari ulang tahun adalah momentum yang sempurna. Di terminal inilah kita bisa melihat diri kita lewat cermin-cermin simpulan mawas diri yang sudah kita lakukan itu.

Demikianlah, usaha mawas diri atau menjenguk diri sendiri mau tidak mau harus kita lakukan. Bukankah kita begitu setuju dengan “apa yang buruk harus dilenyapkan. Dan apa yang baik harus dipertahankan”? Jika saja kita alpa menjenguk diri sendiri saban malam menjelang tidur, maka jangan heran kenapa momentum hari ulang tahun hampir tak memberikan arti apa-apa selain hanya kegirangan-kegirangan semu di sosial media atau lewat hadiah.

Dengan begitu, terminal yang kita singgahi ini tidaklah mengecewakan diri kita. Bukankah kita berharap kalau sudah sesak dan berdesak dalam kereta kehidupan maka terminal adalah tempat melegakan nafas, merehatkan ruh, dan  menyegarkan jiwa?

Aminkan doa-doa mereka untukmu, dan lekaslah jenguk dirimu sendiri. Siapa tahu, dirimu lebih butuh “jabat tanganmu” ketimbang doa-doa orang lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Kebiasaan Kita

Tulisan ini akan menjadi sangat penting bagi pembaca yang masih bergelut dengan dunia pendidikan dayah dan semacamnya yang menggunakan kitab turas (kuning) sebagai bahan ajar.      Saat masih menjadi santri--dalam arti status murid—saya sudah diwanti-wanti oleh guru privat saya untuk tidak berburu-buru dalam belajar (mengaji dan mengulang mandiri) kitab. Pun, ketika hendak berubah status menjadi “guru”, saya diwasiatkan untuk menyiapkan bahan ajar dengan benar, betapa pun bahan ajar itu sudah berulang kali diajarkan. Dan seiring waktu, dengan melihat pengalaman dan pengamalan orang lain, serta bacaan yang kian meluas sedikit demi sedikit, adalah apa yang disampaikan guru saya itu benar adanya.       Kebiasaan yang salah, siapapun pelakunya, tetaplah salah. Kita sepakat akan hal ini. Masalahnya adalah ketika kebiasaan-kebiasaan itu lambat laun akan mengakar dan dari alam bawah sadar akan tercipta keyakinan bahwa kebiasaan itulah satu-satunya jalan yang ...

Hibernasi Telah Selesai

Tak kurang 40 hari telah berlalu, menjadi tempo hibernasi bagi kalangan santri. Sebuah ruang waktu kekosongan mengaji yang akan selalu dihasrati oleh mereka. Jika masuk lebih dalam dan lebih jujur, hasrat mereka terhadap hibernasi telah melampaui dari batas normal bagi hakikat penuntut ilmu. Namun, apa boleh buat, begitu sudah tabiat dibentuk oleh lingkungan. Tentu ada banyak hal yang mereka khawatirkan dari habis masa aktif hibernasi; dirampok waktu gembira oleh belajar, ditilap kesempatan scrolling tiktok, dibabat keseruan berlaga para karakter nirnyata. Kekhawatiran itu biasanya akan muncul dalam bentuk, minimalnya, rasa mual dan pusing dalam perjalanan menuju ke Dayah; sebuah perjalanan yang begitu terasa cepat. Kekhawatiran itu dalam sejumlah babak malah diwujudkan dalam bentuk yang mereka lebih tahu. Bagi sebagian mereka, hibernasi tempo hari itu adalah tempo mematikan pikiran ilmiah, hingga tak lagi layak disebut hibernasi. Sebab, pada momen libur, mereka lebih memaknainya se...

Merangsang Semangat Keilmuan

Semua ini gara-gara  Tgk Jazuli   yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide  Baba Shafiya   kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...