Bukan hari ini pertama kalinya ia mengajar materi yang tidak begitu ia minati dan kuasai. Sejak mengasuh dua kelas tetap sekaligus, dalam waktu berbeda, mau tidak mau ia harus mengajar materi itu. Satu kelas masih bersandar pada kurikulum. Satunya lagi tergantung pada peserta didik. Keduanya harus dijelaskan materi dalam disiplin ilmu yang sama; tasawuf. Bukan permulaan juga dalam sehari ia mengajar materi disiplin ilmu yang sama dalam tiga sesi; pagi, siang, dan malam.
Seperti pengajar lainnya, memang
ia hanya berperan menjelaskan teks materi agar dapat dipahami maksud penyusun
teks, agar materi itu—harapannya—dapat diserap semaksimal mungkin. Namun, ini
materi tasawuf. Banyak pengajar yang merasa insecure untuk
mengajarkannya. Alasannya? Sederhana. Diri sendiri masih ‘jancuk’, kok mau
mengajar orang lain soal membenarkan diri.
Insecure ini barangkali
akan senantiasa bersemayam dalam hatinya, bahkan hingga ia meminati disiplin
ilmu itu. Barangkali.
Kok bisa insecure? Ya,
bisalah. Bayangkan saja begini; Anda masih memiliki sifat yang tidak terpuji.
Sebut saja seperti suka membuang-buang waktu. Lalu Anda harus mengajar materi
tentang tercelanya membuang-buang waktu tadi hingga trik mempergunakan waktu
semanfaat mungkin. Anda berusaha memahamkan pendengar dan meyakinkan mereka.
Gawat lagi, sudah berkali-kali Anda menjelaskan materi itu tetapi diri Anda
masih belum berhasil melepaskan diri dari membuang bunga waktu. Nah, loh, kan
jiwa Anda akan menjerit “woi, sibuk nyadarin orang lain. Nah dirimu masih
nyaman sama sifat itu”. Jiwa Anda akan sering terkena 'serangan fajar’
bumerang yang anda lemparkan sendiri.
Anda boleh bertanya, “kalau masih
merasa insecure, kenapa masih mau mengajar materi itu? kan bisa ganti
dengan materi lain?”. Awalnya ia akan mengiyakan tawaran Anda. Baginya, saat
itu, betapa mengajar materi-materi yang sudah dipahami dan dikuasai bahkan
diamalkan lebih aman baginya. Sebagai bentuk jaga-jaga dari “jangan mengajarkan
orang lain ilmu yang belum kamu amalkan”.
Namun, satu kali ia menemui
seorang ahli hati (sebagai sebutan bagi
ulama sepuh berspesialis tasawuf). Ia menyoalkan begini “bagaimana nasib
pengajar yang masih melakukan maksiat, di saat yang sama mengajarkan orang lain
untuk tidak maksiat? Adakah doa-doa khusus yang bisa Tuan berikan untuk
diamalkan?”. “Cukup amalkan dzikir-dzikir selesai salat dengan istiqamah”,
jawab lugas dari beliau.
Hening. Hanya suara-suara
tamu-tamu lain meneguk minuman.
Belum terjawab yang pertama, ia
tegaskan sekali lagi tanyanya, “lalu perannya sebagai pengajar dalam keadaan ia belum
bisa move on dari maksiat bagaimana dong?”. Beliau, sebagaimana adatnya
suka tersenyum renyah, menyambut soal itu dengan senyum yang menampakkan
gigi-gigi putih belakangnya, lalu mengeluarkan statement yang berhasil membuat
penanya meragukan jawaban itu, “teruslah mengajar. Jangan berhenti hanya gegara
itu. Soal menjadi baik dan lebih baik, selaras dengan apa yang diajarkan, nanti
juga akan seumaloe (terpengaruh) dengan sendirinya”.
Jawaban itu, sedikit banyak memang
meragukannya. Butuh waktu lama untuk meyakinkan dirinya sendiri dengan jawaban
itu. Hingga tiba waktunya, benar belaka jawaban itu. Kini, walau tidak
signifikan, ia berhasil mengubah dirinya dalam mengelola waktu yang sudah
berulang kali ia teriak-jelaskan dalam majelis-majelisnya.
Memang, banyak hal di dunia ini yang hanya soal waktu.
Komentar
Posting Komentar