Secara spontan, dari paling belakang kedai kopi biasa saya duduki, saya mengendus bau begitu laknat. Memang dekat dengan wc meja kami, tapi saya haqqul yakin itu bukan bau buangan manusia. Apalagi binatang. Meski itu bangkai, saya duga itu bangkai syaitan.
Tidak lama memang, tapi itu memacu membran otak saya untuk mengulik khazanah alam pikiran tentang bau busuk. Ini yang saya temukan: katakanlah ini cuma bau bangkai paling buruk. Setingkat itu saja mampu membuat makanan yang dirasa akan ditinggalkan. Pernah mendengar petuah bijak bestari “coba saja aib-aib manusia bisa dibaui mungkin sekali satu dengan lain akan saling menjauhi”.
Aha! Terhadap satu ini, saya berusaha membandingkan dengan bau busuk ya’juj ma’juj yang katanya bau mereka saat itu hanya bisa dihilangkan dengan hujan selama setahun(?). Saya kira, aib saya, anda, dia, kita dan mereka, andai bisa diabaui pasti lebih dari bau bangkai mereka.
Kita hanya sepasang kaki yang mondar-mandir sana kemari, yang dalam setiap tindak tanduk berupaya menutup aib-aib cela nun jauh dalam di sana. Memang, atas kesadaran penuh kita ‘mampu’ menghijabkan aib. Padahal, di sana, ada Sang Penutup. Penutup aneka buruk. Penghijab bermacam cela. Maka terpujilah para cendikiawan yang mengajarkan untuk terus berdoa Allahumma ustur ‘uyubana bi sitrikal jamil, “Ya Tuhan, hijabkan lah aib kami dengan tutupanMu yang elok”.
Komentar
Posting Komentar