![]() |
| Waled Ummul Ayman dalam satu kesempatan sedang melayani tamu di sela-sela aktifitas membaca. |
Barangkali membaca tidak pernah benar-benar mudah. Bagi sebagian kita, sering kali ia menampakkan wajah yang melelahkan, membosankan. Padahal membaca adalah aktifitas yang tidak pernah benar-benar bisa ditinggalkan, mulai keluar dari rahim hingga malaikat maut menyambangi.
Sementara itu, berawal dari kenyataan saya sebagai seorang santri, dalam perjalanan intelektual, pada satu ketika menyadari bahwa membaca itu lebih dari aktifitas biasa. Lebih dari membaca dunia. Bahkan bukan lagi sebagai profesi sekalipun, kalau ada.
Awalnya pertanyaan “untuk apa membaca?”, “kenapa harus sering membaca?” berhasil membuat saya menghabiskan waktu menemukan jawabannya. Lebih ke belakang lagi, pertanyaan itu muncul saat guru saya tidak pasai menyuruh untuk mengulang dan membaca sendiri di kamar. Jawabannya saya peroleh kemudian, bahwa agar mengubah kegiatan membaca menjadi bagian diri kita sendiri. Karena menjadikan membaca sebagai jati diri itu amat runyam. Ia harus dididik sedini mungkin agar bisa bertahan hingga mati.
Pada kemudian saya menyadari membaca itu bukan hanya pada usia belia. Membaca, makin dididik hingga menjadi jati diri, ia akan menemani masa tua. Saya menyaksikannya. Dengan haqqul yakin, membaca itu telah menjadi aktifitas bagi orang-orang, yang saya duga kuat, pada usia belianya cukup sering membaca.
Tanpa melihat jabatan atau profesi seorang yang sudah lanjut usia, membaca sudah menjadi darah daging bagi “guru” saya. Sempat mengalami sakit stroke selama 7 tahun lebih. Namun, siapa duga, dalam usaha menggali ingatan-ingatan usang dan mengakali kesepian beliau membaca kitab Itthaf Sadatil Muttaqin syarahan Ihya ulumiddin hingga 7 jilid. Ya, hingga tujuh jilid.
Dalam pada itu, kondisi usia tua memang memengaruhi kecakapan membaca. Namun, agaknya semangat dan naluri membaca yang telah disemai sejak bibit, betapapun buruk kondisi di usia senja, tidak dengan enteng merobohkan tabiat itu.
Selebihnya hal itu kembali pada tangan kita. Saya sendiri mencoba membayangkan apa jadinya saya di usia yang sudah tidak “terik” lagi. Bayangan saya, saat semua sanak keluarga tinggal jauh. Pekerjaan berkebun. Tubuh sudah lemah. Pikiran tidak seperkasa dulu. Apa yang tersisa bagi saya selain semangat dan naluri membaca yang sedang saya pupuki akhir-akhir ini?
Begitulah, apa yang telah saya peroleh dari penglihatan jelas selama ini makin meyakinkan saya membaca itu bukan hanya sekedar hobi. Ia adalah kehidupan.

Komentar
Posting Komentar