Langsung ke konten utama

Merangsang Semangat Keilmuan

Semua ini gara-gara  Tgk Jazuli   yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide  Baba Shafiya   kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...

Membaca dan Hidup Dengannya

Waled Ummul Ayman dalam satu kesempatan sedang melayani tamu di sela-sela aktifitas membaca.

Barangkali membaca tidak pernah benar-benar mudah. Bagi sebagian kita, sering kali ia menampakkan wajah yang melelahkan, membosankan. Padahal membaca adalah aktifitas yang tidak pernah benar-benar bisa ditinggalkan, mulai keluar dari rahim hingga malaikat maut menyambangi.


Sementara itu, berawal dari kenyataan saya sebagai seorang santri, dalam perjalanan intelektual, pada satu ketika menyadari bahwa membaca itu lebih dari aktifitas biasa. Lebih dari membaca dunia. Bahkan bukan lagi sebagai profesi sekalipun, kalau ada.


Awalnya pertanyaan “untuk apa membaca?”, “kenapa harus sering membaca?” berhasil membuat saya menghabiskan waktu menemukan jawabannya. Lebih ke belakang lagi, pertanyaan itu muncul saat guru saya tidak pasai menyuruh untuk mengulang dan membaca sendiri di kamar. Jawabannya saya peroleh kemudian, bahwa agar mengubah kegiatan membaca menjadi bagian diri kita sendiri. Karena menjadikan membaca sebagai jati diri itu amat runyam. Ia harus dididik sedini mungkin agar bisa bertahan hingga mati.


Pada kemudian saya menyadari membaca itu bukan hanya pada usia belia. Membaca, makin dididik hingga menjadi jati diri, ia akan menemani masa tua. Saya menyaksikannya. Dengan haqqul yakin, membaca itu telah menjadi aktifitas bagi orang-orang, yang saya duga kuat, pada usia belianya cukup sering membaca. 


Tanpa melihat jabatan atau profesi seorang yang sudah lanjut usia, membaca sudah menjadi darah daging bagi “guru” saya. Sempat mengalami sakit stroke selama 7 tahun lebih. Namun, siapa duga, dalam usaha menggali ingatan-ingatan usang dan mengakali kesepian beliau membaca kitab Itthaf Sadatil Muttaqin syarahan Ihya ulumiddin hingga 7 jilid. Ya, hingga tujuh jilid.


Dalam pada itu, kondisi usia tua memang memengaruhi kecakapan membaca. Namun, agaknya semangat dan naluri membaca yang telah disemai sejak bibit, betapapun buruk kondisi di usia senja, tidak dengan enteng merobohkan tabiat itu.


Selebihnya hal itu kembali pada tangan kita. Saya sendiri mencoba membayangkan apa jadinya saya di usia yang sudah tidak “terik” lagi. Bayangan saya, saat semua sanak keluarga tinggal jauh. Pekerjaan berkebun. Tubuh sudah lemah. Pikiran tidak seperkasa dulu. Apa yang tersisa bagi saya selain semangat dan naluri membaca yang sedang saya pupuki akhir-akhir ini?


Begitulah, apa yang telah saya peroleh dari penglihatan jelas selama ini makin meyakinkan saya membaca itu bukan hanya sekedar hobi. Ia adalah kehidupan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Kebiasaan Kita

Tulisan ini akan menjadi sangat penting bagi pembaca yang masih bergelut dengan dunia pendidikan dayah dan semacamnya yang menggunakan kitab turas (kuning) sebagai bahan ajar.      Saat masih menjadi santri--dalam arti status murid—saya sudah diwanti-wanti oleh guru privat saya untuk tidak berburu-buru dalam belajar (mengaji dan mengulang mandiri) kitab. Pun, ketika hendak berubah status menjadi “guru”, saya diwasiatkan untuk menyiapkan bahan ajar dengan benar, betapa pun bahan ajar itu sudah berulang kali diajarkan. Dan seiring waktu, dengan melihat pengalaman dan pengamalan orang lain, serta bacaan yang kian meluas sedikit demi sedikit, adalah apa yang disampaikan guru saya itu benar adanya.       Kebiasaan yang salah, siapapun pelakunya, tetaplah salah. Kita sepakat akan hal ini. Masalahnya adalah ketika kebiasaan-kebiasaan itu lambat laun akan mengakar dan dari alam bawah sadar akan tercipta keyakinan bahwa kebiasaan itulah satu-satunya jalan yang ...

Hibernasi Telah Selesai

Tak kurang 40 hari telah berlalu, menjadi tempo hibernasi bagi kalangan santri. Sebuah ruang waktu kekosongan mengaji yang akan selalu dihasrati oleh mereka. Jika masuk lebih dalam dan lebih jujur, hasrat mereka terhadap hibernasi telah melampaui dari batas normal bagi hakikat penuntut ilmu. Namun, apa boleh buat, begitu sudah tabiat dibentuk oleh lingkungan. Tentu ada banyak hal yang mereka khawatirkan dari habis masa aktif hibernasi; dirampok waktu gembira oleh belajar, ditilap kesempatan scrolling tiktok, dibabat keseruan berlaga para karakter nirnyata. Kekhawatiran itu biasanya akan muncul dalam bentuk, minimalnya, rasa mual dan pusing dalam perjalanan menuju ke Dayah; sebuah perjalanan yang begitu terasa cepat. Kekhawatiran itu dalam sejumlah babak malah diwujudkan dalam bentuk yang mereka lebih tahu. Bagi sebagian mereka, hibernasi tempo hari itu adalah tempo mematikan pikiran ilmiah, hingga tak lagi layak disebut hibernasi. Sebab, pada momen libur, mereka lebih memaknainya se...

Merangsang Semangat Keilmuan

Semua ini gara-gara  Tgk Jazuli   yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide  Baba Shafiya   kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...