Langsung ke konten utama

Merangsang Semangat Keilmuan

Semua ini gara-gara  Tgk Jazuli   yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide  Baba Shafiya   kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...

Memahami Cinta Menjelmakan Makna (Bagian Satu)

Tahun lalu saya cukup bersyukur. Seorang teman yang sedang menyelami lautan ilmu di negeri Fir'aun menghibahkan satu buku, yang tidak saya sangka itu yang bakal diberikannya, bertema cinta. Setahun sudah saya mengejanya dengan tertatih, walau belum kunjung khatam, tapi saya tiba pada beberapa kesimpulan. Minimalnya, saya cukup paham soal cinta di atas kertas, walau dalam aksi nyata beberapa kali pernah terpuruk juga. 
Demikian, karena keterbatasan kualitas dan daya untuk menerjemahkan, hendak hati saya mencoba menyimpulkan beberapa ikatan dari kitab tersebut yang sudah saya eja, untuk kemudian kita rajut menjadi satu bacaan yang renyah.



Kita telah sepakat bahwa antara aneka hal yang belum tersingkapi hijab hakikatnya adalah cinta. Bukan hanya cinta, banyak hal lain yang belum diketahui hakikatnya. Namun soal cinta, karena ia kerap bersentuhan dengan kehidupan, ia begitu pelik untuk tidak dipisahkan dan tidak dipahami. Cinta dengan segenggam tafsirannya membuat antara kita tak kunjung bosan merasakan, membahas, menumbuhkan, menguatkan dan menciptakan cinta.
Karena itulah Syaikh Abi al-Abbas Ahmad Zaruq dalam Qawaid Tasawuf mengetengahkan:

الإِخْتِلَافُ فِى الحَقِيْقَةِ الوَاحِدَةِ إِنْ كَثُرَ دَلَّ عَلَى بُعْدِ إِدْرَاكِ جُمْلَتِهَا
"Banyak perbedaan pada satu hakikat menunjukan sesuatu itu jauh untuk dipahami keseluruhannya"

Itulah cinta dengan balutan hakikatnya menjadikan ia tidak pernah pasai didengar, dibaca, bahkan dirasa. Setiap usaha mendengarkan, membaca, dan merasakannya adalah upaya untuk mengetahuinya. Seperti apa ia? Apa yang ia perlukan? Apakah ia menjadi wajah buruk rupa bagi pecinta? Atau justru ia keindahan yang tak habis dirangkul? 

Mari sedikit demi sedikit kita menyelaminya, jaga-jaga agar tidak tenggelam, lewat pemahaman yang oleh Syekh Sa'id Ramadhan al-Buthti menguraikan dalam satu karya akbar bertajuk "al-Hubbu fil al-Quran Wa Dauru al-Hubbi Fii Hayati al-Insan"(Cinta dalam al-Quran dan perannya dalam kehidupan manusia), kita akan menguyahnya demi sedikit.

Tidak sedikit para cendikiawan, intelektual sufi, dan bahkan para sastrawan menawarkan definisi cinta. Bahkan Syaikh Sa'id menyebutkan ketika mendeskripsikan cinta bahwa belum didapatkan definisi cinta yang kokoh dan mantap. Namun definisi berikut hampir mendekati kesempurnaan:
الحُبُّ هُوَ التَعَلُّقُ بالشَّيْء عَلَى وَجْهِ الإِسْتِئْنَاسِ بِقُرْبِهِ وَالإِسْتِيْحَاشِ مِنْ بُعْدِهِ

"Cinta adalah terpaut(hati) dengan sesuatu dimana merasa senang ketika dekat dengannya dan bengis(benci) ketika berjauhan dengannya."

Masih menurut Syaikh Buthi, defini tersebut hanyalah berlaku pada cinta sesama makhluk. Sedangkan cinta yang ada pada Allah, sebagai kerap tereja dalam Quran, tidaklah benar mendefinisikannya seperti di atas. Hal ini karena Allah tidak bersifat benci dan senang sebagaimana ada pada makhluk. Hingga pengalamatan sifat cinta pada Allah adalah sebagaimana Ia katakan. Soal ini akan lebih berliku. Maka sepantasnya akan kita bahas pada kesempatan dan tempat lain.

Dengan definisi cinta seperti di atas, bolehlah kita memahami bahwa cinta hanya menghendaki hubungan dengan sesuatu itu dimana tidak merasa senang hati ketika berjauhan dan gembira ketika dekat dengannya, hanya itu, tidak lebih. Maka sampai di sini kita paham bahwa cinta itu selalu sederhana. Yang runyam hanya imbas darinya, hanya penafsiran kelewatan para pecinta.

Kita tahu betul juga dari definisi di atas bahwa beberapa perkara yang harus wujud untuk disebut sebagai cinta ada tiga; pecinta, cinta, yang dicintai. Hanya dengan itu kita bisa paham bahwa cinta tidak menuntut untuk memiliki yang dicintai. Walau memang disebutkan dalam definisi "dekat"-"jauh", tapi itu tidak serta merta memberi celah memahami cinta itu harus memiliki apa yang dicintai.

Sementara itu, harapan, syarat dan alasan yang kerap mencacati kekudusan cinta tidak kita pahami, dan seharusnya begitu, dalam definisi cinta. Cinta yang bersih dari aib-aib itu pada gilirannya, paling kurang, tidak akan membuat pecinta menyesali cinta itu sendiri. Kita bisa meraba dan melihat dampak dari cinta yang disusupi cela-cela itu, pada waktunya akan rusak, kalau bukan mati. Hingga syarat, alasan dan asa yang dibarengi dalam cinta hanya akan mewujudkan cinta yang tidak ramah sama sekali. Sebab ketika itu, kontan cinta menjadi hawa nafsu.

Demikianlah, cinta yang oleh Syekh Sa'id Ramadhan al-Buthti mendefinisikannya tidaklah menafikan definisi-definisi cinta yang lain. Meski pun ada, dengan melihat kepada kodrat cinta di sisi Allah, ia tidak mungkin membawa kemudharatan kalaulah dipahami dan diinsafi dengan jujur dan kreatif.

Bahwa, sekali lagi, definisi cinta yang telah diuraikan tidak berlaku adanya pada Allah. Sebab Allah bersih dan terlepas dari rasa-rasa seperti yang ada pada manusia. Untuk itu kita akan menelaahnya pada kesempatan nanti.

Bersambung...


Bagi yang hendak membaca kitab tersebut silakan unduh lewat link berikut:

Komentar

  1. That's great!
    Bisa disebut(cinta) itu sebuah gumparan hakikat, Gus?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maksud saudara dengan gumparan adalah gumpalan, bukan? Bila begitu, iya, ia adalah sebongkah hakikat yang dibusanai dengan aneka tafsiran.

      Hapus
    2. Nah, demikian tepatnya. Gumpalan.
      Maka siapa yang salah menafsirkan digolongkan kaum durhaka tidak?
      Atau melanjutkan selayak mana madzhabnya tersendiri?

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Kebiasaan Kita

Tulisan ini akan menjadi sangat penting bagi pembaca yang masih bergelut dengan dunia pendidikan dayah dan semacamnya yang menggunakan kitab turas (kuning) sebagai bahan ajar.      Saat masih menjadi santri--dalam arti status murid—saya sudah diwanti-wanti oleh guru privat saya untuk tidak berburu-buru dalam belajar (mengaji dan mengulang mandiri) kitab. Pun, ketika hendak berubah status menjadi “guru”, saya diwasiatkan untuk menyiapkan bahan ajar dengan benar, betapa pun bahan ajar itu sudah berulang kali diajarkan. Dan seiring waktu, dengan melihat pengalaman dan pengamalan orang lain, serta bacaan yang kian meluas sedikit demi sedikit, adalah apa yang disampaikan guru saya itu benar adanya.       Kebiasaan yang salah, siapapun pelakunya, tetaplah salah. Kita sepakat akan hal ini. Masalahnya adalah ketika kebiasaan-kebiasaan itu lambat laun akan mengakar dan dari alam bawah sadar akan tercipta keyakinan bahwa kebiasaan itulah satu-satunya jalan yang ...

Hibernasi Telah Selesai

Tak kurang 40 hari telah berlalu, menjadi tempo hibernasi bagi kalangan santri. Sebuah ruang waktu kekosongan mengaji yang akan selalu dihasrati oleh mereka. Jika masuk lebih dalam dan lebih jujur, hasrat mereka terhadap hibernasi telah melampaui dari batas normal bagi hakikat penuntut ilmu. Namun, apa boleh buat, begitu sudah tabiat dibentuk oleh lingkungan. Tentu ada banyak hal yang mereka khawatirkan dari habis masa aktif hibernasi; dirampok waktu gembira oleh belajar, ditilap kesempatan scrolling tiktok, dibabat keseruan berlaga para karakter nirnyata. Kekhawatiran itu biasanya akan muncul dalam bentuk, minimalnya, rasa mual dan pusing dalam perjalanan menuju ke Dayah; sebuah perjalanan yang begitu terasa cepat. Kekhawatiran itu dalam sejumlah babak malah diwujudkan dalam bentuk yang mereka lebih tahu. Bagi sebagian mereka, hibernasi tempo hari itu adalah tempo mematikan pikiran ilmiah, hingga tak lagi layak disebut hibernasi. Sebab, pada momen libur, mereka lebih memaknainya se...

Merangsang Semangat Keilmuan

Semua ini gara-gara  Tgk Jazuli   yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide  Baba Shafiya   kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...