Semua ini gara-gara Tgk Jazuli yang menggoda saya untuk melangkah pada jejak beliau. Dan, saya pun akhirnya termakan godaan beliau. Karena memang kala itu, sekitar 3 tahun lampau, pekerjaan menahkik manuskrip belumlah sesemarak belakangan ini, jadilah saya benar-benar ingin melakukan itu. Kala itu saya paham, ada beberapa perangkat ilmu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan Tahqiq dengan benar, bagus, dan baik. Misalnya, ilmu khat, ilmu bahasa Arab, dan ilmu rasm. Semua itu saya dapatkan dengan bantuan dan arahan beliau. Serta kedatangan Syeikh Anas, salah seorang yang paling handal dalam dunia Tahqiq, pada pertengahan tahun lalu turut menjadi pendukung pemantapan niat saya untuk terus melakukannya. Tak hanya itu, ide Baba Shafiya kala itu untuk mengajak sejumlah pelajar Dayah untuk melakukan Tahqiq bersama di bawah naungan Majma’ Ahmad Shaqar pun turut membuat saya makin berhasrat, meskipun hingga kini Majma' itu masih belum muncul ke permukaan. Sebelum saya ...
Sedang-sedang Rasulullah duduk hari itu, ‘Amru bin ‘Ash meriwayatkan, membacakan ayat 36 surat Ibrahim dan melanjutkan dengan ayat 118 surat al-Maidah. Kedua ayat itu berbicara tentang doa para Nabi kepada umatnya;yang pertama pengaduan Nabi Ibrahim akan sebagian besar umatnya telah sesat hingga beliau merayu Allah bahwa siapa yang mengikutinya maka mereka termasuk golongannya, sedangkan yang mengingkari agar kiranya Allah ampunkan mereka;yang kedua doa Nabi isa yang berisi “bila Engkau mengazab mereka(umatku) adalah mereka hambaMu. Bila Engkau ampunkan maka itu karena Engkau Maha Tinggi lagi Bijaksana”.
Tanpa tempo, ‘Amru bin ‘Ash melanjutkan, Rasulullah menadahkan tangannya seraya mengiba “Ya Allah...umatku, umatku, umatku” air mata jatuh berbarengan dengan doa. Lalu Allah berkata kepada Malikat Jibril “Jibril, coba kau sambangi kekasihKu(padahal Allah sudah tahu), tanyakan padanya, apa sebab ia begitu mengiba dan menangis?”. Sejurus kemudian Malaikat jibril berjumpa Rasulullah dan memberi pertanyaan yang dibawanya. Lalu Rasulullah menjawab “Umatku wahai jibril, Umatku, bagaimana nanti umatku?”. Lalu Allah mengatakan kepada jibril “Katakan kepadanya bahwa Kami meridhai umatmu dan tidak akan mengecewakanmu dan umatmu”.
Demikianlah, itu hanya baru satu riwayat tentang besar perhatiannya kepada umat. Di sana terlihat jelas bagaimana Rasulullah mengasihi umat dengan begitu sempurna. Seolah ia tidak mau umatnya tidak diridhai oleh Allah, kalau bukan ia enggan Allah akan mengazab mereka , sebagaimana yang terungkap dalam doa Nabi Ibrahim dan Nabi Isa.
Allah lebih dulu tahu kebesaran dan keluhuran cinta, perhatian, rasa simpati, rasa mementingkan umatnya. Sampai-sampai Allah mengatakan kepada Rasulullah “Wahai Muhammad, bila engkau mau Aku ‘kan menyerahkan segala urusan umatmu kepadamu seorang”. Bisa tebak apa jawaban Rasulullah? Apa beliau akan menjawab “Boleh, Ya Allah” sebab begitu agung cinta kepada umatnya? Tidak, sodara/i sekalian. Lalu apa jawabanya? Beliau menjawab “Tidak, Ya Allah. Sungguh Engkau lebih menyayangi mereka daripada aku. Aku ini makhluk, aku bisa berubah-ubah. Sedangkan engkau zat yang qadim, tetap. Aku ini saudara bagi mereka, sedangkan Engkau Tuhan mereka. Maka tentulah kasih sayang saudara tak berbanding lurus sama sekali dengan kasih sayang Tuhan”.
Nah lho, jelas lagi terang bagaimana kecerdikan—yang tak lain ialah sebagian dari rahmat Allah— Rasulullah dalam mencintai. Ia sadar akan ke-manusia-an dirinya. Ia betul ingat bahwa rahmat Allah lebih luas, merangkul siapa saja dan apa saja. Maka dengan tenang dan kelegaan hati menyerahkan urusan umat kepada Sang Empunya segala rasa, Sang Empunya segala urusan.
Barangkali, inilah cinta tanpa buta dan tak pernah mati.
Tabik,
Komentar
Posting Komentar