Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2019

Sumber Kutipan Turas; Bukti Daya Jangkau Ilmu

     Sudah dua pekan membran otak saya riuh tak berkesudahan. Penyebabnya sederhana, kutipan langsung yang dibubuhkan penulis kitab belum lagi saya temukan. Antara kesal dan bingung lah otak menari. Tarian itu makin menjadi ketika tiga hari sebelumnya saya menghadapi hal yang sama. Dan kian tajam ketika malam ini saya mengalami hal serupa.      Dalam penulisan kitab, wabil khusus kitab babon Turas, kutip-mengutip pendapat adalah kebiasaan. Hanya saja, terdapat perbedaan dalam teknik mengutip penulis kontemporer. Penulis kitab Turas, setelah mengutip pendapat orang lain secara langsung atau bukan, seringkali hanya menyebut nama penulis yang dikutip. Tak jarang juga disertai judul kitabnya sekalian. Dan sering juga hanya dipadai dengan judul kitab saja ketika penulis kitab itu sudah terlalu masyhur dengan kitabnya. Jangan tanya halaman dan jilidnya. Tidak ada itu.      Dalam pada itu, belakangan ini, ketika saya sedang melakukan pelacakan kutip...

Jangan Menyawah Dengan Gigi

Untuk menerangi sikap orang yang suka bertanya “Dalilnya mana?” Masalah ini sudah lama terpenjara di pikiran saya. Tetapi saya tidak ingin buru-buru membahasnya, saya ingin mengeraminya lebih dulu agar ketika menetas dalam bentuk tulisan ia tidak akan koem. Sebagai muslim dan mukmin yang budiman tentunya dalam beragama kita telah lebih dahulu tahu menahu dan menyadari bahwa sesungguhnya dalam beragama kita membutuhkan ilmu yang memadai/fardhu ain. Tanpa itu kita akan buta, praktek keagamaan kita amburadul tak karuan. Sebab itu banyaklah dari kita umat muslim belajar agama, di samping selaras dengan kewajiban dan kewajaran. Ketika belajar agama ada sebagian kecil dari kita yang terus mendalami agama, menyelami mencari mutiara-mutiara ajaran. Sedangkan sisanya yang banyak mencukupi diri dengan ilmu seadanya untuk beramal. Sedangkan di sana ada juga manusia lain yang hanya mengetahui ajaran agama dengan mengikuti pengajian di satu majelis ta’lim ke majlis ta’lim lainnya. ...

Kalau Mudah Bukan Ilmu Namanya

Kadang-kadang ketika diri tak paham-paham apa yang dibaca, didengar dan dilihat saya merasa hampir putus asa. Atau, bisa-bisa ketika mendengar dan membaca hebat keilmuan seseorang saya merasa ingin menjadi seperti dia. Untuk kedua kadang-kadang itu belakangan ini padahal cukup kuat saya tolak kewujudannya. Setiap kala perasaan pesimis dan putus asa untuk memahami mampir saya bergegas mencampakinya jauh ke seberang lautan, saya gesitkan membuangnya ke tong sampah yang tak bisa didaur ulang. Bagaimana tidak? Saya kerap membangunkan diri saya bahwa memahami itu butuh waktu yang lama. Memahami apa saja butuh waktu. Lama atau tidak itu tergantung apa yang dipahami dan tekad yang bersemayam dalam hati. Memahami rasa si doi misalnya, itu butuh waktu yang tidak lama. Asal percaya dan mau dalam detik itu juga saya bisa memahami rasa dia kepada saya. Namun, saya menertawakan diri saya ketika memahami ilmu. Saya sudah tahu menahu bahwa ilmu itu butuh waktu yang lama untuk saya pah...

Cinta Tanpa Buta

Sedang-sedang Rasulullah duduk hari itu, ‘Amru bin ‘Ash meriwayatkan, membacakan ayat 36 surat Ibrahim dan melanjutkan dengan ayat 118 surat al-Maidah. Kedua ayat itu berbicara tentang doa para Nabi kepada umatnya;yang pertama pengaduan Nabi Ibrahim akan sebagian besar umatnya telah sesat hingga beliau merayu Allah bahwa siapa yang mengikutinya maka mereka termasuk golongannya, sedangkan yang mengingkari agar kiranya Allah ampunkan mereka;yang kedua doa Nabi isa yang berisi “bila Engkau mengazab mereka(umatku) adalah mereka hambaMu. Bila Engkau ampunkan maka itu karena Engkau Maha Tinggi lagi Bijaksana”. Tanpa tempo, ‘Amru bin ‘Ash melanjutkan, Rasulullah menadahkan tangannya seraya mengiba “Ya Allah...umatku, umatku, umatku” air mata jatuh berbarengan dengan doa. Lalu Allah berkata kepada Malikat Jibril “Jibril, coba kau sambangi kekasihKu(padahal Allah sudah tahu), tanyakan padanya, apa sebab ia begitu mengiba dan menangis?”. Sejurus kemudian Malaikat jibril berjumpa Rasulullah ...